Bukan Lagi Besar, Ini Alasan Jam Tangan 38 mm Kembali Digemari
Selama lebih dari satu dekade, jam tangan berukuran besar mendominasi tren. Diameter 42 mm hingga 44 mm seakan menjadi standar baru, sering kali diasosiasikan dengan maskulinitas dan statement gaya yang kuat. Namun, seperti banyak tren lain dalam fashion dan desain, siklusnya berputar.
Kini, ukuran yang lebih kecil mendapat tempat. Bukan karena nostalgia semata, melainkan estetika yang lebih proporsional. Sejumlah merek jam tangan pun merilis ulang seri andalannya dalam ukuran 38 mm.
Teranyar, Tissot Gentleman yang resmi diperkenalkan ke publik Indonesia di Senayan City, Jakarta. Jam tangan ini dibanderol dalam kisaran Rp 16 juta.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pasar Asia memainkan peran besar dalam menguatnya tren ini. Secara umum, ukuran pergelangan tangan yang lebih kecil dibandingkan pasar Barat membuat jam berdiameter besar kurang proporsional.
Di kota-kota seperti Jakarta, Tokyo, hingga Seoul, preferensi terhadap jam tangan kini tidak lagi soal "besar terlihat mahal", tetapi lebih ke "pas terlihat berkelas".
Tissot Gentleman 38 mm. (Foto: Daniel Ngantung/detikcom) |
Apa yang dilakukan Tissot lewat Gentleman 38 mm sebenarnya bukan sekadar mengecilkan diameter. Ini tentang menjaga keseimbangan desain, proporsi dial, ketebalan case, hingga detail indeks, agar tetap harmonis.
Pendekatan ini mencerminkan filosofi yang lebih luas bahwa gaya yang tidak berlebihan, namun tetap berkarakter. Dalam materi resminya, Tissot menyebut model ini sebagai interpretasi baru dari "everyday sophistication", sebuah jam tangan yang mengikuti ritme hidup pemakainya dengan tenang dan konsisten. Ada semacam ajakan untuk kembali ke hal-hal esensial: fungsi, kenyamanan, dan estetika yang tidak lekang oleh waktu.
Tissot Gentleman 38 mm. (Foto: Dok. Tissot) |
Pada akhirnya, tren 38 mm berbicara tentang sesuatu yang lebih dalam dari sekadar ukuran: bagaimana jam tangan kembali menjadi objek personal.
Beberapa brand lain yang juga melakukan pendekatan yang sama antara lain Rolex dengan menonjolkan Explorer 36 mm sebagai ukuran klasik, Omega yang konsisten menghadirkan Aqua Terra 38 mm, lalu Tudor yang merilis Black Bay 36 dan 39, serta Grand Seiko yang mempertahankan banyak model di kisaran 37-39 mm
Di era notifikasi instan dan layar yang terus menyala, jam mekanis menawarkan pengalaman berbeda lebih lambat, lebih hening, dan lebih intim. Ukuran yang pas memperkuat pengalaman itu, membuat jam terasa seperti bagian alami dari tubuh, bukan sekadar aksesori.
(dtg/dtg)













































