Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network

Kenapa Sumbangan Baju Bekas di Lokasi Bencana Rentan Jadi Sampah Fashion?

Daniel Ngantung - wolipop
Jumat, 27 Feb 2026 19:43 WIB

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

girl holding a box with donations. High quality photo
Ilustrasi donasi pakaian (Foto: iStockphoto/Getty Images)
Jakarta -

Di tengah upaya penyaluran bantuan bagi korban bencana ekologis di Sumatera pada awal Desember lalu, ramai beredar video tumpukan baju bekas di tenda-tenda darurat. Hanya satu atau dua warga yang tampak mengais di atas gunungan pakaian tersebut.

Baju sebagai kebutuhan pokok (sandang) kerap dianggap sebagai bantuan yang paling krusial bagi para penyintas di area bencana. Namun pada kenyataannya, donasi yang datang dalam bentuk pakaian malah kerap terabaikan di kawasan bencana lantaran tidak memenuhi kriteria yang diperlukan korban.


Anisa Zulhaida dari bagian Partnership Squad Disaster Risk Management Human Initiative, organisasi nirlaba yang biasa menyalurkan bantuan ke korban bencana, mengatakan pakaian memang dibutuhkan. Namun, penyalurannya harus diawali dulu dengan survey.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT


"Selain itu pakaian layak juga perlu dipilah kembali. Belum tentu semua sesuai sehingga inilah yang menyebabkan pakaian tersebut menjadi tumpukan yang tidak terpakai dan menjadi masalah baru sebagai sampah," kata Annisa kepada Wolipop dalam kegiatan Mindful Decluttering di Uniqlo Senayan City baru-baru ini.

girl holding a box with donations. High quality photo(Foto: iStockphoto/Getty Images)

Sumber daya manusia yang terbatas menjadi salah satu tantangan. Alhasil, survey dan pemilahan donasi pakaian kurang diprioritaskan dalam situasi yang bersifat darurat. Kondisi seperti itu, kata Anisa, sempat terjadi di Desa Tolang Jolu, Tapanuli Selatan.

ADVERTISEMENT

"Tumpukan sampah pakaian terjadi. Ini hasil donasi masyarakat yang kemudian terabaikan dan menumpuk hingga hari ini," tuturnya.

Kasus lain, lanjut Anisa. masyarakat di lokasi tertentu butuh membutuhkan sarung karena lebih banyak pria, atau daster untuk ibu-ibu. Sempat viral pula, pria korban bencana di Aceh terpaksa memakai daster dan sejenisnya karena tidak menemukan pakaian yang sesuai.!

"Ini masuk dalam prinsip memartabatkan, memberikan atas dasar kebutuhan ril lapangan," tegas Anisa.

Organisasi seperti Human Initiative disiplin dengan assessments agar masyarakat lebih terarah dalam berdonasi dan barang amal tersebut tidak berujung mubazir. Namun,terdapat beberapa hal lain yang perlu diperhatikan ketika kita hendak menyumbang oak

Ia menganjurkan, pakaian yang didonasikan tentulah harus bersih, masih sangat baik dan layak pakai. Bekas tidak masalah tapi setidaknya cenderung bagus. "Kalau memungkinkan, pakaian baru akan lebih baik," katanya.

Ilustrasi Donasi PakaianRecycle box di toko Uniqlo bagi konsumen yang ingin menyumbangkan pakaian lamanya. (Foto: Dok. Uniqlo Indonesia)


Human Initiative kerap bekerja sama dengan perusahaan besar yang mau turut mendukung upaya pemulihan di daerah bencana. Uniqlo termasuk salah satunya.

Selama lima tahun berkolaborasi bersama merek retail asal Jepang ini, Human Initiative telah mendistribusikan lebih dari 14.000 pakaian baru dan lebih dari 20.000 pakaian bekas, dengan total lebih dari 11.000 penerima manfaat di berbagai wilayah di Indonesia.

Kemitraan tersebut kemudian berlanjut lewat Hari Raya Clothing Donation Collection selama periode Ramadan 2026. Masyarakat dapat berpartisipasi dengan menyumbangkan pakaian lama Uniqlo mereka ke recycle box yang tersedia di seluruh toko Uniqlo. Bantuan nanti akan disalurkan kepada masyarakat kurang mampu dalam acara yang akan diselenggarakan pada Mei 2026.

Program tersebut dikemas sebagai bagian dari tindakan mindful decluttering, versi yang lebih bijak dari sekadar memilah isi lemari. "Partisipasi masyarakat dalam program clothing donation, di mana pelanggan bisa mengumpulkan pakaian yang sudah tidak digunakan melalui recycle box yang ada di seluruh toko Uniqlo, akan memberi makna baru pada pakaian melalui donasi dan daur ulang. Dengan begitu, proses decluttering tidak berhenti pada membuang, tetapi berlanjut pada berbagi dan memperpanjang siklus hidup pakaian," ujar Sustainability Lead Uniqlo Indonesia Michelle Secoa.

Berbagi, apapun itu bentuknya, tentu dapat membawa berkah bagi orang yang membutuhkan. Namun, kita perlu bijak dalam mengeksekusinya.

Limbah fashion saat ini masih menjadi penyumbang polusi terbesar di dunia. Jangan sampai niat baik kita untuk menolong orang malah berujung bencana lain.

(dtg/dtg)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Hide Ads