Wawancara Khusus Ayana Moon: Kisah Selebgram Korea Menjadi Mualaf

Gresnia Arela Febriani - wolipop Minggu, 24 Mei 2020 12:20 WIB
Ayana Jihyee Moon berbagi cerita tentang perjalalannya menjadi seorang mualaf. (Foto: instagram @xolovelyayana) Ayana Jihyee Moon berbagi cerita tentang perjalalannya menjadi seorang mualaf. (Foto: instagram @xolovelyayana)

Bagaimana dengan reaksi teman-temanmu?

Mereka bilang aku sangat gila. Aku jelas terlahir dari keluarga kelas menengah atas dan berpendidikan. Aku juga dikelilingi orang-orang elite. Aku bisa mendapatkan prestasi yang baik dan masa depanku terlihat cerah. Tapi di Korea, ketika kamu memutuskan masuk Islam, kamu bisa kehilangan segalanya.

Teman-temanku melihatku dan mengatakan, 'kenapa aku belajar keras dengan hanya tidur 4-5 jam sehari, untuk apa, aku akan kehilangan segalanya karena pilihanku yang salah.'

Tapi mereka tidak punya niat buruk. Mereka menyanyangiku sehingga mereka khawatir, itulah kenapa mereka begitu. Dan mereka tetap temanku, terlepas dari apapun.



Baru-baru ini kamu merilis buku 'Ayana Journey to Islam', ada alasan kenapa kamu menulis kisah kamu?


Karena aku suka membaca. Dan aku tahu sekarang ini orang-orang lebih suka menonton daripada membaca. Mereka lebih suka ada di depan kamera daripada menulis cerita. Sedangkan aku masih percaya diri untuk menulis di kertas dengan pulpen.

Karena aku juga dulu sempat hidup susah tanpa dukungan finansial dari orangtua, jadi aku paham kenapa kita harus peduli pada orang lain. Jadi aku memutuskan untuk menyumbangkan sebagian penjualan bukuku. Dengan membeli buku Ayana Journey to Islam, otomatis bersedekah.

-----

Dalam bukunya, 'Ayana: Journey to Islam', Ayana Jihyee Moon yang memiliki followers di Instagram lebih dari 3 juta itu berbagi dengan detail perjalanannya menjadi mualaf. Ayana mengungkapkan keluarga dari sisi ayahnya cukup berpengaruh terhadap dunia politik, kakeknya pun merupakan sosok yang berpendidikan tinggi dan berpengetahuan luas.

"Keluarga kami memang memiliki banyak kolega dan kenalan dari luar negeri untuk bisnisnya. Salah satunya dari pamanku bahkan sempat berbisnis di Indonesia. Aku ingat mereka sering bercerita tentang perempuan-perempuan muslim dan bagaimana mereka berpakaian. Aku rasa itu adalah kali pertama dalam hidupku punya kesadaran tentang konsep agama. Semakin banyak yang diceritakan oleh kakek dan pamanku, aku semakin penasaran. Aku mencoba membaca buku, menenton berita atau dokumenter, browsing di internet untuk mengetahui budaya Islam. Saat itu berita dan artikel tentang Islam dan Timur Tengah masih jarang ditulis dalam bahasa Korea. Aku harus berusaha mencari dalam bahasa Inggris meskipun kemampuanku masih sangat minim," tulisnya dalam buku.

Saat duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP), pemilik akun Instagram @xolovelyayana itu mempelajari Islam dengan usahanya sendiri. "Suatu hari aku menemukan buku-buku tentang studi Islam di Korea yang ditulis oleh seorang profesor. Aku pun membaca semua buku yang ditulisnya, dan bahkan mulai mengikuti acara seminar atau kuliah umum yang menampilkan profesor itu sebagai pembicara. Karena masih SMP, saat itu aku belum terlalu berani untuk ikut berdiskusi dengan orang dewasa di acara-acara tersebut. Ketika aku SMA, aku memutuskan untuk bertemu dengan profesor itu dan memperkenalkan diri sebagai penggemarnya. Sejak saat itu aku mulai berpikir bahwa aku akan memperdalam studi tentang Islam," tulis Ayana.

Selanjutnya
Halaman
1 2 3