Sewindu Lakon: Bertahan di Tengah Krisis, Konsisten Angkat Warisan Budaya
Tahun ini menandai sewindu usia Lakon, sebuah brand fashion lokal yang fokus mengangkat warisan budaya Indonesia. Delapan tahun memang terbilang muda, tapi dapat bertahan setelah melalui berbagai tantangan di tengah gejolak dunia bisa menjadi sebuah pencapaian tersendiri.
Lakon didirikan oleh Thresia Mareta pada 2018, tapi butuh waktu dua tahun untuk mematangkan konsep, baik desain maupun material. Kenyataan bahwa pandemi COVID-19 mendisrupsi berbagai industri, termasuk fashion, Lakon tetap eksis.
Bahkan pada 15 November 2020, Lakon menggelar peragaan perdananya secara offline di ASHTA District 8. Koleksi bertajuk 'Pakaiankoe' yang dikerjakannya bersama desainer Irsan itu sekaligus menjadi langkah awal Lakon membangun ekosistem budaya yang menghubungkan desainer, perajin, dan masyarakat.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Toko Lakon di Summarecon Mall Kelapa Gading. (Foto: Dok. Lakon) |
"Saat pandemi, kami belajar untuk lebih dekat dengan pelanggan dan memahami kebutuhan mereka dengan lebih baik. Pelajaran tersebut masih sangat relevan hingga hari ini," ujar Thresia kepada Wolipop, baru-baru ini.
Masih memulihkan diri dari dampak COVID-19, perekonomian Indonesia kembali terhantam akibat dinamika geopolitik di Timur Tengah dan nilai dollar Amerika Serikat yang terus menguat. Muncul kekhawatiran, daya beli konsumen akan kian terpuruk dan dapat berdampak pada kelangsungan bisnis brand dan desainer.
Thresia mengungkapkan, ketika terjadi tantangan seperti tekanan ekonomi atau pelemahan nilai tukar, Lakon memilih untuk tetap fokus pada hal-hal yang dapat dikendalikan. Mulai dari memantau data, melihat perubahan perilaku pasar, mengukur produktivitas setiap koleksi, menjaga kualitas produk, hingga efisiensi operasional maupun produksi.
Pendiri Lakon Thresia Mareta menjelaskan koleksi terdahulu Lakon. (Foto: Daniel Ngantung/detikcom) |
"Salah satu kekuatan Lakon adalah kedekatan kami dengan ekosistem dalam negeri, mulai dari perajin, penenun, pembatik, hingga berbagai perajin teknik tradisional Indonesia. Hal ini membuat kami lebih fleksibel dalam mengambil dan mengeksekusi keputusan," kata Thresia yang juga menjabat sebagai penasehat JF3 Fashion Festival itu.
Ke depan, lanjutnya, Lakon terus memperkuat nilai yang membuat Lakon relevan dan berbeda sebagai strategi dalam menghadapi kondisi yang tak menentu. "Kami akan terus mengembangkan produk yang dekat dengan kebutuhan sehari-hari, menjaga kualitas, dan memastikan setiap koleksi memiliki nilai yang lebih dari sekadar tren musiman," tutur Thresia.
Momentum untuk Berkembang
Masa-masa sulit semestinya dapat menjadi 'pemecut' untuk menjadi versi diri yang lebih baik. Seperti halnya ketika para kreator berada di tengah tantangan perekonomian. Situasi ini seharusnya dapat dilihat sebagai momentum yang baik bagi industri fashion Indonesia untuk semakin mengasah kualitas produknya.
Menurut Thresia, produk dalam negeri sebenarnya memiliki peluang yang lebih besar untuk mengisi kebutuhan pasar yang selama ini didominasi oleh produk impor yang harganya meningkat akibat penguatan dolar.
"Namun peluang tersebut hanya bisa dimanfaatkan jika kita mampu menawarkan kualitas, desain, dan pengalaman produk yang setara, dengan harga yang kompetitif. Bukan sekadar menggantikan produk impor, tetapi benar-benar menjadi pilihan utama karena kualitas dan identitasnya," ungkapnya.
Thresia Maretha optimis industri kreatif Indonesia dapat tetap bertahan di tengah krisis selama kualitas produk dapat ditingkatkan. (Foto: Daniel Ngantung/detikcom) |
Akan tetapi, sebaiknya jangan berharap konsumen membeli produk dalam negeri hanya karena produk impor menjadi lebih mahal. Thresia menegaskan, produk Indonesia harus bisa memenangkan pilihan konsumen karena kualitas, desain, dan nilai yang ditawarkannya.
Selama ini, ada kecenderungan pola pikir konsumen bahwa produk impor sebagai standar, padahal banyak potensi dalam negeri yang kualitasnya tidak kalah apabila dikembangkan secara serius dan konsisten. Belum lagi kekayaan material Indonesia, serta warisan teknik dan keterampilan masyarakatnya.
"Tantangan kita bukan membuat produk dalam negeri yang lebih murah, tetapi membuat produk yang sama baiknya atau bahkan lebih baik," tutur Thresia yang merayakan perjalanan 8 tahun Lakon dengan meluncurkan koleksi 'Upcycle' dari limbah material tak terpakai.
Koleksi bertajuk Upcycle untuk merayakan 8 tahun Lakon. (Foto: Dok. Lakon) |
















































