Teriakan Pelaku Bisnis Mode, Mulai Khawatir Dampak Perang Iran-AS
Perhelatan mode di luar maupun dalam negeri seakan kebal dari perang yang berkecamuk di Timur Tengah. Paris Fashion Week tetap berjalan, sementara rentetan peragaan busana muslim di Indonesia digelar silih-berganti untuk menyambut Idul Fitri. Di balik kemeriahan tersebut, tersembunyi rasa khawatir di benak para pelaku industri kreatif ini.
Desainer Deden Siswanto hanya bisa pasrah. Lini kedua Deden, MYMD, yang biasa menerima pesanan baju seragam Lebaran mengalami penurunan pesanan tahun ini.
"Biasanya 2-3 bulan jelang Lebaran, sudah banyak yang pesan," ungkap perancang yang berbasis di Bandung, Jawa Barat, itu kepada Wolipop baru-baru ini.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Di Koleksi terbarunya Deden megambil tema 'Bolivarymein' di Muslim Fashion festival 2017. Jakarta Convention Center. Senayan. Jakarta. (Foto: Mohammad Abduh/Wolipop) |
Ia tak memungkiri bahwa konflik geopolitik yang dipicu oleh serang AS-Israel terhadap Iran menjadi salah satu penyebab. Alasan Deden tidak dibuat-buat.
Dua pekan sejak serangan tersebut, harga minyak mentah dunia sempat menembus lebih dari US$ 100 per barel sehingga menimbulkan kekhawatiran akan kenaikan harga berbagai kebutuhan. Daya beli konsumen otomatis menurun karena orang-orang menghemat demi keperluan yang lebih penting.
Deden berupaya tetap optimis, tapi ia juga berpikir realistis. Jika situasi makin memburuk, sejumlah opsi sudah disiapkannya. Terburuk adalah efisiensi dengan mengurangi jumlah staf.
"Teman-teman (sesama desainer) juga merasakan hal yang sama. Kami mau komplain, tapi ke siapa. Pemerintah juga belum ada upaya apa-apa," keluh Deden.
Ditemui terpisah, desainer Denny Wirawan mengungkapkan kekhawatiran serupa. Prediksinya, dampak perang pasti akan merembet ke berbagai industri, tanpa terkecuali mode.
Menaungi dua label premium, Denny sebenarnya merasa lebih aman karena hampir sebagian besar pelanggannya tidak masuk dalam kategori yang atau lebih cepat melemah daya belinya.
Koleksi busana Lebaran 2026 Persembahan Denny Wirawan. (Foto: Daniel Ngantung/detikcom) |
Berkaca pada pengalaman semasa COVID, ketika banyak bisnis yang gulung tikar, Denny justru tetap bertahan. Ia malah menambah jumlah karyawan untuk mengakomodasi permintaan. Bahkan, keuntungan yang dipanen memungkinkan Denny untuk memberangkatkan staf terbaiknya umrah.
"Puji Tuhan, atas pencapaian sebelumnya. Beruntung pas COVID, tidak ada karyawan yang dirumahkan. Namun kalau sekarang isunya kan beda. Semoga tidak terpengaruh," harap pria yang sudah tiga dekade lebih berkarya sebagai perancang itu.
Rizki Triana, pendiri label OE (dulu Oemah Etnik), relatif baru di bisnis mode, tapi serangkaian peristiwa tak terduga beberapa tahun terakhir memberinya pelajaran penting sehingga merek yang dirintisnya, tak hanya bertahan tapi juga berkembang.
Ia menjelaskan, OE berdiri di atas empat pilar, salah satunya 'faith' atau keyakinan. "Ini yang membantu OE bertumbuh di tengah ketidakpastian," kata Rizki selepas mempresentasikan koleksi terbaru OE untuk Idul Fitri 2026 di Plaza Indonesia.
Rizki Triana (baris depan, ketiga dari kanan) usai mempresentasikan koleksi OE untuk Lebaran 2026. (Foto: Dok. OE) |
Tahun lalu disebutnya sebagai masa-masa terberat bagi OE. Sederet peristiwa seperti aksi demonstrasi besar-besaran terhadap DPR hingga bencana ekologis di Sumatera mengubah segala rencana yang telah diatur dari jauh-jauh hari. Rizki harus berstrategi ulang sebagai bentuk dukungan kepada mereka yang terdampak.
"Apa yang terjadi berada di luar kontrol kami. Oleh karena itu, kami memilih fokus pada apa yang bisa kami kontrol. Misal, kami menguatkan komunitas, kami memberi lebih kepada mereka yang selalu setia sama OE. Kami berusaha menjaga bubble ini sehingga tetap bisa kuat saat di luar sana terjadi kekacauan," katanya.
(dtg/dtg)















































