Mengenang Yayoi Kusama, Seniman di Balik Kolaborasi Bersejarah Louis Vuitton
"Energinya tidak pernah habis," kenang desainer Marc Jacobs tentang seniman Yayoi Kusama saat mereka pertama kali bertemu pada 2006. Kala itu, Marc masih menjabat sebagai direktur kreatif Louis Vuitton. Pertemuan tersebut kemudian berlanjut dengan sebuah kolaborasi yang cukup bersejarah dalam dunia fashion.
Yayoi Kusama, yang pada Kamis (27/8/2026) diumumkan wafat dalam usia 97 tahun, tidak hanya meninggalkan warisan yang mendobrak dunia seni kontemporer. Karyanya yang provokatif tapi jenaka turut mewarnai industri fashion.
Pada 2012, Louis Vuitton menggandeng sejumlah seniman, termasuk Yayoi, untuk meluncurkan koleksi kapsul eksklusif. Marc Jacobs lah yang pertama kali menginisiasi proyek kolaborasi Louis Vuitton. Koleksi yang mengawinkan dunia seni dan mode belum pernah ada sebelumnya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Koleksi tas Louis Vuitton x Yayoi Kusama. (Foto: Selcuk Acar/Anadolu Agency via Getty Images) |
Sejumlah tas siluet klasik dari rumah mode Prancis yang berusia 172 tahun itu mendapat sentuhan khas Yayoi, seperti polkadot tak sempurna penuh warna.
Bagi Yayoi, menggunakan tas Louis Vuitton untuk mengekspresikan imajinasinya bukan sesuatu yang baru. Marc teringat dalam momen pertemuan pertama mereka, Yayoi sempat menunjukkan tas Speedy, salah satu tas signature Louis Vuitton, yang dilukisnya.
"Dia memamerkan tas Speedy miliknya yang dilukis sendiri olehnya. She was just a charming person," tutur Marc di video yang dirilis Louis Vuitton jelang perilisan koleksi kolaborasi tersebut.
Koleksi mereka berujung kesuksesan global dan menjadi salah satu contoh bagaimana fashion dan seni rupa dapat saling melengkapi.
Satu dekade berlalu dan LV sudah berganti direktur kreatif (divisi busana wanita kini menjadi tanggung jawab desainer Nicolas Ghesquiere), ikatan LV dengan seniman berambut merah ini terus terjalin dengan merilis koleksi kedua mereka pada 2023.
Seniman Yayoi Kusama tetap berkarya meski kesehatan mentalnya terganggun. (Foto: AP Photo/Itsuo Inouye) |
"Setelah proyek pertama saya (dengan LV), saya mendapat banyak respons yang positif dari seluruh dunia. Di proyek terbaru ini juga, saya ingin kembali berbagi filosofi dan pemikiran yang artistik dengan semua orang," ujar Yayoi kepada Tatler.
Sudah berpuluh tahun Yayoi tinggal di rumah sakit jiwa karena kondisi mentalnya terganggu. Namun, itu bukan penghalang baginya untuk tetap berkarya. Enam hari dalam sepekan, ia pergi ke studionya yang berada di seberang rumah sakit.
"Sampai di studio pagi hari, saya pakai baju kerja dan langsung mulai melukis, dan terus seperti itu sampai waktunya makan malam. Saya tidak istirahat karena saya insomnia. Bahkan ketika ide muncul di tengah malam, saya akan mengambil buku sketsa untuk menggambar," ujar Yayoi kepada The Guardian pada 2018 lalu.
Kehadiran koleksi Louis Vuitton dan Yayoi seakan menjadi sebuah selebrasi atas dedikasi sang seniman. Melihat antusiasme pasar, rumah mode yang berada di bawah naungan LVMH itu merilis fashion item lebih banyak dari koleksi pertama.
Tak tanggung-tanggung, ada 450 artikel yang tak hanya mencakup busana dan aksesori wanita saja. Untuk pertama kalinya, produk untuk pria juga mendapat treatment polkadot khas Kusama yang tersohor itu. Sneakers, botol parfum, hingga kacamata pun tak ketinggalan.
Teknologi 3D diadopsi secara khusus untuk membuat polkadot di permukaan monogram LV terasa lebih nyata seakan baru dilukis oleh Kusama. Harganya pun melambung fantastis. Salah satunya Louis Vuitton x Yayoi Kusama Capucines MM yang saat itu dijual seharga US$ 8.800 (Rp 156 juta, kurs Rp 17.700)
Euforia perilisan LV x YK teranyar semakin terasa dengan window display nan atraktif di beberapa butik besar LV. Di salah satu butik Louis Vuitton di New York City, AS, hadir Yayoi Kusama versi robot sedang melukis polkadot di jendela kaca. Sementara itu, balon raksasa Yayoi Kusama menginvasi flagship store Louis Vuitton di Champs-Elysee, Paris.
Louis Vuitton meluncurkan koleksi kedua bersama Yayoi Kusama dengan dekorasi megah di flagship store Paris pada 2023. (Foto: Cyril Marcilhacy/Bloomberg via Getty Images) |
Lahir dalam keluarga yang disfungsional dan penuh kekerasan pada tahun 1929, Yayoi menghabiskan sebagian besar masa kecilnya bekerja di pabrik militer, menjahit parasut untuk tentara kekaisaran Jepang selama Perang Dunia II.
Pada masa itu, ia mengalami halusinasi yang sangat nyata, yang membanjiri dunianya dengan motif polkadot yang kelak menjadi ciri khas karyanya.
Lewat seni, Yayoi menyuarakan kegundahannnya terhadap kondisi dunia. Keberaniannya untuk bersuara juga memotivasi Yayoi untuk menyurati Presiden AS Richard Nixon pada 1968 sebagai bentuk protes terhadap Perang Vietnam. Dalam tulisan yang kontroversial itu, ia menawarkan jasa seks kepada sang pemimpin Negeri Paman Sam itu jika mau menghentikan Perang Vietnam.
Marc Jacobs saat peragaan Louis Vuitton Ready-To-Wear Fall/Winter 2012 (Foto: Michel Dufour/WireImage) |
Karya Yayoi Kusama melampaui ruang dan waktu. Pada 2016, Yayoi yang meninggal pada Jumat (14/8/2026) masuk dalam daftar 100 orang paling berpengaruh di dunia versi majalah Time. Marc, desainer pertama yang merilis koleksi busana siap pakai Louis Vuitton, mendapat kehormatan untuk menulis catatan kecil tentang Yayoi.
"Saya mengagumi dedikasinya yang tanpa kompromi terhadap visinya, yang pada saat yang sama tetap memberinya ruang untuk terus berkembang dan berubah. Ketika orang-orang melihat kembali karya-karyanya puluhan tahun dari sekarang, mereka akan melihat bahwa gagasannya tentang penciptaan dan ketakterhinggaan memiliki daya tahan yang abadi," tulis Marc.
(dtg/dtg)















































