Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network

Tak Banyak yang Tahu, Kebaya Modern Ternyata Lahir dari Proyek Politik Budaya

Daniel Ngantung - wolipop
Jumat, 24 Jul 2026 07:06 WIB

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Kebaya Modern Lenny Agustin
Kebaya rancangan Lenny Agustin. (Foto: Instagram/@lennyagustin)
Jakarta -

Sejak 2024, 24 Juli diperingati sebagai Hari Kebaya Nasional. Dalam disertasi doktoral desainer sekaligus peneliti sejarah Lenny Agustin Ernawati, terungkap bahwa kebaya ternyata menyimpan perjalanan sejarah yang jauh lebih kompleks daripada sekadar pakaian tradisional.

Disertasi untuk sidang promosi doktoral Ilmu Sejarah Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia pada awal Juli tersebut bertajuk 'Kebaya Modern sebagai Busana Nasional Wanita Indonesia pada Era Orde Baru: Relasi Kuasa, Politik Kebudayaan, dan Tubuh Perempuan'.

Penelitian tersebut mengajak publik melihat kebaya bukan hanya dari sisi estetika, tetapi sebagai bagian dari sejarah politik, identitas bangsa, hingga perjalanan perempuan Indonesia.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Selama ini banyak orang menganggap kebaya sebagai busana tradisional yang bentuknya sudah baku sejak dahulu. Padahal, sejarah menunjukkan sebaliknya.

ADVERTISEMENT

Dalam penelitiannya, desainer sekaligus Ketua Indonesian Fashion Chamber (IFC) dan pendiri komunitas Funky Kebaya ini menjelaskan bahwa kebaya lahir dari proses pertemuan berbagai budaya sejak berabad-abad lalu. Pengaruh Arab, Persia, India, Tionghoa hingga Eropa ikut membentuk perkembangan kebaya di Nusantara. Karena itu, kebaya sejak awal memang merupakan hasil akulturasi, bukan tradisi yang berdiri sendiri.

Dari lingkungan keraton, masyarakat kolonial, komunitas peranakan hingga kota-kota pelabuhan, kebaya terus mengalami perubahan bentuk, fungsi, dan makna sesuai kebutuhan masyarakat pada zamannya.

"Sejarah kebaya menunjukkan bahwa busana ini tidak lahir sebagai tradisi tunggal yang statis, melainkan hasil perjumpaan panjang berbagai budaya," tulis Lenny dalam poin temuan penting dalam ringkasan disertasi penelitian tersebut.

Dari Simbol Nasionalisme hingga Busana Nasional

Sebelum Indonesia merdeka, kebaya telah menjadi simbol perempuan pribumi. Pada masa pergerakan nasional, perempuan berkebaya sering digambarkan sebagai sosok yang nasionalis dan berpendidikan.

Pada era Presiden Soekarno, citra perempuan berkebaya semakin diperkuat sebagai representasi kecantikan dan kepribadian Indonesia. Namun saat itu kebaya belum memiliki standar nasional.

(Original Caption) 6/1953-Jakarta, Indonesia- A meeting was organized at the Presidential Palace on the occasion of the commemoration of Presiden Soekarno dan para perempuan berkebaya di Istana Kepresidenan, Jakarta, pada 1953. (Foto: Bettmann Archive/Bettmann)

Menurut disertasi tersebut, pemerintah ketika itu tidak sekadar mempertahankan kebaya sebagai warisan budaya, tetapi secara aktif membentuknya menjadi busana nasional perempuan Indonesia melalui berbagai kebijakan kebudayaan.

Kebaya dikenakan dalam acara kenegaraan, organisasi perempuan, diplomasi, hingga kontes kecantikan. Kehadirannya terus diulang dalam ruang publik sehingga akhirnya diterima sebagai representasi perempuan Indonesia.

Mengapa Kebaya Modern Muncul?

Dalam penelitiannya, Lenny menggunakan teori relasi kuasa Michael Foucault, teori hegemoni Antonio Gramsci, dan teori strukturisasi Anthony Giddens.

Salah satu temuan menariknya adalah bahwa modernisasi kebaya bukanlah proses yang terjadi secara spontan mengikuti tren mode.

Modernisasi dilakukan agar kebaya tetap relevan dengan kehidupan perempuan modern tanpa kehilangan identitas nasionalnya.

Sejak 1970-an hingga 1990-an, kebaya mengalami banyak perubahan. Potongannya menjadi lebih praktis, bahan berkembang dari katun menjadi brokat, organza hingga sutra, sementara detail seperti payet, kristal, ritsleting, dan siluet modern mulai digunakan.

Perubahan tersebut membuat kebaya dapat dikenakan dalam berbagai kesempatan, mulai dari pesta, acara diplomatik, hingga kegiatan formal lainnya.

Dengan kata lain, modernisasi justru menjadi strategi agar kebaya tidak ditinggalkan generasi baru.

Disertasi ini juga melihat kebaya sebagai "bahasa visual". Potongan, warna, kain, aksesori hingga cara memakainya menyampaikan banyak pesan tentang identitas seseorang.

Seseorang bisa menunjukkan asal daerah melalui batik atau tenun yang dikenakan, memperlihatkan status sosial melalui pilihan material, sekaligus mengekspresikan karakter pribadi lewat desain kebaya.

Karena itulah kebaya tidak pernah benar-benar kehilangan relevansinya. Ia terus berubah mengikuti kebutuhan pemakainya.

Hari Kebaya Nasional, Momentum Melihat Kebaya Secara Lebih Utuh

Hari Kebaya Nasional yang diperingati setiap 24 Juli ditetapkan melalui Keputusan Presiden Nomor 19 Tahun 2023. Peringatan ini lahir dari gerakan masyarakat yang ingin menghidupkan kembali kebaya sebagai bagian dari identitas budaya Indonesia.

Momentum tersebut semakin bermakna setelah UNESCO menetapkan kebaya sebagai Warisan Budaya Takbenda pada 2024 melalui pengajuan bersama lima negara Asia Tenggara.

Lenny Agustin menggangkat tema 'Radin' di Indonesia Fashion Week. Bertempat di JCC, Senayan Jakarta.Desainer Lenny Agustin pada 2014. (Foto: Mohammad Abduh/Wolipop)

Namun menurut Lenny dalam risetnya, makna terbesar kebaya bukan hanya terletak pada status warisan budayanya. Kebaya adalah artefak sejarah yang mencerminkan perjalanan bangsa Indonesia-tentang identitas, modernitas, politik kebudayaan, hingga posisi perempuan dalam berbagai periode sejarah.

Karena itu, mengenakan kebaya hari ini tidak sekadar mengenakan busana tradisional. Di balik setiap jahitan, siluet, dan kain yang dikenakan, tersimpan perjalanan panjang bagaimana bangsa ini membangun identitasnya melalui mode.

Mungkin itulah alasan mengapa, meski terus berubah mengikuti zaman, kebaya selalu berhasil menemukan cara untuk tetap relevan bagi setiap generasi perempuan Indonesia.

(dtg/dtg)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Hide Ads