Ini Sebab Bunuh Diri Lebih Rentan Terjadi Pada Pria Ketimbang Wanita

Hestianingsih - wolipop Rabu, 22 Mar 2017 16:20 WIB
Foto: Thinkstock Foto: Thinkstock

Jakarta - Seorang pria warga negara Jepang, Inao Jiro ditemukan tewas diduga karena bunuh diri di rumahnya, kawasan Pondok Aren, Tangerang Selatan, Selasa (21/3/2017) sore. Kasus bunuh diri Jiro terjadi tak berapa lama setelah Pahinggar Indrawan (Indra), warga menghebohkan publik dengan melakukan aksi bunuh diri secara live di Facebook. Indra, diketahui menghabisi nyawanya dengan gantung diri setelah cekcok dengan istri.

Senin (20/3/2017) lalu, seorang pria juga ditemukan tewas dalam kamarnya di daerah Kramat Jati, Jakarta Timur. Pria bernama Andre Pakpahan itu juga diduga bunuh diri dengan menenggak racun serangga. Pria 27 tahun tersebut ditemukan dalam kondisi terbujur kaku serta mulut berbusa.

Foto: thinkstock

Stres, depresi hingga beban hidup terlalu berat diduga menjadi penyebab para pria ini bunuh diri. Indra, yang menyiarkan aksi gantung diri di Facebook secara live, dikenal sebagai pria yang periang dan senang bergaul. Namun ia diketahui pernah curhat dengan seorang penjual nasi goreng tentang sulitnya memenuhi biaya hidup. Sementara Jiro, menurut keterangan polisi kepada wartawan, menyatakan motif manajer idol group JKT48 itu bunuh diri karena beban kerja terlalu berat.

Terhitung dalam satu bulan, sudah ada lebih dari enam kasus bunuh diri di Indonesia yang semuanya dilakukan oleh pria. Mengapa bunuh diri lebih rentan terjadi pada kaum Adam?

World Health Organization mencatat sekitar satu juta orang menghabisi nyawanya sendiri setiap tahunnya, dan itu belum termasuk data percobaan bunuh diri yang 'tidak sukses'. Di hampir setiap negara, frekuensi pria yang bunuh diri lebih sering dibandingkan wanita. Fakta ini cukup menarik, mengingat wanita lah yang cenderung berisiko lebih tinggi mengalami gangguan kesehatan mental, contohnya depresi.

Kecenderungan orang untuk bunuh diri memang erat kaitannya dengan gangguan kesehatan mental seperti depresi dan kecemasan akut. Namun seperti dikutip dari Forbes, sebenarnya ada faktor lain yang memengaruhi, yang menurut sejumlah peneliti, memerlukan perhatian lebih.
Foto: thinkstock

Berdasarkan studi yang diprakarsai Samaritans, sebuah organisasi dengan misi mengurangi tingkat bunuh diri, pria berusia paruh baya paling berisiko untuk bunuh diri. Kondisi ini berbeda dengan zaman dulu, di mana pemuda yang lebih berisiko bunuh diri ketimbang pria dewasa. Namun dalam beberapa dekade terakhir, situasinya berbanding terbalik.

Kini banyak pria dewasa dan paruh baya yang tingkat kesejahteraannya rendah dan berada di tingkat paling tinggi risikonya untuk melakukan bunuh diri. Terutama jika mereka berada di kelas sosial-ekonomi yang lebih rendah. Pria paruh baya di era sekarang, berada di persimpangan antara dua generasi yang berbeda; sehingga membuat mereka merasa terperangkap dan kehidupannya seolah berjalan di tempat.

"Pria-pria di usia paruh baya sekarang ini adalah generasi 'buffer', terperangkap di antara budaya tradisional yang diam, kuat dan maskulin yang diturunkan dari ayah mereka, dan generasi anak-anak mereka yang lebih progresif, terbuka dan lebih individual. Mereka jadi tidak tahu budaya dan jalan seperti apa yang harus diikuti," demikian hasil studi yang ditulis Alice G. Walton, doktor Biopsikologi dan Ilmu Saraf Behavioral di City University of New York Graduate Center, New York City, Amerika Serikat, seperti dikutip dari Forbes.
Foto: Thinkstock

Usia paruh baya juga menjadi masa di mana seorang pria harus memikirkan keputusan-keputusan jangka panjang dalam hidup. Namun membuat perubahan besar tidak jarang membutuhkan pengorbanan yang juga tidak kecil, baik secara finansial maupun diri pribadi/sosial. Ketika sebuah pengorbanan besar terjadi, bukan tidak mungkin dia akan kehilangan pekerjaan, ketidakpastian finansial bahkan masalah rumah tangga.

Studi tersebut juga menemukan tingkat bunuh diri sepuluh kali lebih banyak terjadi pada pria dengan status sosial-ekonomi yang lebih rendah ketimbang pria dengan penghasilan lebih tinggi. Penelitian lain yang diterbitkan dalam jurnal American Psychological Association menemukan, pria, secara general cenderung bersikap lebih impulsif ketimbang wanita. Hal tersebut menyebabkan mereka lebih ringkih terhadap tekanan yang memicu pada berkembangnya perilaku bunuh diri.

(hst/hst)