Pemakaian veil memberi kesan dramatis dan romantis saat menikah. Tapi ternyata di zaman dulu, veil digunakan untuk menghindarkan mempelai wanita dari ancaman iblis dan kecemburuan. Foto: Getty Images
Pada zaman dulu, ketika masih marak pernikahan yang terjadi karena perjodohan, veil juga digunakan untuk menutupi wajah wanita sampai mempelai pria setuju untuk berkomitmen. Mereka takut calon pengantin pria akan kabur jika tahu mempelai wanita tak secantik yang dia bayangkan. Foto: Dok. ABC News, Ann Fredericks
Dalam tradisi pernikahan modern, peran bridesmaid adalah mengiringi pengantin dan sebagai pemanis momen spesial kedua mempelai. Biasanya teman atau sahabat yang dipilih. Namun pada zaman dahulu, bridesmaid sebenarnya adalah beberapa wanita yang diminta memakai gaun mirip dengan sang pengantin. Tujuannya untuk membuat para mantan kekasih bingung di hari pernikahan. Tradisi ini juga untuk memperdaya roh jahat yang mungkin bisa mengganggu mempelai wanita. Foto: Unsplash/Andre Hunter
Seperti bridesmaid, best man juga biasanya adalah sahabat dari mempelai pria yang mendampinginya saat menikah. Tapi beberapa puluh tahun lalu, tugas best man adalah memastikan mempelai wanita tidak kabur saat upacara pernikahan. Lagi-lagi, ini terkait dengan pernikahan karena perjodohan. Foto: Jimmy Sime/Central Press/Hulton Archive/Getty Images
Potong kue jadi salah satu momen penting dalam prosesi pernikahan sebagai selebrasi. Tapi di zaman Romawi Kuno, memotong kue adalah simbol pembelahan keperawanan wanita. Foto: Istimewa
Setelah upacara pernikahan biasanya buket akan dilemparkan ke para tamu dan siapapun yang menangkapnya diharapkan segera bertemu jodoh. Di abad pertengahan, fungsi buket bunga lebih untuk mengalihkan perhatian para tamu dari pengantin. Tradisi pada zaman itu, tamu akan mendapat keberuntungan jika bisa menyimpan sobekan baju sang mempelai wanita. Untuk itu bunga dilemparkan agar dia bisa kabur tanpa kerusakan pada gaunnya. Foto: Thinkstock