Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network

Pameran Mode di London Ungkap Cara Schiaparelli Ubah Fashion Jadi Karya Seni

Daniel Ngantung - wolipop
Selasa, 31 Mar 2026 19:30 WIB

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Pameran Museum V&A Schiaparelli di London
Pameran Schiaparelli di V&A Museum London. (Foto: Instagram/@schiaparelli)
London -

Hubungan antara fashion dan seni bukan hal baru. Sejak lama, para desainer mengambil inspirasi dari karya seniman besar dunia, menghadirkan busana yang tak hanya fungsional tetapi juga artistik. Dengan teknik tinggi dan pendekatan avant-garde, fashion bahkan kerap dipandang setara dengan lukisan atau patung.

Inilah yang diangkat dalam pameran besar bertajuk "Schiaparelli: Fashion Becomes Art" di Victoria and Albert Museum. Dibuka pada 28 Maret, pameran ini menyoroti perjalanan visioner desainer asal Italia, Elsa Schiaparelli, yang dikenal karena pendekatan surealis dan eksperimental dalam dunia mode.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Pameran tersebut menampilkan bagaimana karya Schiaparelli tidak sekadar busana, melainkan ekspresi artistik yang mampu menantang norma, mulai dari standar kecantikan hingga fungsi dasar pakaian. Lewat desainnya, Schiaparelli membuktikan bahwa busana bisa menjadi medium untuk mengubah cara pandang masyarakat.

Menariknya, hampir satu abad setelah era keemasan Schiaparelli, warisannya diteruskan oleh direktur kreatif rumah mode tersebut saat ini, Daniel Roseberry. Dalam pameran ini, karya keduanya dipertemukan, menunjukkan bagaimana pendekatan "shocking" ala Schiaparelli tetap relevan di tengah arus fashion yang cenderung konservatif.

ADVERTISEMENT

Menurut kurator senior fashion V&A, Sonnet Stanfill, kekuatan Schiaparelli terletak pada kolaborasinya dengan para seniman besar. Ia bekerja bersama tokoh-tokoh seperti Man Ray, Jean Cocteau, hingga Salvador Dali. Kolaborasi ini bukan sekadar adaptasi visual, melainkan pertukaran ide kreatif yang mendalam.

Berasal dari keluarga aristokrat intelektual di Roma dan tanpa pendidikan formal di bidang fashion, Schiaparelli justru menghadirkan karya yang berani dan tak biasa. Ia kerap menabrak pakem estetika, berbeda dari desainer sezamannya seperti Coco Chanel atau Christian Dior yang mengedepankan kesederhanaan atau keindahan klasik.

Schiaparelli justru merayakan keanehan. Ia menciptakan topi berbentuk sepatu, jaket bertema sirkus dengan kancing menyerupai kuda, hingga sepatu bot berbahan bulu monyet pada 1938-desain yang bisa dianggap nyeleneh, bahkan "buruk", namun justru menjadi pernyataan artistik yang kuat.

Pendekatan ini membuat karyanya terasa relevan di tengah dinamika budaya Eropa pra-Perang Dunia II yang penuh gejolak, terutama di Paris yang saat itu cenderung konservatif. Kini, semangat tersebut kembali dihidupkan oleh Roseberry lewat desain yang tak kalah provokatif-mulai dari gaun merah dramatis hingga konsep busana yang memadukan elemen futuristik dan budaya pop.

Lewat pameran ini, publik diajak melihat bahwa fashion bukan sekadar soal estetika yang menyenangkan mata. Lebih dari itu, fashion dapat menjadi alat untuk memancing diskusi, menggugah emosi, dan bahkan mendorong perubahan cara pandang terhadap perempuan, kekuasaan, dan identitas.

Di tangan Schiaparelli, dulu maupun sekarang, fashion benar-benar menjadi seni.

(dtg/dtg)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Hide Ads