Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network

Ironi Kapas di Indonesia, Jadi Simbol Negara Tapi Ketergantungan Impor

Daniel Ngantung - wolipop
Jumat, 24 Apr 2026 19:18 WIB

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Ironi Impor Kapas di Film Menolak Punah karya Dandhy Laksono
Kapas putih produksi perajin di Kerek, Tuban, Jawa Timur. (Foto: Dok. Sejauh Mata Memandang)
Jakarta -

Sejatinya, kapas telah menjadi bagian dari identitas Indonesia. Namun pada kenyataannya, negara kita yang disebut-sebut makmur sumber daya alam ini harus mengimpor kapas demi memenuhi kebutuhan dalam negeri.

Begitu penting dan bermaknanya, kapas dipilih sebagai simbol dari sila kelima Pancasila, dasar yang menjadi pedoman dan falsafah hidup bangsa Indonesia.

Bersandingan dengan padi, kapas terletak di bagian kanan bawah dari perisai Burung Garuda. Keduanya melambangkan kemakmuran dan kesejahteraan, sesuai dengan bunyi sila terakhir: "Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia."

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Tak berhenti di situ, kapas juga hadir di lambang atau simbol lembaga negara lainnya. Mulai dari Polri, Kementerian Keuangan, dan Dharma Wanita.

ADVERTISEMENT

Peran kapas sangat krusial, terutama sebagai bahan baku pembuatan benang yang kemudian akan diolah menjadi pakaian. Sebuah fakta pun terungkap bahwa mayoritas atau bahkan hampir semua kapas yang beredar Indonesia merupakan produk impor.

Keironisan tersebut menjadi sorotan utama dalam film dokumenter 'Menolak Punah' karya Dandhy Laksono dan Aji Yahuti. "Indonesia mengimpor 99 persen kapas," demikian bunyi salah satu narasi di film berdurasi sekitar 60 menit itu.

Ironi Impor Kapas di Film Menolak Punah karya Dandhy LaksonoFilm 'Menolak Punah' karya Dandhy Laksono dan Aji Yahuti. Foto: Dok. Sejauh Mata Memandang

Temuan tersebut berdasarkan hasil riset yang dilakukan Dandhy dan tim selama hampir tiga tahun memproduksi film. Tidak berlebihan bila pada akhirnya, Indonesia disebut berada dalam status 'krisis kapas'.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) dan Trade Map, seperti dikutip CNBC Indonesia, impor kapas Indonesia (kode HS 5201) mencapai Rp 13,38 triliun sepanjang 2024, dengan volume sekitar 405 ribu ton.

Jumlah tersebut menurun dari tahun sebelumnya, yakni US$ 1,52 miliar atau setara dengan Rp 24 triliun, dengan volume 467 ribu ton. Namun, selisihnya tidak terlalu signifikan dan masih menunjukkan negara kita yang agraris ini belum bisa lepas dari ketergantungan pada kapas impor.

"Kita harus memutus lingkaran setan ini," ujar Dandhy yang sebelumnya menggarap film 'Plastic Island' (2021), usai menggelar sesi nonton bersama di Metro Cinema Kemang, Jakarta Selatan, baru-baru ini.

Kegiatan tersebut digelar dalam rangka peringatan Hari Bumi yang jatuh setiap 22 April sekaligus menandai hari pertama Fashion Revolution Week 2026.

Film 'Menolak Punah' turut mendapat dukungan dari Sejauh Mata Memandang (SMM), jenama mode Indonesia yang mencoba berkomitmen dalam menjalankan praktik slow fashion.

Ironi Impor Kapas di Film Menolak Punah karya Dandhy LaksonoKebun kapas rami di Wonosobo, Jawa Tengah. (Foto: Dok. Sejauh Mata Memandang)

Menanggapi masalah benang impor, Chitra Subyakto, pendiri SMM, tak memungkiri bahwa kondisi tersebut pada akhirnya membuat perajin kain tradisional tak punya pilihan selain menggunakannya.

"Mau bilang kita pakai wastra Indonesia, tapi ternyata dibuat dengan benang impor," kata Chitra.

Alih fungsi lahan, minimnya pendampingan teknologi, hingga rendahnya adopsi varietas unggul masih membelenggu langkah swasembada.

Film 'Menolak Punah' yang juga mengangkat isu pengelolaan limbah pakaian dan dampak konsumsi fast fashion memberikan sebuah optimisme dengan menghadirkan sepasang suami-istri dari Lombok, Nusa Tenggara Barat. Andi dan Dina Faisal giat berkeliling daerah untuk belajar sekaligus mempromosikan membudidayakan tanaman kapas dengan kearifan lokal.

Semoga suatu saat mimpi untuk lepas dari krisis kapas sebagai bagian upaya kedaulatan sandang di Indonesia akan segera terwujud.

(dtg/dtg)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Hide Ads