Sukses Gelar Fashion Show Busana Modest, Hijabers Indonesia Ini Dipuji D&G

Silmia Putri - wolipop Sabtu, 11 Mei 2019 11:06 WIB
Duo desainer asal Italia, Domenico Dolce dan Stefano Gabbana. Foto: Getty Images Duo desainer asal Italia, Domenico Dolce dan Stefano Gabbana. Foto: Getty Images

Jakarta - Franka Soeria menjadi salah satu hijabers Indonesia yang dikenal di mancanegara. Pemilik platform Think Fashion itu sukses menyelenggarakan acara bergengsi seperti London Modest Fashion Week, Dubai Modest Fashion Week, Istanbul Modest Fashion Week, hingga Jakarta Modest Fashion Week.

Keberhasilan Franka Soeria menggelar Jakarta Modest Fashion Week pertengahan 2018, terdengar hingga ke berbagai negara. Banyak media internasional datang dan meliput acara yang dihelat di Gandaria City, Jakarta Selatan ini.

Kabar tersebut terdengar hingga ke pihak label fashion ternama Dolce & Gabbana. Franka pun diundang ke salah satu acara private show untuk mengobrol langsung dengan perwakilan Dolce & Gabbana.

"Kemarin kita sempat diundang D&G, di acara private show-nya. Dia ingin kenal juga, ingin tahu. Yang paling senang itu dia bilang profesional banget, worldclass, acara di Jakarta, style-nya juga diverse," tutur Franka kepada Wolipop, pada acara Jakarta Ramadan, Kamis (9/5/2019) di Plaza Indonesia, Jakarta Pusat.
Sukses Gelar Fashion Show Busana Modest, Hijabers Indonesia Ini Dipuji D&GFranka Soeria. Foto: Silmia Putri/Wolipop

Franka mengaku tak menyangka acara Jakarta Modest Fashion Week mendapat perhatian dari berbagai negara. Menurutnya, penerimaan acara tersebut di mata dunia karena para desainer yang menunjukkan karya universal.

"Yang kita pikir, Indonesia itu creative, diverse, inovatif, itu memang bener. Kita harus membungkusnya begitu. Jangan terlalu berat. Busana yang ditampilkan di acara internasional itu harus universal," terang wanita 37 tahun ini.

Lebih lanjut lagi, pendiri e-commerce Markamarie ini mengungkap modest fashion tidak memiliki global trend forecast. Setiap negara menerjemahkan tren busana muslim sesuai dengan gaya masing-masing.
Itu yang menjadi kendala para desainer Indonesia masuk ke pasar global. Menurut Franka, banyak desainer Indonesia yang masih mengedepankan style atau seni dalam busana muslim. Sementara busana muslim di luar negeri itu lebih mengutamakan fungsi.

"Di luar negeri, mereka jual sesuatu yang memang dibutuhkan, dipakai, yang sifatnya fungsional," terang Franka.

Untuk itu, Franka mengajak para pelaku fashion untuk bersama-sama membuat produk yang lebih kreatif dan universal untuk 'mencuri' perhatian pasar global. Hal ini dilakukan untuk menjadi pintu gerbang, menuju mimpi Indonesia menjadi pusat modest fashion dunia pada tahun 2020. (sil/hst)