Hubungan Mode RI-Prancis Kian Erat, Pintu Incubator Hadirkan Program Baru
Kemitraan bilateral Indonesia dan Prancis dalam bidang mode masih berlanjut melalui Pintu Incubator. Pada tahun kelimanya, program inkubasi yang bertujuan mematangkan para desainer atau brand lokal agar mampu berkreasi dan berbisnis di pasar domestik dan internasional ini berekspansi dengan peluncuran jalur Accelerator serta Pintu Residency edisi kedua yang beda dari sebelumnya.
Berjalan mulai dari 2022, Pintu Incubator dibentuk oleh JF3 (Jakarta Fashion & Food Festival), LAKON Indonesia, dan Kedutaan Besar Prancis di Indonesia melalui Institut français d'Indonésie (IFI). Tahun lalu dalam kunjungan kenegaraan ke Indonesia, Presiden Prancis Emmanuel Macron mengapresiasi kegiatan pelatihan yang digelar oleh Pintu dan berkomitmen untuk terus mendukungnya.
Seperti namanya, Pintu hadir untuk membuka peluang bagi para kreator mode agar bisnis mereka dapat berkesinambungan dan berkembang, sekaligus juga dapat berdampak terhadap perajin lokal.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pada tahun sebelumnya, peserta yang terpilih berkesempatan mengikuti trade show di Paris dan dipertemukan dengan buyers dari seluruh dunia. Pengalaman tersebut tentunya akan membuka wawasan mereka tentang strategi bisnis dan persaingan di pasar internasional yang sudah penuh dengan pemain.
Pada Oktober tahun lalu, Pintu mengirim Lil Public dan Denimitup untuk berpartisipasi di Premier Classe, salah satu pameran fashion business to business (B-to-B) terbesar di Paris. Kehadiran mereka cukup menarik minat para buyers. Lil Public yang digawangi duo anak muda Bandung, Muhammad Hafiz dan Al Liefta, sempat mendapat pesanan dari pembeli asal Belanda.
Kendati demikian, masih ada beberapa hal yang perlu dievaluasi, termasuk kesiapan dalam mengakomodasi kebutuhan pasar yang berbeda-beda. Maka tahun ini, Pintu berekspansi dengan memperkenalkan program Accelerator.
"Saya melihat ada sebuah kebutuhan. Setelah empat tahun berjalan, brand yang telah mengikuti program Pintu atau yang sudah lebih mapan perlu didorong lagi," ujar Thresia, pendiri Lakon Indonesia sekaligus penasehat JF3 Fashion Festival, saat jumpa pers beberapa waktu lalu.
Menjadi peserta perdana pada jalur Accelerator, Lil Public dan Denimitup mendapat sesi pengembangan kapasitas yang lebih intens dengan para mentor selama enam bulan. Harapannya, mereka akan kembali ke Paris dengan produk fashion yang lebih matang dan sesuai karakteristik pasar yang mereka tuju.
Denimitup berstrategi dengan mengembangkan kolaborasi dengan label Prancis Tareet. Sementara itu, Lil Public berpartisipasi dalam pertunjukan tahunan École Duperré di Paris pada awal Juli 2026. Accelerator sekaligus membuka ruang kolaborasi, pertukaran pengalaman, dan kemungkinan baru bagi para pelaku mode Indonesia.
"Pintu adalah wujud dari relasi kultural Indonesia dan Prancis," ujar Carol Meyer, Atase Kebudayaan Kedutaan Besar Prancis di Indonesia, pada kesempatan yang sama.
Mickael Nana dan Beatrice Angelica, peserta Pintu Residency 2026. (Foto: Daniel Ngantung/detikcom) |
Pintu Residency yang diluncurkan tahun lalu turut mempertegas hubungan tersebut dengan membuka kesempatan bagi desainer Prancis yang tertarik untuk mengeksplorasi tradisi tekstil Indonesia. Berbeda dari edisi perdana, tahun ini mereka dipasangkan dengan perancang Tanah Air.
Ada Mickael Nana yang berkolaborasi dengan Beatrice Angelica untuk mengembangkan koleksi berbahan tenun Lombok, Nusa Tenggara Barat. Lalu Lisa Rayar bersama Gabriel Marcella Budiono yang menggarap batik buatan perajin Mojokerto, Jawa Timur. Koleksi mereka akan naik pentas pada hari pertama JF3 Fashion Festival 2026, Kamis (23/7/2026).
Koleksi peserta Pintu Incubator 2026 juga mengisi slot hari yang sama. Tahun ini, penyelenggara menerima 39 pendaftar. Setelah melalui proses seleksi, sepuluh peserta mengikuti program inkubasi dan lima di antaranya terpilih untuk mempresentasikan koleksi di BRI JF3 Fashion Festival 2026 yang mengusung 'Re-Crafted: Shaping the Future'. Lima nama tersebut terdiri dua brand, Saul Studio dan Toja House, serta tiga desainer, ALDRIE, ANDREAN NR, dan DACIA.
Momen ini sekaligus menandai babak baru dalam kiprah mereka setelah selama enam bulan melalui sesi mentoring yang mencakup strategi bisnis, merchandising, pengembangan produk, komunikasi, hukum dan kekayaan intelektual, ekspor-impor, keuangan, serta styling.
Para peserta dan mentor Pintu Incubator 2026. (Foto: Daniel Ngantung/detikcom) |
Sejumlah mentor yang terlibat berasal dari Prancis, antara lain Amandine Chiron (pakar komunikasi fashion yang pernah punya pengalaman di rumah mode besar seperti Valentino, Comme des Garçons, dan Alaïa), Darja Richter-Widhoff (desainer asal Jerman yang berbasis di Paris), Mathieu Buard (profesor dan kurator fashion), Pascaline Wilhelm (akademisi sekaligus anggota Fédération de la Mode Circulaire yang berfokus pada keberlanjutan). Nama-nama besar dari Indonesia juga membagikan ilmunya, seperti desainer Deden Siswanto, Hartono Gan, Susan Budihardjo dan Samudra Hartanto.
(dtg/dtg)














































