Viral Surat Terbuka Pasien COVID-19 di Cirebon Untuk Presiden dan Kemenkes

Gresnia Arela Febriani - wolipop Selasa, 31 Mar 2020 16:14 WIB
Riki Rachman Permana Riki, pasien COVID-19 yang surat terbukanya untuk Jokowi viral. Foto: instagram @permanarikie
Jakarta -

Salah satu pasien positif COVID-19 mengungkapkan pengalamannya selama menjalani perawatan di rumah sakit rujukan pemerintah. Pria bernama Riki Rachman Permana itu dinyatakan positif terinfeksi virus corona pada 8 Maret 2020.

Riki merupakan pasien positif COVID-19 di RSD Gunung Jati, Cirebon. Memiliki pengalaman sebagai pasien yang dirawat di rumah sakit rujukan, Riki pun menulis surat terbuka yang ditujukannya untuk Presiden Jokowi dan Kementerian Kesehatan RI.

Surat terbuka yang diunggahnya ke Twitter pada 27 Maret 2020 itu pun viral. Surat yang berisi pengalamannya dan saran untuk penanganan pasien corona itu hingga kini sudah disebarkan lebih dari 20 ribu kali oleh pengguna Twitter.

Dikonfirmasi Wolipop mengenai suratnya yang viral, Riki mengatakan awalnya dia sebenarnya enggan berbagi kisah soal pengalamannya menjadi penderita virus corona. Namun karena sekarang semakin banyak isu yang membuat masyarakat panik dalam menghadapi COVID-19, dia pun ingin memberikan informasi yang bisa membawa optimisme.

Riki mengatakan tingkat kesembuhan pasien virus corona cukup tinggi. "Obat yang paling ampuh adalah imun tubuh kita sendiri. Jadi kalau badan sehat maka virus pun akan hilang dengan sendirinya. Kalaupun ada pasien yang meninggal, informasi dari dokter yang saya dapatkan di sini adalah karena ada penyakit yang menyertainya seperti jantung, hipertensi dll," tulisnya di Instagram.

Riki sendiri termasuk pasien asimtomatic yang tidak menunjukkan gejala seperti batuk, flu, pilek, sesak nafas atau lemas. Gejala awal yang dirasakannya adalah demam dan radang tenggorokan. Gejala tersebut dialaminya mulai 2-8 Maret 2020 dalam kondisi naik-turun. Karena tak kunjung reda, ia pun mencoba memeriksakan diri ke rumah sakit. Dan akhirnya tim dokter memintanya melakukan rontgen dan CT Scan.

Lewat pemeriksaan tersebut, ditemukanlah pneunomia di paru-paru kirinya yang menandakan infeksi. Untuk lebih memperoleh hasil yang akurat, akhirnya tim Kemenkes melakukan tes swab padanya. Hasil tes tersebut keluar pada 14 Maret 2020 dan dinyatakan positif terinfeksi virus corona. Riki menduga dia terinfeksi virus corona saat menjalani tugasnya sebagai petugas imigrasi di bandara Soekarno Hatta.

"Awalnya saya kira typhus, 2 Maret 2020 saya mengalami demam dengan suhu 38 derajat. Lalu saya memeriksakan diri ke RS Mitra Plumbon pada 8 Maret 2020. Dan saya diisolasi di RS Gunung Jati, Cirebon. Pada 9-10 Maret 2020, saya menjalani pemeriksaan swab pertama dan kedua. Lalu 14 Maret saya dinyatakan positif COVID-19. Di tengah kejenuhan masa isolasi lalu saya membuat surat terbuka untuk Pak Presiden dan Pak Kemenkes RI," kata Riki saat dihubungi oleh Wolipop, Selasa (31/3/2020).

Riki hingga saat ini sudah lima kali menjalani tes swab. Dari empat kali tes swab yang dilakukan secara berkala itu, dia masih dinyatakan positif COVID-19. Sedangkan dari swab tes kelimanya yang dilakukan pada 24 Maret 2020, hingga kini belum diketahui hasilnya.

Berdasarkan pengalamannya menjalani tahapan tes swab itulah Riki dalam surat terbukanya menyampaikan kritikan pada Kemenkes dan pemerintahan Jokowi. Menurutnya hasil tes swab terlalu lama keluar.

Viral Surat Terbuka Pasien COVID-19 di Cirebon Untuk Presiden dan KemenkesFoto: instagram @permanarikie


"Mengapa hasil swab ini amat penting bagi kami pasien dan rumah sakit? Setelah dokter & RS memperoleh hasil swab resmi berbentuk surat, tentu tim medis dapat melakukan rangkaian treatment yang tepat bagi pasien. Jika terbukti positif maka akan diberikan sejumlah obat untuk mempercepat kesembuhannya. Jika terbukti negatif, maka pasien dapat pulang ke rumah untuk melakukan isolasi mandiri dengan pengawasan. Semua tindakan berpijak pada hasil swab. Bagaimana mungkin RS dan tim medis dapat bekerja maksimal jika status pasien saja masih belum jelas positif/negatif?" demikian penggalan surat terbuka Riki untuk Presiden dan Kemenkes.

Dalam suratnya Riki juga mengkritisi sikap pemerintah yang membuat tim dokter dibuat susah dengan berbagai birokrasi dalam menangani virus corona. Urusan birokrasi ini menurutnya jadi membuat kerja tim medis tidak maksimal.

"Tugas utama tim medis untuk merawat secara intensif pasien dalam status PDP maupun terlanjur positif. Tapi jika tim dokter diberikan tugas tambahan untuk rapat dengan dinkes, walikota, dinas pendidikan, lantas bagaimana dokter bisa fokus merawat pasien secara intensif? Tenaga dokter sudah terlanjur terkuras dengan rangkaian rapat sana-sini untuk memberikan penjelasan kepada instansi setempat," tulisnya.

Surat terbyka Riki untuk Presiden Jokowi dan Kemenkes ini disambut positif warganet. Ada yang merasa terharu, memberikan dukungan dan menyayangkan sistem birokrasi di Indonesia.

"Saya mau menangis membaca surat ini. Ditulis berdasar pengalaman pribadi dgn bahasa lugas, kritis namun tetap santun sbg harapan kepada seluruh pihak untuk perubahan lbh baik dalam penanganan Corona. Surat yang ditulis dari hati InsyaaAllah sampai ke hati #IndonesiaMelawanCovid19," tulis pengguna Twitter @aditiagani.

"Hi Riki... tetap semangat ya... doa kami menyertai kamu dan semua teman2 yg positive covid19, semoga Allah SWT angkat penyakitnya dan lekas sembuh, amiiin," kata akun @Indiand.

"Korsel: Drive through swab tes, ga perlu keluar mobil, hasil dikirim sms setelah 4 jam-1 hari. Indon: Swab tes di rs, trus kirim sampel ke lab pusat, hasil dikirim balik pake surat resmi HARDCOPY lewat provinsi & kabupaten dulu krn "birokrasi"..Ini 2020 lho, we're f*cked," kata akun @xathrya.



Simak Video "Wow! Ada Sarung Tangan Mirip Kulit Manusia untuk Cegah Corona"
[Gambas:Video 20detik]
(gaf/eny)