Viral Minum Gelatin Bisa Tahan Nafsu Makan, Efeknya Disebut Mirip Ozempic
Keinginan untuk memiliki tubuh ramping dan berat badan ideal membuat banyak orang rela mencoba berbagai metode diet. Mulai dari mengurangi asupan karbohidrat, puasa intermiten, mengonsumsi suplemen pelangsing, hingga mengikuti tren diet ekstrem yang viral di media sosial.
Tak sedikit pula yang tergoda mencoba cara-cara instan demi menurunkan angka timbangan lebih cepat. Belakangan, muncul tren diet baru yang ramai di TikTok dan platform media sosial lainnya, yakni minum campuran gelatin dan air hangat sebelum makan.
Cara ini digadang-gadang bisa menekan nafsu makan dan membantu menurunkan berat badan. Bahkan, sebagian orang menyebutnya sebagai 'Ozempic alami' karena dianggap memberikan efek kenyang yang mirip dengan obat penurun berat badan berbasis GLP-1.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun para ahli mengingatkan agar kamu tidak langsung percaya pada klaim tersebut. Menurut ahli gizi asal New Jersey, Erin Palinski-Wade, sebenarnya ada penjelasan ilmiah mengapa metode ini bisa membuat seseorang merasa lebih kenyang.
"Ketika gelatin masuk ke dalam lambung, lingkungan asam di dalam perut membantu membentuk campuran yang lebih kental dan menyerupai gel. Kondisi ini meningkatkan volume dan kepadatan isi lambung," jelasnya, seperti dikutip dari New York Post.
Saat isi lambung bertambah banyak, dinding lambung akan meregang dan mengirimkan sinyal ke otak bahwa tubuh mulai merasa kenyang. Selain itu, kandungan protein dalam gelatin juga dapat memicu pelepasan hormon di saluran pencernaan yang membantu memperlambat proses makan. Hasilnya, rasa kenyang muncul lebih cepat sehingga sebagian orang mungkin mengonsumsi kalori lebih sedikit saat makan.
Benarkah Efek Minum Gelatin Sama Seperti Ozempic?
Meski banyak pengguna media sosial menyebutnya sebagai 'Ozempic alami', Erin menegaskan bahwa perbandingan tersebut berlebihan.
"Ibarat membandingkan selang taman dengan hidran pemadam kebakaran. Konsep dasarnya mungkin mirip, tetapi kekuatan dan dampaknya sangat berbeda," ujarnya.
Dia menjelaskan bahwa gelatin memang dapat membantu memicu respons hormon yang berkaitan dengan rasa kenyang, tetapi efeknya jauh lebih ringan dibandingkan obat resep seperti semaglutide, bahan aktif yang digunakan dalam Ozempic.
"Gelatin tidak bekerja pada reseptor tubuh seperti obat-obatan tersebut, dan tidak memiliki kemampuan tersembunyi untuk membakar lemak," jelasnya.
Pada dasarnya, gelatin hanya membantu memenuhi lambung sehingga seseorang merasa kenyang lebih lama dan cenderung makan dalam porsi yang lebih sedikit.
Tidak Cocok Dijadikan Pengganti Makan
Gelatin terbilang murah dan relatif aman, namun tidak ideal untuk dijadikan pengganti makan. Erin menjelaskan bahwa gelatin memang mengandung protein dalam jumlah cukup tinggi.
Namun protein tersebut bukan tergolong protein lengkap karena tidak mengandung asam amino esensial triptofan yang dibutuhkan tubuh. Mengandalkan gelatin sebagai pengganti makanan utama berisiko menyebabkan kekurangan asam amino penting dan tidak mampu mendukung kesehatan maupun pemeliharaan massa otot secara optimal.
Oleh karena itu, gelatin sebaiknya hanya dikonsumsi untuk mengontrol nafsu makan sebelum makan, bukan solusi utama menurunkan berat badan.
Selain itu, ibu hamil, ibu menyusui, penderita penyakit ginjal, atau orang yang memiliki alergi terhadap produk hewani disarankan berkonsultasi dengan dokter terlebih dahulu sebelum mencoba metode ini.
Erin pun menekankan bahwa meskipun gelatin bisa membantu mengontrol porsi makan dengan biaya relatif murah, bahan ini bukanlah jalan pintas untuk menurunkan berat badan.
"Gelatin memang dapat menjadi kebiasaan sederhana yang membantu mengontrol porsi makan. Namun ini bukan solusi ajaib untuk menurunkan berat badan," pungkasnya.
(hst/hst)









































