'Revolusi' Yosafat Dwi Kurniawan dan Karya yang Tidak Tone-Deaf
"I'm very nervous," ujar desainer Yosafat Dwi Kurniawan. Pernyataan tersebut terlontar beberapa jam sebelum peragaan busananya berlangsung.
Pada Kamis (13/8/2026), ia mempersembahkan kreasi terbarunya dalam peragaan yang bertajuk 'Après la Révolution'. Judul tersebut merujuk pada periode pasca-revolusi yang terjadi di Prancis sekitar 400 tahun lalu.
Yos, begitu sapaan akrabnya, memang gemar mengulik sejarah, terutama yang berkaitan dengan mode dan perkembangannya. Bahkan, topik tersebut rutin dikemasnya dalam bentuk konten media sosial sebagai sarana edukasi yang menyenangkan untuk belajar tentang asal mula tren mode dan para sosok di baliknya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Koleksi 'Apres la Revolution' karya Yosafat Dwi Kurniawan. (Foto: detikfoto/Rifkianto Nugroho) |
Namun pemilihan judul ini terasa sangat personal buat Yos. Setelah mengalami revolusi, Prancis melalui masa peralihan yang radikal. Tatanan monarki absolut diruntuhkan dan menyulutkan ketakutan di kalangan kaum bangsawan. Takut ketahuan sebagai orang borjuis, mereka pun beradaptasi menjadi rakyat biasa dengan berpakaian yang lebih 'sederhana'.
Revolusi ternyata sedang dialami oleh Yos sendiri. Fashion show yang berlangsung dalam rangkaian Langham Fashion Soiree 2026 tersebut menandai transisi Yos dalam pendekatan desainnya. Perubahan yang paling nyata terasa adalah siluet longgar yang mendominasi, bertolak dari potongan khas Yos yang lazim tegas dan berstruktur sejak mendirikan labelnya pada 2010. Maka tak berlebihan bila Yos merasa sangat gugup.
Koleksi 'Apres la Revolution' karya Yosafat Dwi Kurniawan. (Foto: detikfoto/Rifkianto Nugroho) |
"Pertama, karena banyak customer-ku yang minta," ujar Yos saat ditanya alasan utama yang memotivasinya untuk bertransisi. Di luar itu, situasi Indonesia yang menggundahkan benak Yos tampaknya ikut ambil andil.
Sejarah telah membuktikan bahwa gejolak politik, tanpa disadari, turut mempengaruhi cara orang berpakaian. Tak cuma terjadi di Prancis saat revolusinya, tapi juga di Amerika Serikat selepas Perang Vietnam pada era 70-an. Dari hasil observasi Yos, fashion pada masa itu melalui perubahan dari yang glamor menjadi lebih praktikal dan membebaskan.
Koleksi yang terdiri dari 30 set busana ini pun tak jauh dari konsep yang tidak mengekang, relevan dengan situasi negeri ini yang sedang dalam tekanan ekonomi hingga darurat kebebasan berekspresi.
"Kali ini, lebih flowy, airy dan lembut," ungkap Yos. Muncul pilihan gaun A-line dengan versi garis leher yang berbeda-beda, seperti halter hingga off-shoulder. Busana tampak menjuntai bebas ketika model yang memakainya berlenggang.
Untuk material, Yos didukung oleh Asia Pacific Rayon (APR) yang menyediakan viscose rayon dan lyocell. Dua bahan tersebut diklaim lebih ramah lingkungan karena sifatnya lebih mudah terurai tanah.
Menggunakan bahan ini untuk sebuah koleksi yang dipentaskan di panggung runway memang punya tantangan tersendiri. Busana tak cuma rentan kusut, tapi mudah terlihat 'biasa' jika salah styling.
Koleksi 'Apres la Revolution' karya Yosafat Dwi Kurniawan. (Foto: detikfoto/Rifkianto Nugroho) |
Sebelumnya, Yos mengawali presentasi dengan look bernuansa imperialisme dengan detail interior era Baroque-Rococo seperti terlihat pada ragam jaket bergaya Napoleon sebelum perlahan berubah menuju garis rancang yang lebih luwes.
Narasi transformasi juga tervisualisasikan lewat pilihan bawahan, dari jeans yang berpotongan slim-fit perlahan berganti celana jodphur dengan belahan di bagian tengah yang memberi sentuhan seksi.
Koleksi 'Apres la Revolution' karya Yosafat Dwi Kurniawan. (Foto: detikfoto/Rifkianto Nugroho) |
Bagi pria asal Pekalongan, Jawa Tengah, ini, perubahan itu perlu tapi bukan berarti harus meninggalkan ciri khasnya. Warna perak, yang merupakan favoritnya, tetap mengisi meski warna-warna pastel menjadi palet utama.
Presentasi ini tak sekadar sebuah ungkapan keberanian untuk keluar dari zona nyaman, tapi juga bagaimana seorang desainer mampu bersuara sembari menunjukkan kepekaannya. Istilah populernya, tidak tone-deaf.
Yosafat Dwi Kurniawan usai mempersembahkan koleksi terbarunya. (Foto: detikfoto/Rifkianto Nugroho) |
Langham Fashion Soiree merupakan agenda mode rutin tahunan yang digelar Langham Hotel Jakarta bersama Ikatan Perancang Mode Indonesia (IPMI) atau Indonesia Fashion Designer Council (IFDC). Yosafat resmi dilantik sebagai anggota IPMI pada 2024.
Peragaan perdananya di Langham Fashion Soiree sempat mundur sejenak dari jadwal karena tamu yang hadir melebihi kapasitas. Sampai akhirnya, rekan sejawat sekaligus senior Yos di IPMI, seperti Ivan Gunawan dan Andreas Odang berbaik hati memberikan tempat duduk.
"Akhirnya nonton berdiri dan ketutupan pilar. Hahaha. Yang penting kliennya Yos bisa duduk," ujar Odang usai peragaan.
(dtg/dtg)












































Koleksi 'Apres la Revolution' karya Yosafat Dwi Kurniawan. (Foto: detikfoto/Rifkianto Nugroho)
Koleksi 'Apres la Revolution' karya Yosafat Dwi Kurniawan. (Foto: detikfoto/Rifkianto Nugroho)
Koleksi 'Apres la Revolution' karya Yosafat Dwi Kurniawan. (Foto: detikfoto/Rifkianto Nugroho)