Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network

Kisah Negeri Para Pendekar di Koleksi Mel Ahyar, Angkat Relief Langka Nias

Daniel Ngantung - wolipop
Rabu, 30 Sep 2026 14:51 WIB
...
Koleksi Mel Ahyar Archipelago Buka Fashion Nation 2026
Koleksi Tano Niha persembahan Mel Ahyar Archipelago di pembukaan Fashion Nation 2026 Senayan City. (Foto: Daniel Ngantung/detikcom)
Jakarta -

Sebuah tas berbahan kulit kayu memantik rasa penasaran desainer Mel Ahyar yang kemudian membawanya ke Pulau Nias. Perjalanan tersebut tak disangka membuahkan sebuah koleksi busana inovatif yang sekaligus menyiratkan kisah-kisah yang hampir punah tentang kejayaan 'Negeri Para Pendekar' itu.

Mel lewat labelnya, Mel Ahyar Archipelago, mempersembahkan koleksi bertajuk 'Tano Niha' di pembukaan Fashion Nation 2026 di Senayan City, Jakarta, baru-baru ini.
Tano Niha berarti Tanah Nias, satu-satunya daerah di Sumatera Utara (Sumut) yang dipisahkan oleh Samudra Hindia.

Terkenal sebagai surga bagi peselancar bule karena gulungan ombaknya yang panjang, pulau seluas 5.625 kilometer persegi itu menawarkan pesona budaya yang mungkin belum lumrah diketahui khalayak.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Salah satunya adalah tradisi memahat yang telah hidup sejak zaman nenek moyang, jauh sebelum era kolonial Belanda.

Mel, yang baru pertama kali berkunjung ke Nias beberapa bulan lalu, terkesima saat menginjakkan kaki di rumah adat yang dibangun dari kayu.
Ukiran-ukiran kayu yang menghiasi interior dan eksterior rumah langsung menarik perhatian desainer anggota Ikatan Perancang Mode Indonesia (IPMI) itu.

ADVERTISEMENT

"Mereka banyak bercerita lewat ukiran," ungkapnya saat berbincang dengan awak media dalam sebuah sesi khusus yang digelar di butik Mel Ahyar Archipelago, Senayan City, sepekan setelah peragaan.

Mel Ahyar menjelaskan koleksi Tano Niha yang terinspirasi dari budaya Nias di butik Mel Ahyar Archipelago, Senayan City, pada Jumat (25/9/2026). Koleksi tersebut sudah ditampilkan sepekan sebelumnya di pembukaan Fashion Nation 2026.Mel Ahyar menjelaskan koleksi Tano Niha yang terinspirasi dari budaya Nias di butik Mel Ahyar Archipelago, Senayan City, pada Jumat (25/9/2026). Koleksi tersebut sudah ditampilkan sepekan sebelumnya di pembukaan Fashion Nation 2026. (Foto: Daniel Ngantung/detikcom)

Dari penuturan warga setempat, ukiran tersebut merekam seluruh peninggalan peradaban, hukum adat, hingga peristiwa bersejarah.

Mulanya, penduduk asli lebih terbiasa membuat relief di bebatuan. Lalu, perlahan bergeser ke kayu karena lebih mudah diukir. Mel menduga jenis kayu yang digunakan adalah mahoni karena kondisinya masih kokoh hingga saat ini.

Mengukir menjadi media komunikasi mereka sebelum misionaris Eropa datang ke Nias pada abad ke-19 dan memperkenalkan abjad Latin. "Sedihnya, mungkin karena Nias sudah sering didatangi wisatawan asing, ukiran langka peninggalan nenek moyang mereka semakin sedikit karena sudah dijual atas alasan faktor ekonomi," tutur Mel.

Seni mengukir juga mulai ditinggalkan setelah masyarakat mulai menganut agama yang datang dari luar Nias, seperti Kristen dan Islam, karena dianggap sebagai bentuk penyembahan berhala.

Mel Ahyar menjelaskan koleksi Tano Niha yang terinspirasi dari budaya Nias di butik Mel Ahyar Archipelago, Senayan City, pada Jumat (25/9/2026). Koleksi tersebut sudah ditampilkan sepekan sebelumnya di pembukaan Fashion Nation 2026.Foto: Daniel Ngantung/detikcom

Sebelum kisah itu hilang sepenuhnya, Mel 'menuturkan ulang' lewat 20 set busana wanita dan pria bersiluet kekinian yang menonjolkan ornamen seperti relief.
Salah satunya tampak pada crop-blouse abu-abu berpeplum sheer yang menerawang. Atasan ini dihiasi motif ukiran yang dibuat dengan teknik sulam.

Ia pertama-tama membuat pola motif berdasarkan foto relief yang diambilnya. Foto tersebut dicetak untuk dijadikan pola di atas kain, lalu diberi isian sebelum disulam sehingga memberi efek tiga dimensi dan menciptakan hasil akhir yang menyerupai ukiran.

Kisah relief yang diangkat Mel cukup beragam, tetapi lebih banyak bercerita tentang karakteristik masyarakat Nias sebagai pejuang andal.

"Nias dulunya dijuluki negeri para pendekar. Nggak heran ketika kami bertemu dengan para tetua adat di sana, pakaian mereka seperti orang yang mau berperang, dilengkapi pedang," ungkap Arie Panca, suami Mel sekaligus co-founder dan CEO Maison Mac (Maison Mac menaungi label Mel Ahyar, Mel Ahyar Archipelago, Happa, dan XY).

Koleksi Mel Ahyar Archipelago Buka Fashion Nation 2026Koleksi Mel Ahyar Archipelago Buka Fashion Nation 2026. (Foto: Daniel Ngantung/detikcom)

Tekstur yang mendominasi koleksi ini tak semata memberikan karakter unik, tetapi juga menjadi bukti sebuah inovasi tentang bagaimana warisan budaya dapat diinterpretasikan ke dalam produk fashion, khususnya busana.

Cara yang segar ini tentunya bisa menjadi alternatif selain wastra. Dulu, ungkap Mel, Nias memiliki tradisi menenun. Bentuk kainnya seperti karung goni, tetapi sekarang sudah jarang ditemui perajin tenun tersebut.

Mel, yang tergabung dalam kepengurusan Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda), pun mendorong usulan penyediaan alat tenun bukan mesin (ATBM) bagi masyarakat Nias. Ia berharap koleksi berikutnya akan menyertakan tenun buatan masyarakat Nias.

Anggun Cipta Sasmi dan putrinya, Kirana Cipta Montana Sasmi, berjalan di catwalk Mel Ahyar Archipelago saat pembukaan Fashion Nation 2026 di Senayan City, Jumat (18/9/2026).Koleksi lengkap Tano Niha karya Mel Ahyar. (Foto: Daniel Ngantung/detikcom)

Untuk sementara ini, karya perajin lokal terasa kuat lewat pilihan aksesori yang melengkapi penampilan para model. Salah satunya tas dari kulit kayu yang mengawali perjalanan Mel ke Nias.

"Awalnya gara-gara dikirimi tas kulit kayu dari Dekranasda. Aku jadi penasaran dan akhirnya berangkat ke Nias," ujar Mel yang juga mendapat dukungan penuh dari Dekranasda Sumut yang diketahui Kahiyang Ayu, istri Gubernur Sumut Bobby Nasution.

Sebagai look penutup, muncul sebuah gaun putih lengan panjang yang tampak seperti dilapisi plastik. Rupanya, Mel menggunakan kertas bordir water soluble, yakni, kertas yang menyerupai plastik tipis transparan yang biasa digunakan dalam proses pembuatan bordir.

Mel Ahyar menjelaskan koleksi Tano Niha yang terinspirasi dari budaya Nias di butik Mel Ahyar Archipelago, Senayan City, pada Jumat (25/9/2026). Koleksi tersebut sudah ditampilkan sepekan sebelumnya di pembukaan Fashion Nation 2026.Foto: Daniel Ngantung/detikcom

Kertas tersebut berfungsi untuk menjaga kain tidak bergeser saat proses membordir. Setelah proses bordir selesai, bahan ini bisa dihilangkan dengan mudah cukup dicuci atau dibilas menggunakan air hingga larut tanpa merusak hasil sulaman.

"Pesannya, saya ingin mengajak kita untuk menghargai satu proses dalam pembuatan sebuah karya. Kertas soluble ini adalah bagian dari proses penting dalam pembuatan baju yang dibordir," kata Mel kepada Wolipop usai peragaan.

Tampilan penutup tersebut turut dilengkapi tas antik dari kayu buatan perajin lokal yang dihiasi ukiran burung. Dalam budaya Nias, burung diyakini menduduki kasta tertinggi hewan karena mampu terbang dan melihat dari ketinggian.

Tak sabar untuk melihat kelanjutan inovasi Mel dengan budaya Nias yang hampir langka ini.

(dtg/dtg)
...
Hide Ads