Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network

Baju Lebaran 2026

Kata Desainer Denny Wirawan Soal Tren Baju Lebaran Gamis Bini Orang

Daniel Ngantung - wolipop
Sabtu, 07 Mar 2026 09:05 WIB

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Koleksi Busana Lebaran 2026 Persembahan Denny Wirawan
Denny Wirawan bersama para model yang memeragakan koleksi baju Lebaran karyanya di Metro Festive Raya 2026. (Foto: Daniel Ngantung/detikcom)
Jakarta -

Mungkin hanya di Indonesia, momen Ramadan diramaikan dengan fenomena tren baju Lebaran dan penamaannya yang unik. Tahun ini, Gamis Bini Orang menggaung hampir di setiap sudut Pasar Tanah Abang dan sekelasnya.

Selain itu, ada pula yang dinamai Baju Menantu Idaman, lalu Baju Istri Sultan. "Kalau dilihat, sebenarnya potongan baju sama saja. Tidak ada desain yang secara spesifik mewakili nama-nama tersebut," ungkap perancang Denny Wirawan saat ditemui Wolipop usai menampilkan koleksi busana Lebaran terbarunya di Metro Festive Raya 2026, Plaza Senayan, baru-baru ini.

Tren gamis bini orang.Baju Lebaran 'Gamis Bini Orang' ramai dijual di kios-kios Pasar Tanah Abang. (Foto: Gresnia/Wolipop)

Tak dimungkiri memang, kata Denny, penggunaan nama tersebut merupakan salah satu bentuk kekreativitasan sekaligus strategi penjual demi menarik perhatian pembeli. Media sosial termasuk faktor pemicunya.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"It's a trick. Mungkin di era media sosial, orang lebih mudah terpanggil dengan gimik. Nama baju tersebut juga semakin mudah tersebar lewat media sosial sampai akhirnya viral," tutur Denny yang tahun depan genap berkarier selama tiga dekade di industri mode Indonesia.

Koleksi Busana Lebaran 2026 Persembahan Denny WirawanDenny Wirawan usai mempresentasikan koleksinya di Metro Festive Raya 2026. (Foto: Daniel Ngantung/detikcom)

Ia kemudian teringat dengan tren baju shimmer yang sempat mendominasi dua tahun lalu. Gamis hingga kaftan mendadak hadir dalam material yang mengkilap (shimmering) ketika terkena pantulan sinar.

ADVERTISEMENT

Diungkapkannya, banyak orang yang antusias, tapi tak sedikit pula yang menyesal membeli lantaran merasa tak cocok.

"Dalam hal ini, kembali lagi ke konsumen untuk memilah apa sih yang dibutuhkan sesuai dengan karakter pribadi dan selera. Jangan hanya karena ramai, lalu ikut-ikutan, nanti pada akhirnya kecewa," saran finalis Lomba Perancang Mode (LPM) 1992 itu.

(dtg/dtg)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Hide Ads