Gaunnya Viral, Olivia Rodrigo Selamatkan Brand Palestina yang Hampir Bangkrut
Satu pesanan dari Olivia Rodrigo datang di saat yang tidak terduga bagi Yasmeen Mjalli. Desainer Palestina-Amerika tersebut tengah berada di titik ketika ia hampir menyerah dan menutup label fashion miliknya, Nöl Collective.
Masalah bermula ketika salah satu produk Nöl Collective yang akan digunakan untuk koleksi musim gugur ditahan dan dihancurkan otoritas bea cukai Israel. Material yang digunakan berupa wol tenun tangan dengan pewarna alami.
Yasmeen kemudian berusaha mencari bahan pengganti dari Yerusalem. Namun, upaya tersebut kembali terjegal karena akses jalan dari Ramallah ditutup militer. Situasi itu membuat proses produksi semakin sulit.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Label yang didirikan pada 2020 tersebut memang mengandalkan serat alami dalam sebagian besar koleksinya. Berbasis di Tepi Barat, Yasmeen menghadapi berbagai tantangan dalam mendapatkan bahan dan memproduksi pakaian akibat pembatasan akses di wilayah tersebut.
Setelah berbagai upaya menemui jalan buntu, Yasmeen mulai kehilangan harapan. Hingga kemudian, Olivia Rodrigo datang dengan sebuah pesanan yang membuka peluang besar bagi Nöl Collective untuk tetap bertahan.
Pesanan dari Olivia Rodrigo yang Mengubah Segalanya
Olivia Rodrigo memesan sebuah gaun untuk dikenakan di festival musik Daisy Chain Fields yang pertama kali digelar olehnya. Saat mendapat pesanan, Yasmeen hanya memiliki waktu kurang dari satu minggu untuk menyelesaikan gaun tersebut.
Dengan bantuan seorang teman, ia akhirnya berhasil mendapatkan serat sutra berwarna pink lembut di Ramallah. Material tersebut kemudian digunakan untuk membuat gaun yang nantinya dikenakan Olivia.
Olivia Rodrigo (paling tengah) menghadiri acara presentasi pers Daisy Chain Fields milik Olivia Rodrigo pada 28 Agustus 2026 di Santa Monica, California. Foto: Kevin Mazur/Getty Images for Dai/Kevin Mazur |
Dalam wawancara dengan Vogue Arabia, Yasmeen mengaku saat itu dia sudah sangat lelah dan sempat mempertimbangkan untuk menghentikan bisnisnya.
"Saya benar-benar berpikir, mungkin kami harus berhenti, mungkin ini adalah usaha terakhir kami. Saya sangat lelah," ujar Yasmeen.
Setelah gaun rampung, muncul masalah baru. Tidak ada layanan kurir yang bisa mengirimkannya ke Los Angeles tepat waktu untuk festival. Yasmeen akhirnya meminta bantuan dua orang asing untuk membawa gaun tersebut. Berkat bantuan mereka, busana itu berhasil sampai ke tangan Olivia.
Musisi 23 tahun itu kemudian mengenakan gaun berwarna pink lembut tersebut di acara Daisy Chain Fields di Irvine, California, pada 29 Agustus 2026. Gaun itu menampilkan teknik kerajinan tradisional Palestina, termasuk bordir tatreez, tenun tangan, serta pewarnaan alami.
Bagi Yasmeen, perjalanan membuat gaun tersebut menunjukkan bahwa berbagai hambatan tidak selalu bisa dihindari. Namun, kemampuan untuk beradaptasi menjadi bagian penting dalam mempertahankan karyanya.
"Hambatan akan selalu ada, tetapi jika kamu bisa beradaptasi, kamu akan mendapatkan hasilnya. Saya terus bangkit, terus bangkit, dan terus bangkit," kata Yasmeen.
(hst/hst)










































