Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network

Peggy Hartanto Perdana Eksplorasi Wastra, Hadirkan Koleksi Tenun Batak

Daniel Ngantung - wolipop
Kamis, 10 Sep 2026 19:33 WIB
...
Koleksi Tobatenun x  Peggy Hartanto
Koleksi Peggy Hartanto x Tobatenun (Foto: Daniel Ngantung/detikcom)
Jakarta -

Desainer Peggy Hartanto untuk pertama kalinya berkreasi dengan wastra. Berkolaborasi dengan Tobatenun, ia membuat koleksi dari tenun Batak.

Koleksi tersebut diperkenalkan dalam 'Tullom', perhelatan intim yang digelar Tobatenun untuk menandai delapan tahun perjalanannya. Dalam acara yang berlangsung di Sopo Del, Jakarta, pada Rabu (9/9/2026) itu, interpretasi Peggy terhadap Tenun Batak menjadi salah satu sorotan utama.

Peggy, yang berbasis di Surabaya, Jawa Timur, sudah lebih dulu mempresentasikan 16 set busana itu di panggung Karya Kreatif Indonesia (KKI) 2026 yang digelar Bank Indonesia beberapa waktu lalu.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Koleksi Tobatenun x  Peggy HartantoKoleksi Tobatenun x Peggy Hartanto Foto: Daniel Ngantung/detikcom

'Sang Penari', demikian ia menamai koleksi ini karena terinspirasi oleh ibunya yang pernah berprofesi sebagai penari tradisional.

Chief Marketing Officer Tobatenun Moza Pramitha mengatakan Tobatenun beberapa tahun terakhir memang gencar menggandeng desainer agar tenun batak semakin dikenal luas.

ADVERTISEMENT

"Tapi kali ini terasa sangat spesial karena Peggy memilih tenun batak untuk karya pertamanya dengan kain Nusantara," ungkap Moza kepada Wolipop.

Kendati demikian, Peggy dan tim berhasil mengeksekusi dengan pendekatan desainnya tanpa meninggalkan ciri khas tenun itu sendiri.

Koleksi Tobatenun x  Peggy HartantoKoleksi Tobatenun x Peggy Hartanto (Foto: Daniel Ngantung/detikcom)

Siluet elegan Peggy yang identik dengan potongan scallop atau tepian bergelombang terasa harmonis dengan motif tenun Batak, seperti Tumtuman, yang cenderung bergaris tegas.

Butuh ketelitian lebih untuk memastikan kedua elemen yang kontras itu menyatu. "Dapat cerita dari Peggy sendiri, bahwa ahli potongnya menolak untuk direkam dengan kamera karena takut gugup dan bakal membuat potongannya tidak presisi," ungkap Anung Kamaswara, Associate Creative Director & External Communication Tobatenun, mewakili Peggy yang berhalangan hadir.

Dalam koleksi ini, tenun ATBM diolah menjadi busana dengan tampilan kontemporer. Sementara itu, tenun Batak Gedogan yang sarat sejarah mendapatkan interpretasi baru tanpa menghilangkan identitas dan nilai yang terkandung di dalamnya.

Koleksi Tobatenun x  Peggy HartantoKoleksi Tobatenun x Peggy Hartanto (Foto: Daniel Ngantung/detikcom)

Salah satu karya yang mencuri perhatian adalah apron vest berbahan Ulos Sadum. Kain tersebut memiliki makna sebagai simbol harapan dan kebahagiaan.

Di luar makna kain yang filosofis, fungsionalitas juga sangat diperhatikan. Hadir sebuah jaket crop dengan train atau ekor yang dapat dilepas atau detachable. "Ini bisa dibuat styling yang berbeda-beda," kata Moza.

Ia mengungkapkan, tak menyangka antusiasme terhadap koleksi yang awalnya tidak untuk dijual ini. Sudah banyak yang memesan, tapi belum dapat terakomodasi karena kain tenun masih terbatas.

Eksplorasi tersebut memperlihatkan bagaimana wastra dapat bergerak melampaui konteks tradisionalnya. Di tangan Peggy, tenun Batak hadir sebagai bagian dari busana modern, dengan konstruksi dan proporsi yang menawarkan perspektif baru bagi pencinta mode.

Koleksi Tobatenun x  Peggy HartantoKoleksi Tobatenun x Peggy Hartanto (Foto: Daniel Ngantung/detikcom)

Kolaborasi dengan Peggy Hartanto menjadi salah satu bagian dari perhelatan Tullom yang membawa tema tentang keberlanjutan perjalanan Tobatenun. Dalam bahasa Batak Toba, 'tullom' berarti 'terus', merepresentasikan semangat untuk terus bergerak, berkembang, dan mencari kemungkinan baru.

Selain koleksi Peggy, Tullom turut menampilkan koleksi spesial ulang tahun ke-8 Tobatenun, kurasi Tenun Songket Batak dari Jabu Bonang, serta kolaborasi terbaru Tobatenun dengan desainer Amot Syamsurimuda bertajuk 'Heirloom Fantasy' di JF3 Fashion Festival 2026.

Turut dipajang hasil pengembangan Jabu Bonang, rumah penenun yang didirikan Tobatenun, berupa Tenun Songket Batak Kreasi dari Pulau Samosir, Tarutung hingga Labuhanbatu, yang sebelumnya dipamerkan di Indonesia Fashion Week 2026.

Sejak berdiri pada 2018, Tobatenun memang membawa misi melestarikan sekaligus merevitalisasi kain tradisional, khususnya warisan budaya Batak, melalui pemberdayaan komunitas dan pengembangan produk untuk pasar mode kontemporer.

Dengan lebih dari 300 partonun, atau perajin dalam bahasa Batak, di berbagai wilayah Sumatera Utara, Tobatenun juga menjalankan prinsip fair trade, termasuk memastikan para mitra perajin mendapatkan kompensasi yang layak.

Lewat kolaborasi Peggy Hartanto dan Tobatenun, tenun Batak kembali menunjukkan bahwa warisan tradisi bisa terus berkembang tanpa kehilangan akar. 'Sang Penari' sekali lagi menjadi bukti bagaimana sebuah kain dengan sejarah panjang dapat diterjemahkan menjadi busana yang lebih relevan dengan selera dan kehidupan perempuan masa kini.

(dtg/dtg)
...
Hide Ads