Cerita Muslimah yang Bermimpi Jadi Hijabers Pertama Penakluk Gunung Everest

Silmia Putri - wolipop Selasa, 23 Okt 2018 19:03 WIB
Panorama Pegunungan Everest. (Foto: GettyImages/Notey) Panorama Pegunungan Everest. (Foto: GettyImages/Notey)

Jakarta - Tak banyak wanita berhijab yang memiliki hobi naik gunung. Tantangannya besar. Jalur pendakian yang terjal, cuaca yang tak menentu, membuat para pendaki tak hanya membutuhkan fisik yang kuat tapi juga mental yang berani.

Namun ada dua nama hijabers yang dikenal dengan keberaniannya menaklukkan gunung-gunung tinggi. Indonesia punya Khansa Shahla, remaja berusia 12 tahun yang sudah mendaki puncak Jaya Wijaya. Ia berhasil menaklukkan salah satu tujuh gunung tertinggi di dunia, yaitu puncak Carstensz Papua saat berusia 11 tahun.



Pendakian di Gunung Cartenz.Pendakian di Gunung Carstensz. (Foto: Afif Farhan)
Di usianya yang muda tersebut, ia konsisten memakai hijab saat mendaki. Hijab yang ia pakai pun selalu panjang. Diajari ayahnya, ia mendaki dengan penuh kepasrahan kepada Allah SWT. Saat berhasil menduduki puncak gunung, ia mengaku kalimat takbir adalah andalannya. Berusia masih sangat muda, mimpi Khansa masih sangat tinggi. Tak menutup kemungkinan ia bisa menjadi wanita berhijab pertama yang berhasil mendaki puncak gunung tertinggi di dunia, Gunung Everest.

Selain Khansa, wanita berhijab asal Mesir juga punya tekad serupa. Manal Roostom sudah lama dikenal sebagai pecinta olahraga, khususnya olahraga lari dan mendaki gunung. Popularitas dan kualitasnya membawa Manal menjadi salah satu Nike Run Club Coach.

Manal pernah mendaki gunung Kenya, gunung tertinggi kedua di Afrika yang memiliki ketinggian 5.199 m. Ia pun pernah mendaki gunung Kilimanjaro yang masuk ke dalam tujuh gunung tertinggi di dunia, dan gunung tertinggi di Afrika. Terakhir tahun 2016, ia berhasil mendaki gunung Himalaya.


Pegunungan Everest. Pegunungan Everest. (Foto: CNN)
Tak banyak orang Arab yang diberi kebebasan untuk melakukan olahraga ekstrim seperti Manal. "Di setiap ekspedisi yang saya lakukan, saya sering menjadi satu-satunya wanita Arab yang berhijab. Reaksi mereka selalu seperti, "Ya Tuah, kami nggak tahu kamu dibolehkan untuk mendaki," ungkap Manal dilansir dari Nile FM/

Namun, ia bertekad untuk menjadi wanita berhijab Arab pertama yang berhasil mendaki gunung Everest. Menurutnya, ketika seseorang memakai hijab, maka otomatis ia mengenalkan Islam kepada lingkungannya. Jadi penting sekali untuk menjadi hijabers yang profesional, untuk memberikan image Islam yang baik di mata dunia.

Senada dengan ucapannya itu, Manal mebentuk sebuah komunitas bernama Survival Hijab. Grup yang memiliki lebih dari 5000 anggota ini menjadi wadah para hijabers untuk saling mendukung dan mengembangkan potensi masing-masing.
(dtg/dtg)