Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network

Penjelasan Gamis Bini Orang Diburu Pembeli Menurut Akademisi Budaya

Daniel Ngantung - wolipop
Senin, 09 Mar 2026 21:10 WIB

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Tren gamis bini orang.
Baju 'Gamis Bini Orang' dipajang di salah satu kios di Pasar Tanah Abang, Jakarta belum lama ini. (Foto: Gresnia/Wolipop)
Jakarta -

Masih ingat dengan Gamis Manohara dan Baju Koko Pasha Ungu yang sempat menjadi tren baju Lebaran 2014 silam? Atau Mukena Lesti yang juga sempat mendominasi penjualan saat Ramadan dua tahun lalu? Tahun ini, hampir semua jenis baju Lebaran yang laris manis tidak menggunakan embel-embel nama figur publik tertentu.

Saat sosok terkenal tidak lagi ampuh untuk menarik minat pembeli, nama-nama pakaian seperti 'Gamis Bini Orang', 'Gamis Kesayangan Mertua', atau 'Baju Istri Sultan' yang justru laris manis di tempat-tempat seperti Pasar Tanah Abang dan sekelasnya jelang Idul Fitri 2026.

Menurut dosen Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia Asri Saraswati, pemilihan nama tersebut memang menunjukkan penggunaan nama artis seperti yang terjadi di tahun-tahun sebelumnya tidak lagi efektif untuk menaikkan penjualan, apalagi jika artis tersebut pernah terkait berita yang kontroversial.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Namun, lebih dari sekadar strategi bisnis, penamaan tersebut rupanya manjur lantaran secara bahasa konsumen dan penjual memiliki persamaan persepsi.

ADVERTISEMENT

"Misal, gamis istri mertua seakan menjadi resep agar seorang menantu atau calon menantu diterima oleh mertuanya, karena model bajunya yang sopan, feminin, longgar, tapi tetap terkesan spesial," ujar pengajar Program Studi Inggris itu kepada Wolipop dalam wawancara lewat surat elektronik baru-baru ini.

Pasar Tanah Abang, Jakarta Pusat, kembali dipadati warga yang berburu berbagai kebutuhan busana Lebaran lebih awal. Sabtu (7/3/2026), lorong-lorong Blok F terlihat ramai sejak pagi, dengan pengunjung datang dari berbagai wilayah Jabodetabek untuk mencari pakaian dengan harga grosir yang relatif lebih terjangkau dibandingkan pusat perbelanjaan lain.Pasar Tanah Abang, Jakarta Pusat, kembali dipadati warga yang berburu berbagai kebutuhan busana Lebaran lebih awal. Sabtu (7/3/2026), lorong-lorong Blok F terlihat ramai sejak pagi, dengan pengunjung datang dari berbagai wilayah Jabodetabek untuk mencari pakaian dengan harga grosir yang relatif lebih terjangkau dibandingkan pusat perbelanjaan lain. (Foto: Pradita Utama/detikFoto)

Sementara itu, istilah 'sultan', lanjut Asri, langsung menandakan kemewahan, kesan lain daripada yang lain, cocok untuk konsumen yang ingin tampak mewah dengan bujet yang masih masuk akal.

Asri yang meraih gelar Ph.D dalam bidang Kajian Amerika dari University at Buffalo, University at Buffalo, State University of New York, ini menyebut penamaan tersebut sebagai sebuah penggunaan bahasa yang kreatif.

"Dengan beberapa kata yang catchy, sejumlah makna tersampaikan sekaligus. Saat penjualan baju banyak dilakukan lewat platform seperti TikTok dan Shopeelive, teknik ini jadi bermanfaat karena penjual bisa menggambarkan pakaian secara singkat dan cepat yang bisa langsung dipahami calon konsumen," katanya.

Lebih dari itu, pemakaian nama-nama tersebut sekali lagi mempertegas peran baju yang lebih dari sekadar penutup tubuh. Pakaian secara tidak langsung menjelma sebagai medium untuk menyematkan perasaan dan emosi.

Koleksi baju Lebaran 2026 yang ada di Tanah Abang.Koleksi baju Lebaran 2026 di Pasar Tanah Abang. (Foto: Dok. Gresnia/Wolipop)

"Misal keinginan seseorang untuk diterima oleh keluarga mertua, atau keinginan mencapai kemapanan selayaknya 'sultan' seakan bisa dicapai melalui baju. Pakaian dengan demikian menjadi semacam medium untuk menautkan harapan," kata akademisi yang penelitiannya kerap mengeksplorasi hubungan antara fashion dan identitas dalam konteks global itu.

Pada saat yang bersamaan pula, ada sesuatu yang menghibur dan lucu dari penamaan ini. Asri menilai, pemilihan nama 'Gamis Bini Orang', 'Gamis Kesayangan Mertua', atau 'Baju Istri Sultan' memperlihatkan ekspresi humor masyarakat di tengah kondisi ekonomi yang tak tentu. "Atau menunjukkan masyarakat yang mencari harapan dan senyum di tengah suasana yang tidak mudah," ungkapnya.

(dtg/dtg)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Hide Ads