Olah Kain Sisa, Adrie Basuki Pakai Wastra Hingga Titik Darah Penghabisan
Mengolah wastra telah menjadi bagian dari panggilan hidup Adrie Basuki sebagai seorang desainer mode. Komitmennya termasuk mengolah kain tradisional sisa produksi.
Maka, setiap kali mendapat tawaran untuk membuat koleksi dari sisa kain wastra, Adrie tanpa perlu berpikir dua kali langsung mengiyakan.
Kesempatan kali ini datang dari Pendopo, unit usaha Kawan Lawa yang khusus menjual produk-produk UMKM Tanah Air, termasuk karya desainer dan perajin lokal. Adrie diajak berkolaborasi dalam program Jejak Baru Limbah Wastra yang diadakan untuk merayakan 15 tahun Pendopo.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Sangat excited karena aku memang sudah mengolah kain limbah dari 2019. Sangat sadar sekali pasti kami sebagai desainer kalau bikin pola, pasti akan ada kain-kain sisa. Sayang sekali kalau wastra yang dibuat dengan tangan-tangan terampil dibuang begitu saja. Oleh karena itu, aku selalu mencoba menggunakan wastra hingga titik darah penghabisan," ungkap Adrie saat sesi bincang-bincang di Pendopo Living World Alam Sutera baru-baru ini.
Ini bukan kolaborasi pertama Adrie bersama Pendopo, dan meski meski sudah terbiasa mengolah kain sisa, proyek kali ini memiliki kesulitan tersendiri.
Model memeragakan busana rancangan Adrie Basuki dan sepatu Yongki Komaladi yang dihiasi limbah wastra. (Foto: Daniel Ngantung/detikcom) |
Kain sisa pemberian Pendopo yang berasal dari mitra UMKM dan perajinnya terdiri dari batik dan tenun dengan motif dan warna yang beragam. "Tantangannya pada eksekusi, bagaimana kain-kain tersebut diolah kembali sehingga saat dipadu-padankan masih seirama," kata pemenang Lomba Perancang Mode (LPM) 2021 itu.
Kain tersebut diolah menjadi elemen dekoratif yang diaplikasikan sebagai aksen di berbagai pilihan atasan, mulai dari blus, sweater, dan outer untuk perempuan dan laki-laki.
(Foto: Daniel Ngantung/detikcom) |
Agar tidak tampak ramai, Adrie yang sebelumnya juga pernah berkolaborasi dengan Uniqlo untuk membuat koleksi upcycle, memilih kain dasar berupa lurik berwarna solid seperti hitam dan merah marun.Potongan busana juga dibuat dalam potongan yang bergaya urban tapi pas untuk segala usia. "Aku masih belajar bagaimana memahami gen-Z supaya mereka tetap tertarik memakai wastra," kata perancang yang berbasis di Bogor itu.
Dalam presentasi koleksi yang terdiri dari sembilan set busana itu, penampilan para model dilengkapi dengan alas kaki Yongki Komaladi yang juga dihiasi kain wastra sisa produksi dari Pendopo.
Adrie Basuki dan Yongki Komaladi dalam perayaan Ulang Tahun ke-15 Pendopo. (Foto: Daniel Ngantung/detikcom) |
Yongki juga menyambut dengan antusias ajakan kolaborasi dari Pendopo meski terbilang dadakan. "Namun sebagai bentuk tanggung jawab untuk melestarikan kain Nusantara dan mendukung sustainability, saya menyiapkan koleksi khusus," kata pria yang sudah 50 tahun menekuni profesi desainer sepatu itu.
Jejak Baru Limbah Wastra lahir dari gagasan bahwa potongan kain sisa tidak seharusnya dipandang sebagai akhir dari sebuah proses produksi, melainkan sebagai peluang untuk menciptakan karya baru. Dengan tangan kreatif desainer Adrie dan Yongki, sisa kain wastra dari Pendopo diolah kembali menjadi koleksi busana dan sepatu yang mengubah limbah masa lalu menjadi jejak langkah mode masa depan.
Kedua desainer berharap, kreasi mereka yang juga akan dijual di Pendopo ini dapat sekaligus menumbuhkan rasa apresiasi dan cinta budaya Indonesia, terutama di kalangan anak muda.
"Selama 15 tahun, Pendopo tidak hanya menjadi ruang bagi produk-produk lokal untuk berkembang, tetapi juga menjadi wadah yang menghubungkan karya para perajin Indonesia dengan generasi masa kini," ujar Head of Pendopo Putu Laura.
(dtg/dtg)














































