Saat Anna Wintour dan Meryl Streep Pose Bareng di Majalah Vogue
Euforia film 'The Devil Wears Prada 2' terus berlanjut jelang perilisannya pada awal Mei mendatang. Kali ini, salah satu pemeran utamanya, Meryl Streep, muncul di sampul majalah Vogue bersama Anna Wintour.
Film The Devil Wears Prada yang pertama kali dirilis pada 2006 itu diadaptasi dari novel fiksi karya Lauren Weisberger yang sempat bekerja sebagai asisten Anna. Adapun karakter Miranda disebut-sebut terinspirasi oleh mantan pemimpin redaksi Vogue itu.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tentu saja, busana keluaran Prada menjadi pilihan untuk dipakai keduanya untuk photoshoot. Anna memakai terusan berwarna merah yang dihiasi detail embellishment di bagian bahu. Sementara itu, Meryl bersetelan biru navy dengan blus putih. Mereka juga sama-sama berkacamata hitam.
Dalam wawancara yang dimoderatori oleh sutradara Greta Gerwig itu, mereka membahas berbagai isu, termasuk bagaimana perempuan menggunakan busana untuk memproyeksikan kekuatan.
Meryl mengaku memiliki banyak pemikiran terkait topik tersebut. Ia secara khusus menyinggung jaket hijau kontroversial bertuliskan "I Really Don't Care, Do U?" yang dikenakan Melania Trump pada 2018.
Menurutnya, pesan paling kuat yang pernah disampaikan Melania justru datang dari pilihan busana tersebut, saat ia mengunjungi anak-anak migran yang ditahan di perbatasan AS. "Semua pakaian adalah bentuk ekspresi diri, tetapi kita juga berada dalam arus besar ekspektasi sejarah dan politik," ujar aktris pemenang Oscar itu.
Sebagai informasi, Melania mengenakan jaket tersebut saat berkunjung ke Upbring New Hope Children's Shelter di McAllen, Texas, pada Juni 2018. Ia terlihat memakai jaket itu saat perjalanan pergi dan pulang, tapi melepasnya sebelum tiba di lokasi kunjungan.
Dalam wawancara terpisah dengan ABC News pada Oktober 2018, Melania menegaskan bahwa jaket tersebut bukan ditujukan untuk anak-anak yang ia kunjungi. Ia menyebut pesan itu ditujukan kepada media dan pihak yang mengkritiknya.
Meryl juga membahas standar berbeda yang dihadapi perempuan dalam dunia profesional, khususnya terkait penampilan. Ia menyoroti bagaimana perempuan kerap dituntut tampil dengan cara tertentu yang seolah menunjukkan "kerendahan" diri.
"Saya terkejut melihat perempuan berkuasa di televisi harus memperlihatkan lengan terbuka, sementara laki-laki tetap tertutup dengan setelan jas. Ada semacam 'permintaan maaf' dalam penampilan perempuan," ujarnya.
Ia menambahkan bahwa pencapaian perempuan dalam beberapa dekade terakhir justru memunculkan tekanan baru untuk terlihat tidak mengancam. Menurutnya, hal ini tercermin dalam cara perempuan berpakaian di ruang publik.
Sementara itu, Anna Wintour memiliki pandangan berbeda. Ia menilai bahwa mengenakan "power suit" tidak selalu diperlukan untuk menunjukkan otoritas.
Anna yang saat ini menjabat sebagai global editorial director mencontohkan mantan ibu negara AS, Michelle Obama, sebagai sosok yang konsisten dengan gaya pribadinya. "Apa pun yang ia kenakan, ia selalu terlihat seperti dirinya sendiri," katanya.
Meski demikian, Anna juga menilai hal serupa berlaku bagi Melania Trump. "Sejujurnya, Melania pun selalu terlihat seperti dirinya sendiri saat berpakaian," ujarnya.
(dtg/dtg)












































