Pakai Bra Kawat Picu Risiko Kanker Payudara, Benarkah?

Abu Ubaidillah - wolipop Jumat, 23 Okt 2020 19:09 WIB
Drawers filled with sexy lace lingerie. Textile, Underwear. Foto: Getty Images/iStockphoto/dannikonov
Jakarta -

Bra dengan atau tanpa kawat tampaknya menjadi dilema bagi kaum wanita. Bra tanpa kawat dianggap lebih ramah kesehatan, namun kurang sesuai bagi wanita dengan ukuran payudara besar.

Adapun bra dengan kawat dianggap lebih mampu memperbaiki penampilan namun dikhawatirkan berbahaya bagi kesehatan. Sehingga timbul pertanyaan apakah model bra seperti bra berkawat dapat meningkatkan risiko kanker? Menanggapi hal tersebut, Love Pink Member & a Breast Cancer Survivor, dr. Patsy Djatikusumo menegaskan anggapan tersebut tidak benar.

"Saya luruskan dulu bahwa BH atau bra berkawat tidak menimbulkan kanker payudara, tetapi ukuran BH dan model BH benar mempengaruhi pertumbuhan payudara," ujar dr. Patsy dalam acara 2020 Estee Lauder Companies Breast Cancer Campaign launching bersama Lazada secara virtual di zoom, Jumat (23/10/2020).

dr. Patsy menjelaskan pemilihan bra, khususnya untuk anak-anak yang sedang mengalami pertumbuhan itu sangat penting. Jika terlalu sempit, maka sel-sel payudara tidak bisa tumbuh optimal dan jika terlalu longgar, tidak bisa menyangga dengan baik.

"Jadi harus bukan menggunakan model yang tepat, tetapi menggunakan ukuran yang paling tepat dan paling nyaman untuk setiap wanita, itu beda-beda. Jadi makanya tidak bisa menitip beli BH. Tapi sebaiknya dipakai, dicoba, apakah benar-benar fit dan nyaman untuk ukuran kita sendiri," jelasnya.

Ia mengatakan sampai sekarang penyebab kanker payudara masih belum diketahui, yang diketahui hanyalah faktor risiko dari kanker payudara tersebut. Di antaranya gender, perempuan punya risiko lebih dari laki-laki, bertambahnya usia juga semakin tinggi kemungkinan terjadinya kanker payudara, penambahan berat badan atau obesitas yang luar biasa itu juga meningkatkan terjadinya kanker payudara. Di samping juga rokok dan alkohol juga memicu terjadinya kanker payudara.

"Jadi yang paling penting dalam menghadapi breast cancer adalah early detection. Itu kata kunci yang paling penting untuk kita menghadapi kanker payudara," kata dr. Patsy.

Early detection bisa dilakukan dengan dua cara, yakni Sadari (periksa payudara sendiri) di rumah dan Sadanis (periksa payudara klinis) menggunakan USG dan mamografi.

Wanita di bawah usia 35 tahun yang tidak memiliki garis keturunan pengidap kanker payudara dianjurkan periksa menggunakan USG minimal 2 tahun sekali, sedangkan yang punya garis keturunan 1 tahun sekali. Sementara itu, untuk yang berusia 35 tahun ke atas disarankan periksa dengan mamografi 1 tahun sekali.

Guna mendukung penurunan tingkat kasus payudara di Indonesia, Yayasan Lovepink Indonesia mendapat dukungan dari Estee Lauder Companies dan Lazada. Keduanya bekerja sama menjual produk limited edition di Breast Cancer Campaign Flagship Store yang tersedia pada LazzMall berupa lipstik, pita, moisturizer, dan serum yang 100% hasilnya akan disalurkan untuk USG payudara gratis.

"Kami di Lazada juga sangat senang bisa turut menjangkau dan menyebarkan kewaspadaan mengenai kanker payudara melalui platform kami," ujar Chief Marketing Officer Lazada Indonesia, Monika Rudiono.



Simak Video "Penting! Jangan Lupa Foto Kondisi Paket Saat Terima Belanjaan Online"
[Gambas:Video 20detik]
(akn/eny)