Elie Saab Bertahan di Tengah Konflik, Pilih Tetap Berkarya di Lebanon
Beberapa bulan terakhir, Lebonon juga menjadi target serangan Israel di tengah krisis geopolitik di Timur Tengah. Namun, desainer Elie Saab bersikukuh untuk tetap berkarya di negaranya.
Nama Elie Saab telah mendunia dengan gaun-gaun glamornya yang dipakai para bintang Hollywood. Salah satu kreasi Elie Saab yang paling dirayakan adalah gaun merah burgundy yang dipakai Halle Berry saat mengukir sejarah sebagai perempuan kulit hitam pertama yang meraih piala Oscar kategori aktris utama terbaik pada 2002.
Penampilan Halle Berry di peragaan 'The 1001 Season of ELIE SAAB' pada 2024. Ia memakai ulang gaun yang pernah dikenakannya saat mengukir momen bersejarah di Oscars 20 tahun lalu. (Foto: REUTERS/Hamad I Mohammed) |
Sang desainer mendirikan labelnya pada 1982 di Beirut ketika Lebanon masih dilanda perang saudara (1975-1990). Seiring bisnis yang bertumbuh, Elie Saab juga mengekspansi markasnya hingga Lugano, Swiss. Namun, Beirut tetap menjadi rumah utama.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Bahkan ketika situasi di Timur Tengah makin memanas belakangan ini, Elie Saab enggan beranjak.
Asap tebal setelah ledakan di Choukne, Lebanon pada 26 April 2026. Lebanon ikut menjadi target Israel karena diduga melindungi kelompok militan Hezbollah. (Foto: AFP) |
"Mirisnya, kami sudah terbiasa dengan situasi ini. Bagi saya, fashion memiliki makna untuk mengubah sesuatu yang buruk menjadi indah. Itulah misi saya sejak awal," kata pria 61 tahun itu kepada The New York Times.
Jenama Elie Saab yang kini juga dijalani oleh putranya, Elie Saab Jr., memiliki 700 staf di Beirut. Tak sedikit yang ikut terdampak, tapi loyalitas dan kecintaan pada fashion yang membuat mereka tetap bertahan.
Elie Saab Jr. bersama aktris Eva Longoria dan model Rosie Huntington-Whiteley di fashion show Elie Saab Haute Couture Spring-Summer 2025 saat Paris Fashion Week pada Januari 2025. (Foto: Lyvans Boolaky/Getty Images) |
"Ada beberapa orang kami yang rumahnya terkena ledakan rudal. Mereka kehilangan rumah, tapi tetap muncul di kantor jam 8 pagi keesokan harinya. Mereka bilang, 'Kami ingin fokus ke hal lain dan fokus pada masa depan bersama'," ungkap Elie Saab Jr..
Perang mungkin menghancurkan bangunan, tapi tidak semangat Elie Saab dan timnya.
Koleksi Elie Saab Couture Spring 2023. (Foto: Giovanni Giannoni/ Getty Images) |
Banyak orang yang heran mengapa perancang anggota Chambre Syndicale de la Haute Couture tidak berkarya saja di lokasi yang lebih aman seperti Milan atau Paris, di mana workshop-nya juga berada.
"Saya justru merasa lebih baik di sini, terutama saat hari-hari sulit. Saya tidak mau pergi ke luar negeri," katanya.
Elie Saab Jr. senada dengan ayahnya dan mengatakan, "Lebanon telah melalui masa-masa indah sekaligus sulit. Saat era keemasan Lebonon pada 1960-an, Beirut adalah Parisnya Timur Tengah. Itulah Lebanon yang kami harapkan.
(dtg/dtg)
















































