Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network

Jessica Iskandar Bahas Masa Paling Gelap: Hilang Arah hingga Mental Breakdown

Kiki Oktaviani - wolipop
Sabtu, 18 Apr 2026 18:30 WIB

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Jessica Iskandar di acara SOS: Strength of Sensitivity bersama AVEENO
Jessica Iskandar di acara SOS: Strength of Sensitivity bersama AVEENO Foto: Foto: Kiki Oktaviani/detik
Jakarta -

Jessica Iskandar akhirnya buka suara tentang fase hidup yang paling kelam, saat ia kehilangan arah hingga mengalami mental breakdown. Di balik kehidupannya yang terlihat bahagia dan penuh warna, Jessica ternyata pernah berada di titik terendah, fase yang ia sebut sebagai momen paling gelap dalam hidupnya.

"Dalam momen paling sensitif, saya pernah ada di titik terendah, paling gelap, kehilangan arah dan kehilangan diri sendiri," ungkapnya jujur di acara SOS: Strength of Sensitivity bersama AVEENO, di Grand Indonesia, Jakarta Pusat, Jumat (17/4/2026).

Artis 38 tahun itu mengakui, pengalaman tersebut bukan hal yang mudah untuk diucapkan, apalagi dihadapi. Tekanan dari luar justru memperparah kondisi mentalnya saat itu.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Belum lagi bisikan-bisikan, ucapan orang, membuat saya dihakimi, bahkan sebelum saya sempat memaafkan diri sendiri," lanjutnya.

Selama ini, publik mungkin melihat hidup Jessica sebagai sosok yang selalu ceria dan penuh kebahagiaan. Namun di balik itu, ada luka yang sempat ia pendam sendiri. Seperti yang publik ketahui, Jessica pernah melalui perceraian, gagal menikah hingga ditipu hingga miliaran rupiah.Kini, ibu tiga anak itu memilih untuk jujur dan berani berbagi perasaannya.

ADVERTISEMENT
Jessica Iskandar di acara SOS: Strength of Sensitivity bersama AVEENOJessica Iskandar di acara SOS: Strength of Sensitivity bersama AVEENO Foto: Foto: Kiki Oktaviani/detik

"Saya berdiri di sini bukan untuk cerita yang sempurna, tapi untuk cerita yang jujur dan nyata," kata ibu dari

Jessica juga menekankan bahwa ketika hidup terasa menghancurkan, proses untuk bangkit tidak pernah instan. Ada air mata, ada rasa rapuh, dan ada proses panjang yang harus dijalani.

"Hidup benar-benar pernah menghancurkan kita. Tapi bukan berarti kita bisa langsung kuat. Bangkit itu pelan-pelan, sambil menangis dan mengadu kepada Tuhan," tuturnya.

Dari pengalaman tersebut, ia belajar untuk menerima luka, bukan menutupinya. Baginya, menerima adalah langkah awal untuk benar-benar melepaskan.

"Saya belajar menerima luka saya, bukan untuk ditutupi atau dilupakan, tapi untuk dilepaskan. Move on bukan berarti melupakan tapi tidak lagi tinggal di masa lalu. Kesalahan tidak mendefinisikan siapa kita selamanya," jelas Jessica.

Sebagai penutup, ia juga membagikan cara sederhana yang membantunya bangkit dari keterpurukan. Hal utama dalam proses healing adalah lewat jalur doa.
"Yang pertama itu kita harus mendekatkan diri kita sama Tuhan, sama pencipta kita," ujarnya.

Kedua, mencari tempat aman untuk bercerita. Menurutnya, berbagi beban bisa membuat hati terasa lebih ringan.
"Ketika kita punya masalah sebesar ini tapi kita bisa membagikannya, lama-lama akan hilang," tambahnya.

Psikolog Indah Sundari Jayanti, M.Psi, menilai cara Jessica Iskandar merespons sisi sensitifnya sebagai perempuan sudah tepat. Menurutnya, perempuan tidak perlu merasa malu menjadi sensitif, karena justru di situlah letak kekuatannya.

"Ketika perempuan mampu mengakui perasaannya, mencari dukungan, dan memiliki ruang aman untuk berekspresi, sensitivitas bisa menjadi kekuatan yang membantu mereka memahami diri sendiri dan membuat mereka menjadi lebih kuat," jelasnya.

(kik/kik)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Hide Ads