Show Louis Vuitton Panen Kritik, Bangun Air Terjun saat Paris Dilanda Heatwave
Louis Vuitton ramai dikritik setelah menghadirkan air terjun buatan setinggi delapan meter sebagai latar peragaan busana koleksi Spring/Summer 2027 di Paris Fashion Week, pekan lalu. Instalasi megah itu tampil saat Paris dan sejumlah wilayah Prancis tengah dilanda gelombang panas ekstrem (heatwave), sehingga memicu perdebatan soal penggunaan air dan dampak lingkungan.
Air terjun dibangun di atas runway berlapis pasir yang menjadi panggung koleksi terbaru rancangan Pharrell Williams, direktur kreatif lini menswear Louis Vuitton. Fashion show digelar di area luar Cité Universitaire, kompleks hunian mahasiswa yang setiap tahun menampung sekitar 12.000 penghuni.
Tak lama setelah berdiri, instalasi itu langsung menuai reaksi dari warga dan sejumlah pejabat setempat. Banyak pihak mempertanyakan penggunaan ruang publik untuk kepentingan komersial, terlebih saat suhu di berbagai wilayah Prancis menembus lebih dari 40 derajat Celsius.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menanggapi kritik tersebut, juru bicara LVMH, induk perusahaan Louis Vuitton, menegaskan bahwa air yang digunakan tidak terbuang sia-sia.
"Air yang digunakan untuk menciptakan efek ombak seluruhnya berasal dari jaringan air kota Paris. Air tersebut dipompa ke lokasi, lalu dialirkan kembali ke sistem saluran pembuangan Paris melalui sistem sirkulasi tertutup," ujar juru bicara LVMH kepada Reuters.
LVMH juga menjelaskan bahwa pasir yang digunakan untuk runway tidak akan dibuang. Material itu akan dimanfaatkan kembali untuk lapangan voli pantai milik Cité Universitaire serta didaur ulang oleh mitra pengelola limbah.
Louis Vuitton Mens Spring-Summer 2027 karya Pharrell Williams Foto: Dok. Louis Vuitton |
Perusahaan juga menyatakan seluruh penyelenggaraan acara telah disesuaikan dengan aturan yang berlaku selama terjadinya gelombang panas. Direktur Komunikasi Cité Universitaire Jerome Duplan juga membenarkan penggunaan sistem sirkulasi air tertutup selama instalasi berlangsung.
Meski begitu, kontroversi belum mereda. Sebagian pihak memang menilai penyelenggaraan fashion show di ruang publik membantu memperkuat citra Paris sebagai ibu kota mode dunia. Namun, proyek berskala besar seperti ini dinilai kerap mengabaikan kepentingan masyarakat sekitar.
Wakil Wali Kota Paris yang membidangi kehidupan mahasiswa, Melody Tonolli, menilai instalasi tersebut mengirimkan pesan yang kurang tepat di tengah situasi cuaca ekstrem.
"Saya memahami reaksi masyarakat terhadap privatisasi ruang publik yang kurang dijelaskan, disertai pembatasan akses. Apalagi di tengah gelombang panas, tampilan seperti ini menyampaikan pesan yang sangat disayangkan," kata Melody.
LVMH menyebut pemasangan instalasi yang memakan waktu hingga enam minggu telah disepakati bersama pihak pengelola lokasi. Jerome menambahkan, dukungan sponsor dari Louis Vuitton turut membantu pendanaan fasilitas tersebut di tengah berkurangnya anggaran publik dan meningkatnya biaya operasional kompleks.
Louis Vuitton Mens Spring-Summer 2027 Foto: Dok. Louis Vuitton |
Namun, sejumlah penghuni Cité Universitaire merasa dirugikan. Mereka mengaku tetap membayar biaya sewa, tetapi tidak dapat mengakses beberapa fasilitas dan harus mengubah rutinitas sehari-hari selama acara berlangsung.
Bagi sebagian penghuni, fashion show tersebut justru memperlihatkan kontras yang mencolok antara kemewahan industri fashion dengan kehidupan masyarakat biasa.
Kontroversi ini terjadi di tengah kondisi cuaca ekstrem yang melanda Prancis. Paris mencatat suhu tertinggi 40,9 derajat Celsius, menjadi rekor baru untuk bulan Juni. Menurut data otoritas setempat, sejak 18 Juni sedikitnya 55 orang dilaporkan meninggal akibat tenggelam ketika berusaha mendinginkan diri dari gelombang panas yang melanda negara tersebut.
(hst/hst)











































