Foto: Kekuatan Wanita Aceh di Koleksi Toton The Label
Daniel Ngantung - wolipop
Kamis, 01 Jan 2026 05:00 WIB
tautan telah disalin
Anda menyukai artikel ini
Artikel disimpan
Jakarta - Kekuatan perempuan Sumatera, khususnya Aceh, menginspirasi desainer Toton Januar. Lahirlah, sebuah koleksi kontemporer yang memikat dan magis.
Toton Januar menyuguhkan karya teranyarnya di panggung Dewi Fashion Knights (DFK) 2025, Sabtu (1/11/2025). Bagi Toton, tahun ini menjadi DFK kelimanya. (Foto: Dok. JFW)
Ia pun membuktikan kepantasannya untuk kembali menyandang pengakuan tersebut dengan kepiawaiannya dalam mendesain busana kontemporer yang berpijak pada budaya Indonesia. (Foto: Dok. JFW)
Kali ini, ia terilhami oleh watak tangguh para perempuan Aceh. Bukan tanpa alasan karena memang banyak wanita pahlawan kita saat masa penjajahan berasal dari Tanah Rencong. Sebut saja Laksamana Malahayati, Cut Nyak Dien, Cut Nyak Meutia, dan masih banyak lagi. (Foto: Dok. JFW)
Dengan tajuk 'Regang', Toton kemudian mengemasnya dengan nuansa emas yang sumber inspirasinya datang dari sejarah Sumatera sebagai Swarnadwipa yang dalam bahasa Sanskerta berarti Pulau Emas karena kemakmurannya. (Foto: Dok. JFW)
Koleksi ini menampilkan kebaya panjang, baju kurung berpeplum, serta tailoring bernuansa militer yang dikombinasikan dengan material daur ulang dan pewarnaan tangan, menciptakan tafsir baru tentang kekuatan. Beberapa di antaranya hadir dengan bawahan rok berdraperi seperti sarung yang menjuntai. Foto: Dok. JFW
Toton juga kembali bereksplorasi dengan material keramik yang merupakan kelanjutan dari koleksi sebelumnya. (Foto: Dok. JFW)
Potongan keramik disatukan menjadi semacam mosaik yang dipakai sebagai korset, ataupun hiasan kepala. (Foto: Dok. JFW)
Dekonstruksi dari pakaian adat wanita Aceh, yang umum dikenal dengan nama Daro Baro, ini kian menarik dengan penataan kerudung dan selendang yang asimetris. (Foto: Dok. JFW)
Riasan wajah menjadi statement tersendiri. Pulasan berwarna emas dipadu headpiece senada yang mencakup bentukan baru dari suntiang atau pelindung kepala bergaya etnik semakin mempertegas bahwa koleksi ini pantas disebut sebagai wearable-art. (Foto: Dok. JFW)