Ilmuwan Jepang Ungkap Face Shield Hampir 100% Tak Efektif Cegah COVID-19

Hestianingsih - wolipop Sabtu, 26 Sep 2020 15:32 WIB
Memakai alat pelindung wajah sangat penting di era pandemi COVID-19. Tidak hanya masker kain, face shield juga sedang banyak disenangi masyarakat. Ilustrasi wanita memakai face shield. Foto: Getty Images
Jakarta -

Face shield dianggap sebagai alternatif perlindungan terhadap penularan COVID-19 selain masker. Tapi setelah mengetahui temuan terbaru ini, kamu mungkin perlu mempertimbangkan lagi jika ingin memakai face shield sebagai 'benteng utama' pencegahan virus Corona.

Sebuah temuan di Jepang menunjukkan bahwa face shield yang terbuat dari plastik nyaris tidak efektif sama sekali untuk mencegah aerosol dari droplet menuju saluran pernapasan. Makoto Tsubokura, ilmuwan lembaga penelitian ilmiah besar di Jepang, mengungkapkan hal ini berdasarkan modelling komputer.

Makoto dan timnya melakukan simulasi menggunakan Fugaku, supercomputer tercepat di dunia, untuk menguji efektivitas penggunaan face shield dalam melindungi wajah dari droplet. Simulasi menunjukkan ternyata hampir 100 persen droplet berukuran lebih kecil dari 5 micrometer bisa lolos melewati visor plastik.

New normal. The new normal order requires everyone to wear a mask or face shield when leaving the house.Ilustrasi anak pakai face shield. Foto: Getty Images/Yamtono_Sardi

Droplet-droplet aerosol ini sebagian besar lolos melalui celah yang tidak tertutup face shield seperti atas dahi, dekat telinga dan leher. Sementara itu droplet yang lebih besar berukuran 50 micrometer, setengahnya masih bisa berada di udara selama beberapa waktu.

Makoto Tsubokura menjelaskan, simulasi ini mengombinasikan aliran udara dan reproduksi dari puluhan ribu droplet dengan berbagai ukuran. Mulai dari yang paling kecil di bawah 1 micrometer hingga ratusan micrometer.

Berdasarkan hasil simulasi tersebut, Makoto Tsubokura menekankan agar masyarakat sebaiknya tidak memakai face shield sebagai alternatif pengganti masker. Sebab ternyata efektivitasnya sangat rendah.

Simulasi face shield versus droplet aerosol.Simulasi face shield versus droplet aerosol. Foto: Dok. Florida Atlantic University

"Menilai dari hasil simulasi, sayangnya efektivitas face shield dalam mencegah penyebaran droplet dari mulut orang yang terinfeksi sangat terbatas dibandingkan dengan masker," kata Makoto Tsubokura seperti dikutip dari The Guardian.

"Terutama untuk droplet kecil yang ukurannya kurang dari 20 micrometer. Di saat yang sama, entah bagaimana bisa berguna untuk droplet yang lebih besar dari 50 micrometer," tambahnya.

Florida Atlantic University juga sudah membuktikan bahwa dengan memakai face shield saja tanpa masker memang tidak efektif mencegah penyebaran droplet. Tim peneliti yang tergabung di College of Engineering and Computer Science Visualization Study menampilkannya lewat ilsutrasi komputer yang diunggah di YouTube.

Video tersebut menunjukkan saat seseorang bersin atau batuk, dropletnya bisa beterbangan ke udara dalam spektrum yang luas. Jadi meskipun sudah memakai face shield, droplet tetap menyebar melewati atas kepala, leher, bahu hingga area dada.

[Gambas:Youtube]



Tapi bukan berarti face shield tidak berguna sama sekali. Kamu bisa memakai face shield ketika berada di tempat terbuka atau ruangan dengan banyak ventilasi. Dengan catatan, jika area tersebut tidak dipenuhi orang, dan setiap orang bisa menjaga jarak minimal 2 meter.

Sementara jika harus berada di ruangan tertutup tanpa ventilasi, masker masih jadi pilihan yang saat ini paling efektif mencegah penularan COVID-19 lewat droplet. Gunakan masker medis atau masker kain tiga lapis dan pakai face shield hanya sebagai perlindungan ekstra. Intinya face shield harus dipakai berbarengan dengan masker.

Lebih penting dari itu sangat ditekankan pentingnya memakai masker, rajin cuci tangan dan jaga jarak minimal 1,5 - 2 meter.

(hst/hst)