Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network

Kenapa Keluarga Indonesia Suka Baju Lebaran Seragam? Ini Sejarahnya

Daniel Ngantung - wolipop
Minggu, 22 Mar 2026 07:00 WIB

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Fashion Show Ria Miranda 2
(Foto: Ari Saputra/detikFoto)
Jakarta -

Bergaya kompak dalam balutan busana yang seragam seperti sudah menjadi bagian dari perayaan Lebaran banyak keluarga Indonesia. Mungkin sempat terbesit di benak, bagaimana 'tradisi' tersebut bermula?

Pertanyaan tersebut membawa Deden Siswanto ke masa awalnya memulai karier di industri mode sebagai penjahit pada era 1990-an. Kala itu, perancang yang identik dengan busana kontemporer berbahan wastra ini kerap diminta istri-istri pegawai negeri untuk menjahit batik sehingga menjadi pakaian 'couple' yang dikenal dengan istilah 'sarimbit'.

Di Koleksi terbarunya Deden megambil tema 'Bolivarymein' di Muslim Fashion festival 2017. Jakarta Convention Center. Senayan. Jakarta.Deden Siswanto di Muslim Fashion festival 2017. (Foto: Mohammad Abduh/Wolipop)

"Biasanya si istri pakai kebaya dengan bawahan batik yang sama seperti kemeja suami. Dari tren sarimbit yang mulai populer pada akhir 80-an itu, terbentuklah budaya keluarga berseragam untuk hari-hari besar keagamaan, khususnya Idul Fitri, di Indonesia," kata anggota Indonesian Fashion Chamber itu kepada Wolipop baru-baru ini.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Tak hanya ayah dan ibu, tapi juga anak-anak memakai busana yang sama dengan orangtuanya. Permintaan pasar sangat tinggi, terutama menjelang Lebaran.

Tawaran koleksi busana seragam pun mudah ditemui di tempat-tempat seperti Pasar Tanah Abang hingga butik dan katalog desainer ternama. Bahkan brand internasional seperti adidas juga menyertakan foto keluarga kompak memakai busana sporty senada dalam materi promo Lebaran tahun ini.

ADVERTISEMENT
Fashion Show Ria Miranda 1Fashion Show Ria Miranda 1 (Foto: Ari Saputra/detikFoto)

Di fashion show busana muslim satu dekade belakangan, penampilan sepasang model pria dan wanita dewasa serta 2-3 anak yang memakai busana seragam hampir tak pernah absen. Contoh-contoh di atas cukup untuk menunjukkan betapa eratnya konsep berseragam dalam pakaian hari raya di Indonesia.

Deden juga mengakomodasi kebutuhan tersebut lewat lini keduanya, MYMD (My Mom & Dad). Berdasarkan pengamatannya, terjadi pergesaran tren dalam berbusana seragam.

"Sekarang, seragamnya nggak harus seperti kembaran. Misal warna bajunya tetap sama, tapi desain dibedakan. Namun, baju seragam kembar masih diminati. Tidak ada yang salah, selama sesuai dengan selera dan kebutuhan," kata desainer yang berbasis di Bandung, Jawa Barat, itu.

(dtg/dtg)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Hide Ads