Dikenal Idealis, Desainer Auguste Soesastro Mulai Coba AI untuk Riset Fashion
Penggunaan AI (artificial intelligence) atau akal imitasi masih menjadi perdebatan di berbagai kalangan, termasuk para pelaku industri kreatif. Perancang mode seperti Auguste Soesastro sudah mulai coba memanfaatkan, tapi dengan tegas membatasi bahwa marwah desain tetaplah sebuah pekerjaan tangan yang tak tergantikan.
Dengan latar belakang keluarga cendekiawan, Auguste selalu mengedepankan intelektualitas manusia dalam proses kreatifnya. Karya yang hampir semua prosesnya dikerjakan secara manual menjadi daya tarik koleksi Auguste dengan label Kraton yang didirikan pada 2008.
Namun, ketika diajak untuk terlibat dalam proyek 'With Gemini, in Craft', ia justru tidak perlu berpikir dua kali untuk mengiyakan. "Saya idealis, tetapi saya juga mau terbuka untuk mengeksplorasi kemungkinan-kemungkinan baru," ungkap Auguste kepada Wolipop baru-baru ini.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia termasuk satu dari tiga nama yang digandeng Google Indonesia untuk mengeksplorasi sejauh mana akal imitasi dapat dieksplorasi dalam membantu pekerjaan mereka. Selain Auguste, ada Stella Risa dan label Two Stitches yang digawangi Andy Tan dan aktor Jerome Kurnia.
Masing-masing memanfaatkan Gemini dengan cara dan tujuan yang berbeda. Bagi Auguste, yang selalu mengangkat budaya Indonesia dalam garis rancangan minimalisnya yang khas, pemakaian AI tidak lebih dari untuk kepentingan riset.
Auguste Soesastro dalam proyek 'With Gemini, in Craft'. (Foto: dok. Google Indonesia) |
Lulusan sekolah mode Ecole de la Chambre Syndicale de la Couture Paris, Prancis, ini wajib melakukan penelitian mendalam setiap sebelum membuat sebuah koleksi untuk memastikan keakuratan referensi yang menjadi inspirasinya. Di mata Auguste, riset tak sekadar metode melainkan sebagai tanggung jawab intelektual.
Hampir dua bulan mengikuti workshop yang diadakan tim Gemini internasional, ia menerapkan pemakaian AI untuk membantu mengerjakan busana pengantin pesanan klien dengan sumber inspirasi budaya dan silsilah keluarga yang cukup kompleks.
Sang klien, Kenya Kamalashila Soekarno, berdarah campuran Latvia dan Jawa. Auguste menggali informasi dari berbagai literatur tentang tradisi busana dari kedua negara.
Sketsa desain Auguste Soesastro yang dibuat setelah melakukan riset dengan Gemini. (Foto: Daniel Ngantung/detikcom) |
Dengan bantuan Gemini, Auguste tidak memperpendek proses riset, melainkan memperdalamnya dengan mengakses arsip internasional yang sebelumnya tidak terjangkau, menerjemahkan catatan sejarah berbahasa asing, serta melakukan referensi silang terhadap dokumentasi silsilah lintas generasi.
Selain itu, desainer yang tahun lalu sukses mempersembahkan sebuah koleksi dengan tema wastra Sumatera di Dewi Fashion Knight dalam perhelatan Jakarta Fashion Week 2026 ini, juga mengaplikasikan AI untuk mengidentifikasi dan mengecek orisinalitas desain yang dibuatnya untuk menghindari tuduhan peniruan.
"Peniruan sangat marak di dunia mode, dan ini bisa mengkompromikan integritas kreatif kami," tambahnya.
Meski terbantu dengan Gemini sebagai mitra riset analitis, Auguste masih menemukan tantangan. "Saat ini masih sangat terbatas karena sumber publikasi di Gemini sangat terbatas karena mengandalkan sumber yang diunduh, kami pun sangat kritis terhadap asal-usul dan kredibilitas sumber tersebut," kata Auguste.
Senior Brand, Creative and Social Marketing Google Southeast Asia, Mira Sumanti, mengungkapkan bahwa Indonesia masuk dalam lima negara dengan pengguna Gemini terbesar, bersandingan dengan AS, Brasil, Turki, dan India.
Senior Brand, Creative and Social Marketing Google Southeast Asia, Mira Sumanti di acara 'With Gemini, In Craft', Taman Ismail Marzuki Jakarta, pada Kamis (3/9/2026). (Foto: Daniel Ngantung/detikcom) |
Di Indonesia sendiri, prompt atau instruksi yang paling banyak berkaitan dengan dunia kreatif. "Di sini, kami melihat pangsa Indonesia sangat kreatif. Dengan 'With Gemini, in Craft', kami mau open eksperimen di mana ruang yang Gemini bisa eksplorasi untuk membantu para pelaku industri kreatif, termasuk fashion," jelas Mira kepada Wolipop di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Kamis (3/9/2026).
Perjalanan ketiga desainer dalam memanfaatkan Gemini didokumentasikan dalam sebuah video dokumenter singkat berdurasi 11 menit yang kini sudah tayang di YouTube.
Industri kreatif Indonesia ditopang oleh tiga subsektor, yakni mode, kuliner, dan kriya. Mira pun berharap, makin banyak pelakunya, terutama yang berlatar UMKM, dapat terinspirasi untuk memanfaatkan AI dalam mengasah kreativitas sembari membangun usaha mereka.
Kecerdasan akal imitasi memang bisa sangat membantu, selama kita bijak menggunakannya. Di atas semua itu, pengalaman manusia dalam membentuk sebuah selera yang menjadi keunikan suatu karya tidak dapat tergantikan. Seperti diungkapkan Auguste, "Cita rasa (taste) tidak bisa di-prompt; cita rasa lahir dari alam dan ditempa pengalaman (nature and nurtured)."
(dtg/dtg)














































