Menikmati Jejak Tenun Perajin Binaan CTI di Instalasi 'Weaving Archipelago'
Hanya sepekan setelah meresmikan pameran kain tenun Sumba, Cita Tenun Indonesia (CTI) kembali mempersembahkan sebuah instalasi kain tenun. Kali ini, skalanya lebih besar dalam hal jumlah kain.
'Weaving Archipelago' yang berlangsung di area Promenade Senayan City hingga 29 Agustus mendatang menampilkan wastra karya para perajin dari sepuluh daerah di Indonesia yang masuk dalam cakupan program pembinaan CTI selama 18 tahun berdiri.
Kain-kain yang dipamerkan merupakan hasil karya penenun setelah dibina CTI dan mitranya, para desainer kenamaan. Pada 2010, CTI mulai melakukan pelatihan di sentra Tenun Garut Hendar di Panawuan selama setahun dengan menggandeng Sebastian Gunawan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dari daerah ke pentas global, hasil dari kolaborasi tersebut sempat dipamerkan di ajang Fashion 4 Development Second First Ladies Luncheon di New York City pada September 2012.
Melanjutkan kesuksesan itu, CTI berkolaborasi dengan Biyan Wanaatmadja pada 2016-2017. Saat ini, program pembinaan terus berlanjut.
Pada 2016-2017, giliran Biyan Wanaatmadja yang berkolaborasi dengan perajin di sana. Hingga saat ini, sentra Tenun Garut Hendar telah berkembang pesat dengan memberdayakan ratusan perajin serta penjahit lokal.
Terdapat pula kain tenun Sumba yang digarap perajin asal Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur, bersama Denny Wirawan pada 2013. Ia memadukan tenun ikat tradisional Suma dengan teknik cutting terstruktur seperti jaket, coat, dan vest modern. Kreasi kolaboratif ini sempat dibawa ke berbagai pameran fashion internasional di Prancis dan Belanda.
Perajin dari Sumatera Barat mempraktikkan cara membuat songket khas Pandai Sikek di pameran 'Weaving Archipelago' yang digelar CTI di Senayan City Jakarta hingga 29 Agustus 2026. (Foto: Daniel Ngantung/detikcom) |
Tekstil Nusantara dari Kalimantan juga dipamerkan. Kain tenun iban, karya penenun di Kapuas Hulu, Kalimantan Barat, dibuat melalui program pelatihan CTI, bekerja sama dengan Yayasan Kawan Lama dan desainer muda Wilsen Willim, yang telah berjalan sejak tahun lalu hingga saat ini. Wilsen mengolah kain tersebut dengan ciri khas desainnya yang kontemporer untuk koleksi couture perdananya yang dipentaskan dalam peragaan 10 tahun berkarya baru-baru ini.
Koleksi busana desainer yang dibuat dengan kain-kain tenun perajin binaan CTI tidak dipajang. Namun, pengunjung dapat melihatnya melalui foto-foto dokumentasi yang mengisi area pameran.
Instalasi 'Weaving Archipelago' dirancang oleh desainer interior kenamaan Rina Renville dengan mengusung konsep 'Rajutan Nusantara'. Ia membuat area pameran yang seakan saling terhubung seperti pulau-pulau Nusantara, dan dikelilingi pegunungan.
Selain kain, pengunjung juga diajak untuk menyaksikan langsung proses pembuatan tenun. CTI mendatangkan perajin songket Pandai Sikek dari Sumatera Barat untuk menenun dengan ATBM (alat tenun bukan mesin) di pameran tersebut.
Apresiasi Pemerintah dan Senayan City
Pembukaan 'Weaving Archipelago' pada Rabu (12/8/2026) turut dihadiri oleh Menteri Ekonomi Kreatif sekaligus Kepala Badan Ekonomi Kreatif Teuku Riefky Harsya. Dalam sambutannya, ia mengapresiasi upaya CTI dalam melestarikan kerajinan tenun sebagai warisan budaya sekaligus memastikan ekosistemnya terus bertumbuh dan memiliki masa depan yang menjanjikan.
"Tentunya kita harus terus mendukung, tak cuma untuk menjaga budaya kita, tapi agar nilai ekonomi juga ikut berkembang, dan kalau berkembang, perajin ikut sejahtera," ujarnya.
Ia juga mengutarakan komitmen kementeriannya untuk menjalankan Program Aktivasi Desa Kreatif yang melibatkan berbagai pihak dan komunitas, termasuk CTI.
"Kami tidak membangun desa kreatif baru, tapi memperkuat perajin-perajin yang sudah mendapat pembekalan dari komunitas ataupun kepala daerah di kawasan tersebut," kata Teuku.
Dalam kesempatan yang sama, CTI menerima penghargaan Infinite Merit Award 2026 dari Senayan City sebagai sebuah bentuk penghormatan atas dedikasi yang telah dibangun selama bertahun-tahun dalam memberdayakan perajin dan memastikan tradisi menenun tetap hidup dari tahun ke tahun.
"Penghargaan ini bukan hanya untuk CTI, melainkan juga bagi perajin tenun di seluruh Indonesia yang dengan ketekunan dan dedikasinya terus menjaga warisan budaya ini agar tetap hidup dan dikenal oleh generasi mendatang," kata Sekretaris Jenderal CTI Intan Fauzi.
CTI didirikan oleh Okke Hatta Rajasa, istri M. Hatta Rajasa yang pernah menjabat sebagai Menteri Koordinator Bidang Perekonomian (2009-2014). Ibu Okke berhalangan hadir, tapi diwakili putrinya Siti Ruby Aliya Rajasa yang muncul dalam balutan sheath-dress dari tenun motif Sriwijaya khas Sumatera Selatan.
Anugerah ini juga bertepatan dengan perayaan dua dekade pusat belanja terbesar yang berada di kawasan Senayan, Jakarta Pusat, itu. Pameran 'Weaving Archipelago' juga menjadi bagian dari rangkaian acara yang digelar Senayan City untuk merayakan HUT ke-81 RI dalam tema 'Glorify Indonesia'.
"Selama 20 tahun, Senayan City percaya bahwa sebuah destinasi tidak hanya diukur dari apa yang dihadirkan, tapi juga dari kontribusinya dalam mendukung kreativitas, budaya, dan talenta Indonesia," ungkap Halina selaku Leasing & Marketing Communications Director Senayan City.
Ia menambahkan, Glorify Indonesia dan pemberian penghargaan kepada CTI sekaligus mempertegas konsistensi Senayan City untuk mendukung pihak-pihak yang berkomitmen menjaga, merawat, dan memastikan kekayaan budaya Indonesia terus hidup, berkembang, dan menginspirasi anak muda.
(dtg/dtg)












































