Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network

Bertahan di Tengah Efisiensi, Batik Difabel Cimahi Menanti Dukungan BRI

Sudrajat - wolipop
Kamis, 07 Mei 2026 14:45 WIB

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Griya Harapan Difabel (GHD) di Cimahi, Jawa Barat.
Penghuni Griya Harapan Difabel berkarya dengan membuat batik. (Foto: Sudrajat/detikcom)
Jakarta -

Di atas lantai tanpa alas, Saepudin (27), seorang pembatik tuna rungu sekaligus tuna wicara, menunduk tekun. Ia seolah tak terusik oleh suasana Cimahi yang siang itu kian temaram. Awan gelap menggantung rendah, membuat waktu terasa melompat cepat, seakan hari telah beringsut menuju magrib.

Canting di tangan lelaki asal Garut itu bergerak stabil, mengikuti pola yang telah digambar dengan presisi. Di sekelilingnya nyaris tak ada suara-hanya gestur-gestur kecil yang saling dipahami antarpekerja, menghadirkan bahasa sunyi yang justru terasa sarat makna.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Saepudin adalah satu dari lebih dari seratus penghuni Griya Harapan Difabel (GHD), sebuah ruang pembinaan yang menjadi tempat bertumbuh bagi para penyandang disabilitas untuk belajar, berkarya, dan membangun kemandirian.

"Sewaktu masih di kampung, saya cuma beternak ayam," kata Nurdin, yang duduk di kursi roda tak jauh dari Saepudin. Tubuhnya mungil, dengan kedua kaki yang tidak tumbuh sempurna akibat polio membuatnya kesulitan berjalan.

ADVERTISEMENT
Griya Harapan Difabel (GHD) di Cimahi, Jawa Barat.Griya Harapan Difabel (GHD) di Cimahi, Jawa Barat. Foto: Sudrajat/detikcom

Sejak 2020, ia mengikuti pelatihan membatik di GHD. Sejak itu, arah hidupnya berubah ke jalan yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya. Jika dulu ia kerap merutuki nasib, kini ia menemukan perspektif baru. "Saya pikir dulu cuma saya yang seperti ini," ujarnya. "Ternyata di sini banyak yang senasib, bahkan lebih berat, tapi mereka bisa hidup damai."

Di GHD, kemahiran Nurdin dalam membatik kerap diacungi jempol. Tak heran, ia kemudian dipercaya menjadi koordinator pewarnaan-posisi yang menuntut ketelitian tinggi dan kepekaan terhadap detail.

Selain membatik, lebih dari seratus penyandang disabilitas di GHD juga mendapatkan beragam keterampilan lain, mulai dari menjahit, seni pertunjukan, pijat, hingga bermain musik.

"Tujuan kami satu: agar mereka bisa bangkit, mandiri, dan berdaya secara ekonomi," ujar Kepala UPTD GHD, Andina Rahayu, kepada para wartawan peserta BRI Fellowship Journalist 2026 beberapa waktu lalu.

Karena karya batik menjadi yang paling menonjol, GHD kemudian mengambil positioning sebagai "Kampung Kreatif Batik Difabel". Menurut Andina, dalam satu bulan produksi batik di GHD dapat mencapai sekitar 100 potong kain dengan panjang rata-rata lebih dari dua meter, bergantung pada jumlah pesanan. Harga jualnya berkisar antara Rp300 ribu hingga Rp350 ribu, sementara pesanan khusus dapat mencapai Rp600 ribu.

Karya mereka bahkan telah menembus pasar internasional dan pernah menjadi suvenir ke Italia. Salah satu momen paling membanggakan terjadi pada September 2023, ketika batik karya para difabel ini dikenakan oleh personel grup K-pop TWICE-Jeongyeon, Sana, Mina, Momo, Jihyo, Chaeyoung, Nayeon, Dahyun, dan Tzuyu-dalam acara jumpa penggemar di Jakarta.

Namun, di balik capaian tersebut, tantangan besar kini menghadang. Kebijakan efisiensi anggaran membuat pesanan dari instansi pemerintah dan BUMN menurun drastis. Ritme produksi pun melambat, sementara kebutuhan operasional tetap berjalan.

Kondisi ini membuat keberlanjutan produksi semakin bergantung pada dukungan berbagai pihak. Selama ini, pelatihan digital marketing-termasuk yang didukung oleh Bank Rakyat Indonesia (BRI)-telah membantu membuka akses pasar yang lebih luas. Namun, menurut Andina, penguatan masih sangat dibutuhkan, terutama dalam hal permodalan, fasilitas, ruang pamer, serta promosi digital.

"Kalau fasilitas dan promosi ditingkatkan, dampaknya akan jauh lebih besar. Mereka punya kemampuan dan karya yang layak diapresiasi," ujarnya.

(dtg/dtg)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Hide Ads