Cinta Tenun Sumba, Oscar Lawalata Bangun Rumah Budaya di NTT
Di mata Oscar Lawalata atau kini lebih dikenal sebagai Asha Smara Darra, tenun Sumba menawarkan daya tarik tersendiri. Termotivasi untuk turut terlibat dalam upaya pelestariannya, ia kemudian menggagas yayasan Umaratu.
Umaratu yang berarti 'rumah ibu bumi' mewujud dalam bentuk sebuah rumah budaya yang saat ini masih dalam tahap pembangunan di Maujawa, Sumba Timur.
Pekan lalu, Asha memperkenalkan Umaratu dalam bentuk pameran di Dharmawangsa Hotel, Jakarta. Digelar menjelang Hari Tenun Nasional yang jatuh pada 7 September, pameran tersebut menampilkan beragam tenun karya perajin dari Kampung Raja Prailiu, Pau, Rende, serta Kampung Adat Kanatang dan Kaliuda.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kehadiran Umaratu sekaligus menandai 25 tahun Asha berkarier sebagai desainer fashion. Pada masa awal terjun ke industri mode Tanah Air, pendiri label Oscar Lawalata Culture itu sebenarnya sudah mulai terekspos dengan beragam kain tradisional.
Asha mendengarkan penjelasan Uka, salah satu pemuda lokal Sumba, tentang kain Sumba yang dipamerkan di peluncuran Umaratu. (Foto: Daniel Ngantung/detikcom) |
"Saat itu, banyak desainer, termasuk saya, tidak memiliki pengetahuan mendalam tentang wastra. Kami hanya melihat di permukaan. Namun, seiring waktu, saya mulai belajar tentang sejarah, bagaimana kain itu dibuat dan menjadi identitas kelompok masyarakat," ungkapnya.
Keindahan kain Sumba dengan motif yang menceritakan keagungan leluhur dan alam membuat Asha jatuh hati. Ketertarikannya kemudian membawa Oscar untuk bertemu dengan perajin dan melihat langsung tradisi menenun itu tetap hidup di tengah tantangan perekonomian.
Menurutnya, pemberdayaan perajin, khususnya para perempuan yang memiliki peran vital sebagai penjaga gawang budaya lokal, belum terlalu maksimal sehingga hidup mereka belum sepenuhnya sejahtera.
Ia melihat memang sudah banyak program dari berbagai pihak, baik pemerintah maupun swasta, yang bertujuan untuk memberdayakan masyarakat setempat. Hanya saja, tidak terlalu berdampak karena hanya sekali jalan. "Butuh konsistensi lebih jika ingin benar-benar membawa perubahan nyata," tambah Asha.
"Butuh konsistensi lebih jika ingin benar-benar membawa perubahan nyata," kata Asha tentang upaya pemberdayaan perajin yang harus berkelanjuntan. (Foto: Daniel Ngantung/detikcom |
Regenerasi perajin selalu menjadi tantangan dalam pelestarian suatu kain tradisional. Namun, Asha melihat anak-anak muda di Sumba sebenarnya sangat antusias untuk melanjutkan tradisi menenun apalagi setelah melihat wastra mulai diapresiasi khalayak luas dan menjadi tren dalam bentuk busana yang kekinian.
Di mata generasi Z ke atas yang sangat kritis terhadap masalah pemanasan global, memakai kain adalah cara melakoni gaya hidup yang berkelanjutan karena pembuatannya yang lebih ramah lingkungan dengan pewarnaan alaminya.
"Kami ingin menjadi bagian dari generasi muda yang ingin menyelamatkan bumi," tutur Asha.
Umaratu hadir sebagai wadah pelestarian yang bertumpu pada tiga pilar utama kehidupan: sandang, pangan, dan papan berbasis tradisi lokal. (Foto: Daniel Ngantung/detikcom) |
Umbu Kudu Maramba Lewa, termasuk salah satu pemuda lokal yang terlibat di Umaratu. Aktivitas menenun awalnya memang lebih banyak dilakukan oleh kaum perempuan, tapi belakangan sudah banyak pria yang terlibat seperti Uka, demikian sapaan akrab untuknya.
Ia mencintai tenun sejak kecil karena tumbuh di tengah keluarga penenun. Sebagai bentuk kepedulian dan tanggung jawab untuk melestarikan tenun, ia membuka taman belajar bagi anak SD hingga SMA dengan menyertakan pembelajaran tentang tenun.
"Saya mau generasi muda suka tenun. Kita buat mereka suka dulu supaya mereka mulai mencintai. Pada saat sudah cinta, mereka akan merasa memiliki," kata pria 27 tahun itu.
Sejak didirikan tahun lalu, Umaratu telah menjangkau lebih dari 100 perajin yang tersebar di lima desar sekitar Maujawa.
Umaratu yang secara fisik dibangun di atas lahan seluas 1 hektar ini hadir sebagai wadah pelestarian yang bertumpu pada tiga pilar utama kehidupan: sandang, pangan, dan papan berbasis tradisi lokal. Jadi tak hanya mode, program Umaratu juga mencakup arsitektur dan kuliner.
Asha berharap Umaratu mendapat dukungan dari orang yang peduli dan memiliki komitmen yang sama untuk melestarikan budaya sekaligus memastikan keberlangsungan para insan kreatif lokal, mulai dari perlindungan ekosistem kain tradisional, penguatan ekonomi berbasis kebudayaan, hingga ruang aman bagi tangan-tangan terampil yang menyimpan pengetahuan dan kesabaran lintas generasi.
"Kami melihat hadirnya Uma Ratu ini adalah, mengolah dan mengembangkan masa lalu untuk masa depan," tutupnya.
(dtg/dtg)














































