5 Pameran Wastra di Jakarta, Kain Nusantara Hadir dengan Instalasi Kontemporer
Beberapa di antaranya digelar di pusat belanja dan tidak dipungut biaya alias gratis. Menariknya, pameran dikemas dengan instalasi yang berkonsep kontemporer, disertai narasi yang informatif.
Nah, apa saja pameran yang digelar? Simak detailnya berikut ini:
1. 'Menjaga Warisan untuk Masa Depan' (Museum Tekstil)
Koleksi ulos sumbangan Torang Sitorus ditampilkan di pameran 'Menjaga Warisan untuk Masa Depan' yang digelar Museum Tekstil. (Foto: Daniel Ngantung/detikcom)
Salah satu highlight di pameran yang juga hadir untuk merayakan HUT ke-499 DKI Jakarta ini adalah Bendera Kesultanan Cirebon yang menjadi saksi bisu perjuangan melawan penjajah di Sunda Kelapa. Pihak museum menampilkan versi replika karena bendera asli yang pernah dibawa Fatahillah saat menyerang Portugis di Sunda Kelapa pada 1527 dalam kondisi ringkih.
Di pameran yang berlangsung hingga 31 Agustus ini, kamu juga bisa melihat karya maestro batik Go Tik Swan (Iwan Tirta berguru padanya) hingga koleksi tenun Batak sumbangan kolektor dan perajin ulos Torang Sitorus.
'Menjaga Warisan untuk Masa Depan'
Museum Tekstil
Jl. K.S. Tubun No.2-4, Tanah Abang, Jakarta Pusat
Buka: 09.00-15.00 WIB
2. 'Heritage Reimagined' (ASHTA District 8)
Pameran Fashion 'Heritage Reimagined' persembahan Wilsen Willim di Ahsta Distric 8 hingga 31 Agustus 2026. (Foto: Daniel Ngantung/detikcom) |
Menyusul kesuksesan peragaan Algorithm: Universal Language yang merayakan 10 tahunnya berkarya, desainer Wilsen Willim menggelar pameran Heritage Reimagined.
Instalasi menampilkan beberapa kreasi utama Wilsen dari koleksi couture perdana yang naik pentas di peragaan tersebut. Adapun karya monumentalnya ini digarap dengan mengeksplorasi berbagai jenis tenun, mulai dari tenun sutra Garut (Jawa Barat), tenun Dayak Iban dari Kapuas Hulu Putussibau (Kalimantan Barat), songket Jembrana (Bali), dan songket Minang Halaban (Sumatera Barat). Ia juga menggunakan batik tulis cirebon untuk menghadirkan motif algoritma buatannya.
Turut menyertai koleksi yang dipamerkan, sepatu koleksi Bocorocco x Wilsen Willim, dan aksesori dari Subeng Klasik x Wilsen Willim 2.0. Pembukaan pameran yang berlangsung hingga 30 Agustus ini dibarengi dengan peluncuran koleksi kolaborasi Wilsen dan aktris Dian Sastrowardoyo.
'Heritage Reimagined'
Melting Pot, Ground Floor ASHTA District 8
Jl. Senopati No.83 Jakarta Selatan
Buka: 10.00-22.00 WIB
3. 'The Sacred of Sumba' (Plaza Indonesia)
Pameran 'The Sacred Horse of Sumba' di Plaza Indonesia. (Foto: Daniel Ngantung/detikcom)
Plaza Indonesia berkolaborasi dengan Cita Tenun Indonesia (CTI), NUSAE, Luxina, dan The Riserva menghadirkan instalasi kontemporer yang didesain oleh Nusae. Warna biru dan merah yang menonjol terinspirasi dari palet khas tenun Sumba. Narasi dengan grafis yang menarik membantu pengunjung memahami lebih dalam budaya Sumba.
Berada di antara butik Chanel yang sedang direnovasi dan butik Lanvin, pameran yang berlangsung hingga 31 Agustus ini sekaligus menciptakan dialog bagaimana kuda juga telah menjadi simbol kemewahan dalam perspektif modern.
'The Sacred of Sumba'
Level 1, Plaza Indonesia
Jl. M.H. Thamrin No.28-30 Jakarta Pusat
Buka: 10.00 - 22.00 WIB
4. 'Weaving Archipelago' (Senayan City)
Cita Tenun Indonesia menggelar pameran 'Weaving Archipelago' di Senayan City Jakarta hingga 29 Agustus 2026. (Foto: Daniel Ngantung/detikcom) |
Hanya sepekan setelah meresmikan pameran kain tenun Sumba, CTI mempersembahkan 'Weaving Archipelago' di Senayan City. Hingga 29 Agustus mendatang, pengunjung dapat melihat deretan kain Nusantara karya para perajin dari sepuluh daerah di Indonesia yang masuk dalam cakupan program pembinaan CTI selama 18 tahun berdiri.
Kain-kain yang dipamerkan merupakan hasil karya penenun setelah dibina CTI dan mitranya, para desainer kenamaan seperti Sebastian Gunawan, Biyan Wanaatmadja, Denny Wirawan, Didi Budiardjo, dan Wilsen Willim. Instalasi 'Weaving Archipelago' dirancang oleh desainer interior kenamaan Rina Renville dengan mengusung konsep 'Rajutan Nusantara'. Ia membuat area pameran yang seakan saling terhubung seperti pulau-pulau Nusantara, dan dikelilingi pegunungan.
Selain kain, pengunjung juga diajak untuk menyaksikan langsung proses pembuatan tenun. CTI mendatangkan perajin songket Pandai Sikek dari Sumatera Barat untuk menenun dengan ATBM (alat tenun bukan mesin) di pameran tersebut.
'Weaving Archipelago'
Promenade, Senayan City
Jl. Asia Afrika No.19 Jakarta Pusat
Buka: 10.00 - 22.00 WIB
5. 'Renjana Perca' (Grand Indonesia)
Pameran Renjana Perca persembahan Purana di Grand Indonesia, Jakarta. (Foto: Dok. Purana)
Hadir The Living Archive, semacam galeri museum yang menampilkan instalasi seni dari sisa kain perca karya 12 seniman lintas disiplin yang digandeng Purana seperti Sutjipto Adi, Ruth Marbun, Agan Harahap, Hendra 'HeHe' Harsono, Sarkodit, Suanjaya Kencut, Anton Afganial, Francisca "Kika" Puspitasari (Kaloka Pottery), Hana Surya (Thereadapeutic), Rosyid Akhmadi (Mohoi), Arief Susanto (DusDukDuk), dan Savirra Lavinia (Fuguku).
"Selama 17 tahun, perjalanan Purana dalam menghidupkan filosofi 'Livable Art' bukanlah perjuangan saya seorang diri. Saya sangat bersyukur dapat senantiasa berkolaborasi erat dengan para seniman hebat dari seluruh penjuru Indonesia untuk mengabadikan kekayaan warisan budaya, flora, fauna, lingkungan, serta narasi Nusantara ke dalam setiap motif Purana," kata Noni yang konsisten mengangkat keindahan wastra, terutama batik, sejak pertama kali merintis karier sebagai desainer.
'Renjana Perca'
Main Atrium East Mall, Grand Indonesia
Jl. MH Thamrin No.1 Jakarta Pusat
Buka: 10.00 - 22.00 WIB












































