Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network

Kontroversi Pameran John Galliano di MET Gala 2027, Tokoh Yahudi Angkat Bicara

Daniel Ngantung - wolipop
Senin, 31 Agu 2026 13:33 WIB
...
OXFORDSHIRE, ENGLAND - DECEMBER 02:  John Galliano attends the gala dinner as The Business of Fashion Presents VOICES on December 2, 2016 in Oxfordshire, England.  (Photo by Samir Hussein/Getty Images for The Business of Fashion)
John Galliano menghadiri gala The Business of Fashion Presents VOICES pada 2016. (Foto: Samir Hussein/Getty Images for The Business of Fashion)
New York City -

Kritik terhadap rencana Metropolitan Museum of Art (The Met) untuk menggelar pameran yang mengangkat kiprah John Galliano terus mengalir. Suasana juga diperkeruh dengan laporan tentang perbuatan antisemitis sang desainer setelah skandal yang mencoreng reputasinya.

Galliano dijadwalkan menjadi subjek pameran selama sembilan bulan yang diselenggarakan Costume Institute. Pameran tersebut rencananya dibuka bertepatan dengan Met Gala 2027, ajang mode tahunan yang berada di bawah pengawasan Anna Wintour.

Penolakan datang dari sejumlah pemimpin komunitas Yahudi, donor, hingga tokoh dunia seni. Sejumlah donor bahkan mengancam akan menarik kembali sumbangan mereka jika pameran tetap digelar sesuai rencana.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kritik tersebut muncul karena rekam jejak Galliano yang pernah dihukum pengadilan Prancis pada 2011 atas pernyataan bernada kebencian terhadap orang Yahudi dan Asia.

ADVERTISEMENT

Julie Menin, Ketua New York City Council sekaligus salah satu pejabat Yahudi paling senior di pemerintahan kota, menyebut keputusan The Met sebagai sebuah kesalahan serius.

Dalam surat kepada pimpinan museum, Menin menegaskan bahwa institusi budaya memiliki tanggung jawab untuk menunjukkan bahwa kebencian dan fanatisme memiliki konsekuensi. "Kata-kata penting, dan siapa yang kita pilih untuk diangkat adalah pernyataan langsung tentang nilai-nilai kita dan apa yang bersedia kita toleransi," tulisnya seperti dikutip The New York Times.

Direktur The Met Max Hollein mengatakan pihak museum memahami kekhawatiran yang muncul. "The Met tidak menoleransi antisemitisme, rasisme, atau prasangka dalam bentuk apa pun," kata Hollein.

Fashion designer John Galliano and Bernard Arnault at the Christian Dior Haute Couture Fall/Winter 2008/2009 fashion show at Paris Fashion Week. (Photo by Stephane Cardinale/Corbis via Getty Images)John Galliano bersama Bernard Arnault, pendiri LVMH yang menaungi rumah mode Dior dan Givenchy, pada 2009. (Foto: Stephane Cardinale/Corbis via Getty Images)

Ia menambahkan bahwa pihak museum tengah berkonsultasi dengan pemimpin komunitas Yahudi dan pemangku kepentingan lainnya untuk memastikan pameran dan Met Gala tahun depan memenuhi standar moral dan etika museum.

Galliano sendiri memiliki perjalanan karier yang panjang di dunia mode. Sempat menangani Givenchy (dan menjadi desainer Inggris pertama yang memimpin rumah mode Prancis), ia kemudian pindah ke Dior dan menjadikannya sebagai salah satu nama global terkemuka sebelum akhirnya dipecat setelah 15 tahun mengabdi sebagai direktur kreatif karena skandal tersebut.

Setelah meminta maaf dan menjalani rehabilitasi, Galliano kemudian mempelajari isu Yudaisme, antisemitisme, dan Holocaust. Pada 2014, empat kali pemenang British Designer of the Year ini kembali ke industri mode sebagai direktur kreatif Maison Margiela dan bertahan selama satu dekade.

Anna Wintour, yang selama ini mendukung Galliano dan membantunya kembali ke dunia mode, menyatakan bahwa sang desainer layak mendapatkan pameran berskala besar. "Tidak ada seorang pun yang lebih pantas mendapatkan pameran sebesar ini selain John Galliano," ujar Wintour. Menurutnya, karier Galliano tidak semestinya didefinisikan hanya oleh satu momen.

Curator Andrew Bolton displays garments in the conservation space of the Costume Institute of the Metropolitan Museum of Art in Manhattan, Nov. 8, 2023. The garments will be part of the upcoming spring exhibit at the Costume Institute, launched by the Met Gala. Andrew Bolton, kurator Costume Institute di Metropolitan Museum of Art, New York City. (Foto: AP Photo/Jocelyn Noveck)

Andrew Bolton, kurator Costume Institute, mengatakan bahwa sejarah kelam Galliano justru tidak akan diabaikan dalam pameran. "Tidak ada penilaian kritis terhadap karier sang desainer yang dapat lengkap tanpa membahas secara langsung kegagalannya," kata Bolton. Namun, ia menegaskan bahwa pameran tersebut tidak bertujuan menentukan apakah Galliano layak mendapatkan pengampunan.

David Ingber, tokoh senior kehidupan Yahudi di 92NY sekaligus rabbi pendiri sinagoga Romemu, memiliki pandangan berbeda. Menurutnya, keputusan menempatkan Galliano sebagai pusat perhatian institusi budaya sebesar The Met menimbulkan persoalan moral.

"Dengan menempatkan Galliano sebagai pusat, The Met telah menempatkan komunitas Yahudi dalam posisi serba salah. Pertanyaannya bukan apakah mereka bisa melakukan ini, tetapi apakah mereka seharusnya melakukannya," ujarnya.

Di tengah perdebatan ini, muncul laporan mengenai dugaan insiden pada 2019 ketika Galliano disebut melontarkan komentar terkait bahasa Ibrani kepada dua perempuan di sebuah spa di Italia. Salah satu saksi, Lauren London, mengaku kepada New York Times mendengar Galliano berulang kali meneriakkan "Merry Christmas!" ketika seorang perempuan berbicara dalam bahasa Ibrani. Galliano melalui juru bicaranya membantah kejadian tersebut.

Di tengah kontroversi, The Met disebut tengah mempertimbangkan perubahan jadwal Met Gala 2027 karena tanggal penyelenggaraannya bertepatan dengan Yom HaShoah, hari peringatan Holocaust dan kepahlawanan.

(dtg/dtg)
...
Hide Ads