Ratusan Tas Chanel Senilai Rp 19 Miliar Dimusnahkan, Ini Alasannya
Sekitar 800 produk tas dan dompet Chanel dengan nilai sekitar Rp 19 miliar ditarik dari peredaran dan justru masuk dalam daftar barang yang akan dimusnahkan. Fakta ini terungkap dalam persidangan kasus pencurian di Hong Kong.
Sebanyak 814 produk Chanel menjadi sasaran empat mantan pekerja gudang pada 2016-2017. Dari jumlah tersebut, aksi terbesar menyasar 601 tas dan 123 dompet yang seharusnya dihancurkan. Lantas, kenapa rumah mode seperti Chanel memilih menghancurkan barang mewah yang masih memiliki nilai jual tinggi?
Barang-barang tersebut bukan disebut sebagai produk rusak. Dalam kasus Hong Kong, barang yang menjadi sasaran merupakan produk lama yang sudah tidak lagi dijual.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Seperti dikutip dari The Standard, menurut keterangan jaksa dalam persidangan, pada periode tersebut Chanel Hong Kong memiliki prosedur untuk memusnahkan produk lama. Barang terlebih dahulu dicek dan diverifikasi sebelum dipindahkan ke area khusus untuk dihancurkan dengan cara dicacah.
Jaksa bahkan menyebut Chanel Hong Kong kala itu memusnahkan sekitar 10.000 hingga 20.000 produk lama setiap enam bulan. Banyak yang penasaran mengapa barang-barang tersebut tidak dijual atau didiskon untuk menutupi biaya manufaktur.
Untuk rumah mode mewah, barang yang sudah tidak lagi dipasarkan bukan sekadar soal stok yang menumpuk. Menjual koleksi lama lewat diskon besar-besaran bisa membuat produk Chanel lebih mudah masuk ke pasar sekunder atau jalur distribusi yang tidak dikendalikan langsung oleh brand.
Bagi industri luxury, kontrol terhadap bagaimana dan di mana produk dijual merupakan bagian penting dari menjaga citra dan posisi merek. Karena itu, praktik pemusnahan stok lama pernah digunakan sejumlah brand fashion dan luxury sebagai salah satu cara menangani produk yang tidak lagi ingin mereka edarkan. Tetapi belakangan, cara tersebut kini semakin ditinggalkan karena persoalan limbah dan dampak lingkungan.
Chanel sendiri telah mengembangkan pendekatan yang berbeda melalui L'Atelier des Matières, perusahaan yang didirikan atas inisiatif Chanel pada 2019 untuk memberikan kehidupan baru pada material dan produk fashion yang tidak terpakai. Melalui fasilitas tersebut, produk yang tidak terjual maupun material yang sudah tidak digunakan dapat dipilah, dibongkar, kemudian diolah kembali. Kulit dari produk fashion, misalnya, dapat dipisahkan dan digunakan untuk menghasilkan material baru.
Pada Juli 2026, Chanel juga menegaskan bahwa produk di seluruh dunia yang tidak dapat dikomersialkan, termasuk deadstock, barang tidak terjual, maupun produk cacat, kini dikelola melalui L'Atelier des Matières. Chanel menyebut praktiknya telah berkembang sejalan dengan komitmen keberlanjutan perusahaan.
Perubahan ini juga terjadi di tengah aturan baru Uni Eropa. Seperti dikutip dari Financial Times, mulai 19 Juli 2026, perusahaan besar dilarang memusnahkan pakaian, aksesori fashion, dan sepatu yang tidak terjual, dengan beberapa pengecualian. Aturan tersebut mendorong perusahaan untuk mencari cara lain seperti penggunaan kembali, donasi, dan daur ulang.
(kik/kik)










































