Viral Tren Injak Garam Sebelum Tidur Diklaim Bikin Nyenyak, Benarkah?
Tren kesehatan baru tengah ramai di TikTok. Kali ini, pengguna media sosial ramai mencoba kebiasaan menginjak garam Epsom sebelum tidur. Praktik yang disebut sebagai bentuk 'grounding' atau pembumian itu diklaim dapat membantu tubuh lebih rileks, meningkatkan kualitas tidur, hingga membuat kulit lebih sehat.
Salah satu pengguna TikTok, Tammy Weatherhead, menjadi sosok yang ikut mempopulerkan tren tersebut. Dalam videonya, ia menuangkan garam Epsom ke atas loyang datar lalu menggesekkan telapak kakinya di atas butiran garam sebelum tidur.
Menurut Tammy, ritual sederhana itu bukan hanya membantu mengangkat sel kulit mati pada kaki, tetapi juga diklaim mampu mengurangi peradangan dan membuat sistem saraf ke kondisi lebih tenang. Ia bahkan menyebut kebiasaan tersebut dapat menurunkan hormon stres kortisol dan meningkatkan serotonin yang berperan dalam suasana hati dan tidur.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Rasanya luar biasa dengan cara yang sulit dijelaskan," katanya.
Banyak pengguna lain kemudian mengikuti tren tersebut. Ada yang mengaku lebih tenang dan kecemasannya berkurang setelah melakukannya setiap hari. Sebagian bahkan menyebutnya sebagai praktik pembersihan energi kuno yang dapat membantu tubuh kembali seimbang.
Meski popularitasnya terus meningkat, para ahli mengingatkan bahwa sebagian besar klaim tersebut belum didukung bukti ilmiah yang kuat.
Dokter penyakit dalam Dr. Yoshua Quinones mengatakan belum ada penelitian yang membuktikan bahwa berdiri di atas garam Epsom dapat meningkatkan kadar serotonin atau menurunkan kortisol. Menurut Quinones, manfaat yang paling jelas dari praktik tersebut adalah membantu eksfoliasi atau pengangkatan sel kulit mati pada kaki. Sensasi tekstur garam juga bisa terasa menenangkan sehingga membantu seseorang lebih rileks menjelang tidur.
"Efek menenangkan yang dirasakan kemungkinan berasal dari pengalaman sensorik dan ritual relaksasinya, bukan karena reaksi kimia tertentu dari garam," jelasnya, seperti dikutip dari New York Post.
Namun, ia mengingatkan bahwa metode ini tidak cocok untuk semua orang. Mereka yang memiliki luka terbuka, kulit pecah-pecah, gangguan kaki akibat diabetes, atau neuropati sebaiknya menghindarinya karena berisiko menimbulkan iritasi dan rasa tidak nyaman.
Pendapat serupa disampaikan dokter spesialis tidur Dr. Saema Tahir. Ia menilai tidak ada bukti ilmiah yang menunjukkan bahwa berdiri di atas garam dapat menenangkan sistem tubuh. Bahkan, menurutnya, sejumlah penelitian justru menunjukkan paparan garam dalam jumlah tinggi dapat mengaktifkan sistem saraf simpatik yang dapat meningkatkan detak jantung, tekanan darah, kadar kortisol, serta memicu peradangan.
Meski demikian, manfaat psikologis dari ritual tersebut tetap mungkin terjadi. Psikiater Dr. Bonnie Mitchell menjelaskan bahwa yang berpengaruh bukanlah garamnya, melainkan aktivitas memperlambat diri dan fokus pada sensasi yang dirasakan tubuh.
"Klaim tentang perubahan kimia otak sangat berlebihan," kata Dr. Bonnie.
Mitchell menjelaskan bahwa serotonin diproduksi di otak dan saluran pencernaan, sementara kortisol diatur oleh kelenjar adrenal. Hingga saat ini tidak ada bukti klinis yang menunjukkan tekanan pada kristal garam kering dapat memengaruhi produksi kedua zat tersebut.
(kik/kik)










































