Kisah Sedih Wanita yang Berniat Donor Darah, Berakhir Kehilangan Masa Depan

Rahmi Anjani - wolipop Rabu, 25 Nov 2020 05:30 WIB
Sejumlah warga mengikuti donor darah di Jakarta International Velodrome, Rawamangun, Jakarta Timur. Acara ini guna membantu kebutuhan stok darah PMI yang berkurang. Ilustrasi Donor Darah Foto: Pradita Utama
Jakarta -

Donor darah menjadi salah satu cara untuk berbagi. Sayangnya kegiatan amal tersebut malah membuat seorang wanita kehilangan masa depannya. Adalah Gabriella Ekman yang berniat untuk mendonasikan darahnya pada pasien yang membutuhkan. Tak disangka jika hal itu berakhir tidak menyenangkan sampai menghilangkan mobilitas tangannya.

Gabriella melakukan donasi darah empat tahun lalu ketika berusia 17. Saat itu ia pergi ke Canadian Blood Services untuk berdonor pertama kalinya. Ketika sedang diambil darahnya, ia ingat jika petugas medis yang menanganinya sempat mengatakan 'oops' ketika memasukan jarum ke tangan Gabriella.

Staf itu juga berkomentar jika darah yang terambil adalah darah beroksigen (berwarna merah terang) yang artinya cairan tersebut berasal dari arteri. Sedangkan seharusnya darah yang diambil untuk donor berasal dari vena menurut aturan WHO. Meski tidak selalu menimbulkan masalah, kesalahan tersebut bisa menyebabkan komplikasi.

Gabriella EkmanGabriella Ekman Foto: GoFundMe

Benar saja tak lama kemudian, Gabriella mulai merasakan sesuatu yang aneh pada tangannya. Ketika melaporkannya pada salah satu staf, ia diminta untuk pergi ke rumah sakit. Tapi kemudian oleh dokter wanita 21 tahun itu dipulangkan karena tidak ditemukan hal yang aneh.

Berminggu-minggu kemudian, tangan Gabriella mulai membengkak dan terasa sakit dari bagian pergelangan hingga pundak. Ketika dibawa ke rumah sakit, paramedis mengatakan situasinya sudah darurat. Lalu ia menjalani operasi untuk menghentikan pendarahan dan penyumbatan serta memperbaiki lubang di arteri. Sayangnya setelah itu hidupnya tidak bisa normal lagi.

"Rasa sakitnya tidak pernah pergi dan aku tidak mendapat mobilitas tanganku kembali. Aku tidak bisa mendapatkan mobilitas pergelangan tangan atau tanganku lagi," ujar wanita yang didiagnosa mengalami Complex Regional Pain Syndrome kepada CTV News.

Gabriella EkmanGabriella Ekman Foto: GoFundMe

Selain rasa sakit dan kehilangan mobilitas tangan, Gabriella juga harus selalu memakai 'brace'. Belum lagi masa depannya yang bisa dibilang hancur karena kini ia kesulitan untuk beraktivitas. Karena kondisi tersebut, wanita malang itu pun tidak bisa kuliah di universitas dengan beasiswa yang sudah didapatkannya dan memilih untuk belajar di kampus terdekat karena butuh bantuan ibunya untuk berbagai hal di keseharian.

"Rasanya seperti itu menghancurkan hidupku, itu mengambil masa depanku. Aku tidak bisa melihat ke cermin tanpa berpikir seberapa sakitnya dan bagaimana masa depanku terasa diambil dariku karena mencoba untuk memberikan hidup pada orang lain," kata wanita yang juga menjalani terapi untuk gangguan mental itu.

Meski mengalami penderitaan karena donasi darah, Gabriella tidak melarang orang untuk berdonor. Tapi hal tersebut tidak seharusnya membuat orang kesakitan bahkan kehilangan masa depan. Kini wanita itu sedang meminta kompensasi finansial dari Canadian Blood Services karena membuatnya bergantung pada orang lain seumur hidup.

(ami/ami)