7 Brand Fashion Lokal Milik Wanita RI yang Mendunia
Setiap tanggal 8 Maret, dunia merayakan Hari Perempuan Internasional sebagai momentum untuk mengapresiasi pencapaian perempuan di berbagai bidang, termasuk industri fashion.
Di Indonesia, sejumlah desainer dan pengusaha perempuan berhasil membangun label yang tidak hanya eksis di dalam negeri, tetapi juga menembus pasar global.
Melalui kreativitas, identitas budaya, dan inovasi, mereka membuktikan bahwa perempuan Indonesia mampu menjadi kekuatan besar dalam industri mode dunia.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Berikut tujuh label fashion milik perempuan Indonesia yang telah dikenal hingga mancanegara.
1. Fuguku
Koleksi Fuguku bernama Way of Waterdi Jakarta Fashion Week 2025 (27/10/2024). Foto: Dok. Jakarta Fashion Week 2025. |
Desainer Nonita Respati (pendiri label Purana) dan Savira Lavinia Raswari memperkenalkan Fuguku pada 2022.
Sesuai namanya, 'fugu' yang dalam bahasa Jepang berarti 'duri' atau 'bintik', desain Fuguku terinspirasi dari ikan buntal dengan material yang bertekstur seperti durian.
Meski bukan label pertama yang mengeksplor material tersebut, Fuguku terus membuktikan identitasnya yang unik. Tak hanya sekadar aksesori, tapi kini tersedia pula versi ready to wear dalam desain yang edgy dan kontemporer. Koleksinya pun berhasil merebut perhatian pasar internasional ketika Fuguku berpartisipasi di beberapa trade show mancanegara. Di Premiere Classe Paris misalnya, Fuguku kebanjiran pesanan dari Italia. "Munkgin karena desainnya yang bernuansa resor cocok dengan orang-orang yang tinggal di kawasan Mediterania," ungkap Nonita kepada Wolipop di sela pameran tersebut pada Oktober 2025.
2. Studio Jeje
Angelita Nurhadi. (Foto: Daniel Ngantung/detikcom) |
Di bawah arahan kreatif sang pendiri, Angelita Nurhadi, Studio Jeje dikenal lewat desain yang playful, artistik, dan sarat eksplorasi visual dengan pendekatan mendalam pada detail. Bakat Angie, begitu sapaan akrabnya, sudah mendapat pengakuan di ajang seperti Harper's Bazaar Asia NextGen Awards (2018) dan Elle Style Award (2019).
Bulan lalu, Studio Jeje termasuk satu dari dua label yang berpartisipasi di ajang Melbourne Fashion Festival 2026. Dalam kegiatan tersebut, Alumnus Institut Teknologi Bandung (ITB) ini berkesempatan pamer karya sekaligus mengikuti sejumlah kegiatan pertukaran misi budaya.
3. ANW
Foto: Daniel Ngantung/detikcom
"Kami sangat excited karena ingin melakukan research tentang budaya Aborigin. Selama ini kamu menggali inspirasi dari Indonesia, tapi sekarang bisa mendapat kesempatan untuk mengulik budaya luar negeri," ujar Astrid kepada Wolipop jelang keberangkatannya ke Australia.
Didirikan pada 2017, ANW hadir sebagai label eksperimental yang mengedepankan manipulasi kain dan materiallainnya, serta menggabungkan elemen traditionaldengan kontemporer. ANW dikenal dengan motifbunga yang diambil dari daster nenek indonesiayang dibuat menggunakan bordir mesin manual dikain plisket transparan yang muncul dari koleksidebut berjudul Pell Mell pada 2018.
4. Monica Ivena
Monica Ivena. (Foto: Daniel Ngantung/detikcom) |
Monica Ivena dikenal sebagai desainer yang menghadirkan karya-karya feminin dengan sentuhan elegan dan romantis. Desainnya sering memadukan teknik tailoring yang rapi dengan detail yang lembut sehingga menciptakan siluet yang anggun.
Label Monica Ivena mendunia setelah selebriti internasional memakainya. Mulai dari Taylor Swift hingga Khloe Kardashian.
5. Buttonscarves
Linda Anggrea, pendiri Buttonscarves. (Foto: Ari Saputra/detikcom)
Tidak hanya populer di Indonesia, Buttonscarves juga memperluas pasar ke berbagai negara dan memiliki komunitas pelanggan yang loyal di tingkat global. Brand ini menjadi contoh bagaimana modest fashion Indonesia mampu bersaing di pasar internasional. Atas usahanya, Linda menembus daftar BoF 500 Class of 2025 yang dirilis oleh Business of Fashion, salah satu media fashion internasional yang cukup berpengaruh.
6. Lakon Indonesia
Thresia Mareta, pendiri Lakon dan penasehat JF3 Fashion Festival. (Foto: Daniel Ngantung/detikcom) |
Thresia Mareta mendirikan Lakon Indonesia pada 2018 dengan misi melestarikan dan mengangkat budaya Indonesia melalui pendekatan desain yang relevan dengan kehidupan modern. Bekerja sama dengan Pemerintah Prancis untuk mendirikan Pintu, sebuah program inkubasi bagi desainer muda, ia juga berkesempatan untuk menjual produk Lakon yang juga didesain oleh perancang Irsan di department strore ternama Paris, Printemps Haussmann.
Pada Februari 2025, Thresia menerima penghargaan Knight of The Ordre des Arts et des Lettres dari Kementerian Kebudayaan Prancis berkat dedikasinya dalam melestarikan dan mengembangkan warisan budaya Indonesia.
7. BINhouse
Josephine 'Obin' Komara. (Foto: Dok. Windy Sucipto/One Fine Sky/BINhouse) |
Jauh sebelum nama-nama di atas, Josephine 'Obin' Komara sudah sukses membawa labelnya ke panggung dunia sejak awal 90-an. BINhouse adalah label yang identik dengan pelestarian dan inovasi kain tradisional Indonesia, khususnya batik.
Karya-karya BINhouse juga telah dipamerkan di berbagai institusi seni dunia dan menjadi representasi kuat dari kekayaan tekstil Indonesia. Pada 2024, ia masuk dalam daftar bergengsi Forbes 50 Over 50 Asia.
Di usia 70 tahun, Obin yang lebih suka dikenal sebagai 'tukang kain' ketimbang desainer itu masih aktif berkarya.
Semua label ataupun desainer ini menunjukkan bahwa perempuan Indonesia tidak hanya berperan sebagai pelaku industri, tetapi juga sebagai inovator dan penjaga identitas budaya dalam fashion.
Di momen Hari Perempuan Internasional, kisah mereka adalah bukti bahwa kreativitas, ketekunan, dan visi yang kuat dapat membawa karya lokal melangkah ke panggung dunia.
Industri fashion Indonesia pun terus berkembang berkat kontribusi para perempuan yang berani berkarya dan membawa identitas Indonesia ke pasar global.
















































