Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network

Kisah Motif Ratu Wilhelmina di Kain Sumba, Jejak Kolonial dalam Tradisi Tenun

Daniel Ngantung - wolipop
Rabu, 09 Sep 2026 16:35 WIB
...
Asha Smara Darra atau Oscar Lawalata bersama Oscar Lawalata Culture memperkenalkan Umaratu untuk perajin di NTT.
Tenun Sumba motif Ratu Wilhelmina. (Foto: Daniel Ngantung/detikcom)
Jakarta -

Penjajahan Belanda rupanya turut memengaruhi tradisi menenun di Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT). Jejak era kolonial itu mewujud dalam motif dengan sentuhan kearifan lokal.

Hasilnya dapat terlihat di salah satu kain yang dipajang di pameran 'Umaratu - Rumah Ibu Bumi' yang digelar desainer Oscar Lawalata, atau kini dikenal sebagai Asha Smara Darra, di Dharmawangsa Hotel, Jakarta, baru-baru ini.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kain karya perajin di Desa Rende Praiyawang itu dihiasi motif berbentuk orang yang diyakini sebagai Ratu Wilhelmina (1880-1962) dari Belanda.

"Di Kampung Rende, ada satu bangunan rumah dulu tempat tinggal dan kantor orang Belanda," ujar Umbu Kudu Maramba Lewa, pemuda asal Sumba Timur, tentang eksistensi Belanda di wilayah tersebut.

ADVERTISEMENT
Asha Smara Darra atau Oscar Lawalata bersama Oscar Lawalata Culture memperkenalkan Umaratu untuk perajin di NTT.Uka, ditemani ibunya, Mama Rambu Margaretha, menunjukkan kain tenun Sumba yang dihiasi motif Ratu Wilhelmina. (Foto: Daniel Ngantung/detikcom)

Uka, demikian ia akrab disapa, menuturkan masyarakat lokal kala itu sebenarnya tidak mengenal siapa sebenarnya siapa sosok Wilhelmina. Namun, wajahnya terasa familier karena sering ditemui di uang koin dan tongkat raja-raja lokal.

Sudah menjadi ciri khas perajin di Sumba membuat tenun dengan motif yang berada di sekitar mereka, terutama flora dan fauna, khususnya kuda. Mereka pun menerjemahkan sosok Ratu ke dalam bentuk motif.

Kain tersebut menjadi salah satu bukti pengaruh kolonial dan benda asing yang diserap ke dalam sistem visual Sumba. Tampak pada kain yang dipamerkan, figur manusia bermahkota yang dikelilingi ornamen-ornamen seperti ular.

"Kalau ini motif buah pinang. Diceritakan bahwa pada saat Belanda datang, sedang musim buah pinang," ungkap pria 27 tahun itu.

Kain yang merupakan koleksi pribadi keluarga Uka tersebut diprediksi dibuat pada 1990-an atau sudah berusia 30 tahun lebih. Artinya, penenun masih menggunakan motif tersebut setelah Belanda tak lagi berkuasa di sana.

Uka menjelaskan, saat ini kain seperti itu sudah jarang ditemui karena pembuatannya yang bisa memakan waktu hingga 12 bulan.

Asha Smara Darra atau Oscar Lawalata bersama Oscar Lawalata Culture memperkenalkan Umaratu untuk perajin di NTT.Koleksi tenun Sumba Timur di pameran Umaratu. (Foto: Daniel Ngantung/detikcom)

Sangat lama karena menggunakan teknik Hondu Kihil, yaitu mengaplikasikan dua bidang dengan gambar yang berbeda dalam satu kain. "Prosesnya akan dua kali lebih rumit dari biasanya dan lama pada saat di ikat gambar," ungkap Uka yang tumbuh di tengah keluarga penenun itu.

Tak heran bila nilai satu lembar kain tersebut bisa mencapai puluhan juta rupiah. "Bisa di atas Rp 35 juta tergantung siapa yang bisa menawar dengan harga tertinggi. Kalau dijual pun, kami harus memastikan calon pembeli harus betul-betul tahu sejarah dan menghargai tenun ikat," katanya.

(dtg/dtg)
...
Hide Ads