Foto: Transformasi Batik Dulu dan Sekarang

Dewasa ini semakin banyak saja seniman yang mengkreasikan batik dan membuatnya terlihat kekinian untuk dipakai generasi muda. Bukan saja dari model busana yang lebih kreatif, namun pada motif batik yang kini lebih beragam, tak hanya sekadar inspirasi dari flora atau fauna. Berikut adalah beberapa transformasi motif batik dulu dan sekarang. Foto: Bayu Ardi Isnanto/detikcom

Dewasa ini semakin banyak saja seniman yang mengkreasikan batik dan membuatnya terlihat kekinian untuk dipakai generasi muda. Bukan saja dari model busana yang lebih kreatif, namun pada motif batik yang kini lebih beragam, tak hanya sekadar inspirasi dari flora atau fauna. Berikut adalah beberapa transformasi motif batik dulu dan sekarang. Foto: Bayu Ardi Isnanto/detikcom

Batik Parang merupakan motif dasar paling tua di Jawa dan memiliki makna tidak pernah menyerah, ibarat ombak laut yang tak pernah berhenti bergerak. Zaman dahulu tidak semua motif Parang boleh dipakai semua orang, dan acara tertentu saja. Foto: Thinkstock

Batik Parang merupakan motif dasar paling tua di Jawa dan memiliki makna tidak pernah menyerah, ibarat ombak laut yang tak pernah berhenti bergerak. Zaman dahulu tidak semua motif Parang boleh dipakai semua orang, dan acara tertentu saja. Foto: Thinkstock

Di Indonesia dikenal pula keindahan batik di masa penjajahan Belanda. Batik-batik itu dibuat sekitar tahun 1840 hingga 1910. Beda dengan batik Indonesia yang penuh filosofi, batik Belanda tampil dengan motif unik yang biasanya bertema cerita dongeng seperti Hansel and Gretel, Little Riding Hood dan juga Snow White. Foto: Ist.

Di Indonesia dikenal pula keindahan batik di masa penjajahan Belanda. Batik-batik itu dibuat sekitar tahun 1840 hingga 1910. Beda dengan batik Indonesia yang penuh filosofi, batik Belanda tampil dengan motif unik yang biasanya bertema cerita dongeng seperti Hansel and Gretel, Little Riding Hood dan juga Snow White. Foto: Ist.

Batik modifikasi mulai menjamur di Indonesia sekitar tahun 2000-an. Biasanya motif batik klasik yang sudah ada dikombinasikan dengan motif lainnya agar tampilannya lebih segar. Misalnya menggabungkan motif batik Sido Mukti dengan Parang atau Kawung. Foto: Fadhly Fauzi Rachman/detikFinance

Batik modifikasi mulai menjamur di Indonesia sekitar tahun 2000-an. Biasanya motif batik klasik yang sudah ada dikombinasikan dengan motif lainnya agar tampilannya lebih segar. Misalnya menggabungkan motif batik Sido Mukti dengan Parang atau Kawung. Foto: Fadhly Fauzi Rachman/detikFinance

Desainer Indonesia semakin bergairah memodifikasi tampilan batik sejak batik ditetapkan sebagai Warisan Budaya oleh UNESCO di tahun 2009. Salah satunya adalah brand Populo Batik yang membuat tampilan batik terasa modern dengan warna-warna monokrom pula. Foto: Mohammad Abduh

Desainer Indonesia semakin bergairah memodifikasi tampilan batik sejak batik ditetapkan sebagai Warisan Budaya oleh UNESCO di tahun 2009. Salah satunya adalah brand Populo Batik yang membuat tampilan batik terasa modern dengan warna-warna monokrom pula. Foto: Mohammad Abduh

Desainer mulai berkreasi menciptakan motif sendiri dengan memakai teknik batik. Salah satunya brand Sejauh Mata Memandang yang merilis batik bermotif ayam atau kotak. Foto: Mohammad Abduh/Wolipop

Desainer mulai berkreasi menciptakan motif sendiri dengan memakai teknik batik. Salah satunya brand Sejauh Mata Memandang yang merilis batik bermotif ayam atau kotak. Foto: Mohammad Abduh/Wolipop

Batik yang biasanya tampil dengan warna cerah, kini banyak dibuat dalam nuansa warna monokrom dan netral. Misalnya koleksi batik Kudus hitam putih ala Barli Asmara, atau sejauh yang memakai satu warna dalam kain-kainnya, misalnya biru navy dengan putih, merah dengan putih dan lain sebagainya. Foto: Mohammad Abduh/Wolipop

Batik yang biasanya tampil dengan warna cerah, kini banyak dibuat dalam nuansa warna monokrom dan netral. Misalnya koleksi batik Kudus hitam putih ala Barli Asmara, atau sejauh yang memakai satu warna dalam kain-kainnya, misalnya biru navy dengan putih, merah dengan putih dan lain sebagainya. Foto: Mohammad Abduh/Wolipop