6 Faktor yang Bisa Memicu Seseorang untuk Bunuh Diri

Rista Adityaputry - wolipop Rabu, 22 Mar 2017 19:50 WIB
Foto: Thinkstock Foto: Thinkstock

Jakarta - Berbagai alasan bisa memicu seseorang untuk mengakhiri hidupnya, seperti kasus bunuh diri yang baru saja terjadi pada manajer idol group JKT48. Pria asal Jepang yang bernama Jiro Inao, ditemukan tewas gantung diri pada Selasa (21/3/2017) di kediamannya, kawasan Tangeran Selatan. Beban kerja yang terlalu berat disebut-sebut sebagai salah satu penyebab pria 48 tahun ini memutuskan mengakhiri hidupnya sendiri.

Kenapa seseorang bisa memilih jalan bunuh diri untuk menyelesaikan masalahnya di dunia? Menurut Alex Lickerman, M.D. ada enam faktor utama yang bisa memicu seseorang untuk bunuh diri. Enam faktor ini pun perlu diwaspadai pada orang dengan kecenderungan sifat seperti berikut, yang dikutip dari Psychology Today.

1. Depresi
Awalnya depresi dialami secara diam-diam oleh seseorang karena adanya emosi atau tekanan negatif yang terus-menerus ditahan sampai pada batas emosi tersebut menumpuk dan membuat ia mengalami depresi akut. Depresi akut biasanya diikuti oleh perasaan menderita yang menyebar sekaligus adanya kepercayaan bahwa lari dari perasaan tersebut akan sia-sia saja.

Setelah mengalami perasaan seperti itu, seseorang akan berpikir bahwa keberadaannya tidak akan berarti di dunia. Ini bisa memicu keinginan untuk bunuh diri dan mereka yang depresi biasanya merencanakannya secara diam-diam. Orang-orang yang mengalami perasaan seperti ini tidak seharusnya dipersalahkan karena gejala-gejala tersebut sudah merupakan hal alami yang memang akan terjadi bila seseorang menderita depresi.

Depresi selalu bisa disembuhkan dengan adanya perhatian dari keluarga dan sahabat terdekat. Awalnya memang tidak nyaman, namun Alex mengatakan dengan bertanya langsung tentang pikiran bunuh diri biasanya akan menghasilkan respon yang jujur. Ketika ada seseorang yang terlihat tertekan, sebaiknya jangan diabaikan. Cobalah ajak dia berbicara atau curhat, karena orang yang depresi sebenarnya memerlukan orang untuk bicara dari hati ke hati.

2. Gangguan Jiwa
'Suara-suara' negatif dalam pikiran seseorang bisa memicu keinginan untuk menghancurkan diri sendiri. Kegilaan lebih sulit untuk ditutupi daripada depresi dan biasanya lebih tragis. Gangguan mental seperti ini biasanya disebut skizofrenia yang ditandai dengan halusinasi, paranoid, hingga adanya pemikiran akan suatu hal yang tidak pernah terjadi. Gangguan ini bisa menyerang orang-orang sehat dan aktif yang hidupnya.

Penderita skizofrenia biasanya mudah bercerita tentang keinginannya untuk bunuh diri dan akan berkata jujur ketika ditanya mengenai keinginannya tersebut. Psikosis, yang memiliki gejala sama dengan skizofrenia, juga bisa disembuhkan dengan perawatan khusus dan intensif.

3. Impulsif
Pengaruh obat-obatan dan alkohol bisa membuat seseorang menjadi emosional dan bertindak impulsif yang kemudian memungkinkan keinginan untuk bunuh diri terjadi. Impulsif merupakan tindakan yang tiba-tiba atau spontan tanpa dipikir terlebih dahulu, sehingga ketika seseorang 'tersadar', mereka akan merasa malu dengan tindakan impulsif tersebut.

Alex menuliskan bahwa perasaan malu dan penyesalan yang mereka rasakan biasanya tulus. Namun, tidak bisa diprediksi apakah mereka masih ada keinginan untuk bunuh diri atau tidak karena memang tindakannya yang sulit diprediksi.

4. Keinginan untuk Diperhatikan
Mereka yang seperti ini sebenarnya sedang meminta pertolongan, namun tidak tahu cara yang tepat sehingga biasanya dapat memicu keinginan seseorang untuk bunuh diri. Namun, tindakan tersebut juga menjadi peringatan untuk orang-orang terdekat bahwa ada yang salah dengan kehidupan mereka hingga membuat mereka ingin mengakhiri hidupnya.

Menurut Alex, mereka biasanya tidak percaya akan pilihan untuk bunuh diri dan kerap memilih metode yang 'ringan' untuk ditunjukkan pada orang lain yang telah menyakiti mereka. Mereka seolah ingin membuktikan pada seseorang bahwa tindakan buruk tersebut bisa membuat mereka ingin bunuh diri dan menjadikan ini sebagai 'gertak sambal', namun bisa berujung pada kecelakaan yang merugikan diri sendiri.

5. Punya Konsep Kematian Sendiri
Keinginan seseorang memang beragam, dari yang normal hingga yang aneh. Termasuk di dalamnya keinginan filosofis yang bisa memicu seseorang untuk melakukan tindakan bunuh diri. Keinginan dari seseorang yang seperti ini biasanya sangat beralasan dan mungkin dipengaruhi oleh adanya penyakit parah yang dideritanya.

Alex mendeskripsikan orang seperti ini sebagai orang yang ingin mengontrol takdirnya dan meringankan penderitaan yang menurut mereka hanya bisa dilakukan dengan cara mengakhiri hidupnya sendiri. Menurut mereka, mereka toh pada akhirnya akan mati, jadi merasa lebih baik untuk mempercepat kematian tersebut dengan caranya sendiri. Alex juga mengatakan orang yang memiliki keinginan seperti ini biasanya lebih memilih untuk mati di tangan mereka sendiri. Jika Anda kebetulan mengetahui seseorang yang mengalami hal sama, lebih baik ajak mereka untuk konsultasi dengan terapis atau lakukan diskusi dari hati ke hati.

6. Kecerobohan yang Diperbuat
Ini biasanya menjadi fenomena yang akhir-akhir ini kerap dilakukan generasi muda dan terjadi karena kecerobohannya, misal mengikuti tantangan-tantangan yang aneh dan berisiko hingga kematian. Alex pun hanya menyarankan satu solusi saja untuk mencegah ini terjadi, yaitu dengan memberikan pendidikan yang layak supaya mereka bisa memikirkan segala sesuatu berikut risiko yang ditanggung. (hst/hst)