Kategori Berita
Daerah
Layanan
Detik Network

Menyelamatkan 'Ratu Songket', Sinergi CTI dan BRI Hidupkan Kain Cual Bangka

Daniel Ngantung - wolipop
Minggu, 30 Nov 2025 21:45 WIB

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Program Pembinaan Perajin Tenun Cual Bangka yang diselenggarakan Cita Tenun Indonesia (CTI) dan Bank Rakyat Indonesia (BRI) di Pangkalpinang, Bangka Belitung, pada November 2025
Tim Cita Tenun Indonesia saat melakukan pembinaan tenun cual kepada perajin di Bangka Belitung. Program turut didukung penuh oleh Bank Rakyat Indonesia. (Foto: Dok. CTI)
Jakarta -

Di sebuah rumah yang tak jauh dari Pangkalpinang, Bangka Belitung (Babel), sekelompok perajin serius mengamati penjelasan Sjamsidar Isa, pengurus Cita Tenun Indonesia (CTI), pada awal November lalu.

Mereka datang dari seluruh penjuru Babel, seperti Muntok dan Sungai Liat, melalui perjalanan darat yang memakan waktu 2-3 jam, demi mengikuti pembinaan yang digelar CTI. Program tersebut mendapat dukungan penuh dari Bank Rakyat Indonesia (BRI).

Eksis sejak 15 tahun lalu, CTI yang berbasis di Jakarta aktif membina para perajin, terutama penenun, di berbagai penjuru Indonesia. Puluhan daerah di sudah dijangkau, khususnya yang memiliki kerajinan tenun yang terancam.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Namun, dari sekian banyak tenun yang ditangani, kain cual khas Bangka tergolong membutuhkan perhatian khusus untuk melestarikannya.

"Kami tidak mengira segitu parahnya," ujar Sjamsidar, koordinator program sekaligus pengurus bidang pengendali mutu di CTI, saat berbincang dengan Wolipop baru-baru ini.

ADVERTISEMENT

Ibu Tjami, begitu sapaan akrab untuknya, menjelaskan, wastra khas Babel yang dikenal juga dengan nama Limar Muntok ini merupakan kombinasi dari teknik songket dan ikat pakan.

Program Pembinaan Perajin Tenun Cual BangkaProgram Pembinaan Perajin Tenun Cual Bangka Foto: Dok. CTI

"Karena tingkat kerumitannya cukup rumit, kadang ada yang bilang kain ini sebagai 'Ratunya Songket'," ungkap perempuan yang telah lebih dari 60 tahun melanglang buana di industri fashion itu.

Menawarkan daya tarik tersendiri, produk tenun cual masih dijual di Bangka. Hanya saja, keasliannya mulai tergerus oleh zaman.

Setelah melakukan survei beberapa bulan lalu, ia baru mengetahui bahwa masyarakat Bangka sendiri sudah kehilangan keahlian mencual yang telah diwariskan turun temurun sejak ratusan tahun lalu.

Kain yang beredar kebanyakan malah terbuat dari cual yang dipesan di Palembang, Sumatera Selatan. Benang sudah diikat terlebih dulu di Palembang, setelah itu proses penenunan dilakukan di Babel.

Kemunculan kain motif cual yang dibuat dengan teknik cetak digital (printing) semakin menggambarkan betapa kearifan lokal khas daerah tersebut berada di ambang kepunahan.

"Lebih gawat lagi, motif cual tapi dibatik. Sayang sekali kan, mencual yang tadinya merupakan keahlian mereka, tapi ternyata 95 persen perajin di Bangka sekarang tidak bisa membuat cual lagi," ungkap ketua Ikatan Perancang Mode Indonesia itu.

Maka, ketika 20 perajin menunjukkan diri untuk mengikuti program pelatihan sesi pertama yang berlangsung selama empat hari itu, Sjamsidar sangat mengapresiasi antusiasme mereka. Kehadiran mereka diharapkan dapat mengawali kebangkitan kain cual asli Babel.

Sjamsidar Isa menjelaskan program Pembinaan Perajin Tenun Cual Bangka yang diselenggarakan Cita Tenun Indonesia dengan dukungan Bank Rakyat Indonesia (BRI).Sjamsidar Isa menjelaskan program pembinaan perajin tenun cual di Bangka Belitung yang diselenggarakan CTI dengan dukungan BRI. (Foto: Daniel Ngantung/detikcom)

Didominasi perempuan, para peserta datang dari berbagai usia, muda dan tua, yang memberi harapan regenerasi.

"Semuanya semangat. Dan yang paling penting mereka percaya diri. Setiap kali kami melakukan pembinaan, saya selalu mendorong peserta untuk berani berbicara, berpendapat, dan kalau perlu mengkritik," kata Sjamsidar yang meski sudah berusia 80 tahun masih tetap antusias pula terjun ke lapangan untuk membina perajin.

Silabus pembinaan tahap pertama mencakup cara mewarnai benang, menghani (proses pembuatan helaian-helaian benang untuk dijadikan lungsi), dan menenun dengan alat tenun gedogan yang memiliki lebar 90 cm.

Motif Sederhana

Selesainya, peserta tak pulang dengan tangan kosong karena membawa pekerjaan rumah Tim CTI memberi mereka tugas membuat kain cual di rumah masing-masing, lalu hasilnya akan dievaluasi saat pertemuan berikut yang rencananya digelar pada Februari mendatang.

Adapun motif pada kain yang harus mereka buat sudah disederhanakan oleh Ratna Panggabean, perancang tekstil yang selama ini ikut membantu CTI.

"Meski hadir dalam versi yang simple, corak tetap harus menggambarkan karakter budaya lokal," ungkap dosen Desain Tekstil Fakultas Seni Rupa dan Desain Institut Teknologi Bandung (ITB) itu kepada Wolipop.

Program Pembinaan Perajin Tenun Cual Bangka yang diselenggarakan Cita Tenun Indonesia (CTI) dan Bank Rakyat Indonesia (BRI) di Pangkalpinang, Bangka Belitung, pada November 2025Program pembinaan perajin tenun cual di Bangka Belitung pada November 2025. (Foto: Dok. CTI)

Ia menjelaskan, motif cual Bangka sarat dengan pengaruh budaya Cina lewat kehadiran bentuk naga dan burung phoenix. Menariknya, ada sentuhan baroque dan rococo khas Eropa yang diduga Ratna menginspirasi pembuat tenun semasa kolonial.

Pada waktu itu, kata Ratna, tenun cual termasuk komoditas berharga sampai diminati oleh para 'nyonya' Belanda. Di luar itu, memakai kain cual yang indah dulu diyakini sebagai standar kecantikan para perempuan lokal, walau belakangan banyak pria yang mengenakannya.

"Artinya, kain cual bukan lagi kain adati. Karena mengikuti permintaan pasar, kain tersebut harus memiliki nilai estetis sekaligus ekonomis," terang Ratna.
Dalam tugasnya bersama CTI untuk mengulang kembali kejayaan cual, Ratna menawarkan enam desain dari hasil interpretasi ulangnya. Motif sawo, sirih, dan keluk yang berbentuk seperti gelombang.

Dengan begitu, kain akan lebih 'versatile', mudah dipadu-padankan atau diolah. CTI berencana menggandeng desainer mode Priyo Oktaviono untuk menggarap kain tersebut menjadi sebuah koleksi busana yang kekinian.

Sudah menjadi agenda wajib bagi CTI, kain hasil binaan akan dibawa ke panggung catwalk agar kreasi para perajin makin dikenal luas sekaligus untuk mengedukasi masyarakat.

Dengan memodifikasi kain, harganya dapat ditekan sehingga lebih terjangkau tanpa mengurangi kualitas yang sesuai standar CTI.

Kain cual yang asli biasanya dijual di atas Rp 10 juta. Jika produk laris manis terjual, tentu para perajin sendiri yang diuntungkan.

Komitmen Bersama Dukung UMKM

Oleh karena itu, selain hal teknis, peserta juga perlu mempelajari kiat-kiat dasar pemasaran. Menurut Sjamsidar, itu penting sebagai bagian dari pembelajaran untuk menjadi pelaku usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) yang mandiri.

Ia pun bersyukur mendapat mitra seperti BRI yang memiliki kesamaan visi dan misi dalam mendukung pemberdayaan UMKM. Menurutnya, upaya membina perajin membutuhkan niat yang kuat agar hasil yang dicapai benar-benar tepat sasaran. Tak cuma warisan budaya yang terlestarikan, tapi juga ekonomi rakyat khususnya di daerah-daerah terpencil semakin kuat.

"Kalau mau mengangkat perajin dan UMKM, harus sungguh-sungguh. Tidak bisa sekali dua kali datang ke daerah untuk membuat pelatihan," ujar dia. Program pembinaan CTI di setiap daerah biasanya terdiri dari 4-5 kunjungan untuk memastikan kesiapan dan kematangan peserta.

Komitmen tersebut pun senada dengan semangat 'Satu Bank Untuk Semua' yang diusung sebagai tema ulang tahun ke-130 BRI.

Program Pembinaan Perajin Tenun Cual Bangka yang diselenggarakan Cita Tenun Indonesia (CTI) dan Bank Rakyat Indonesia (BRI) di Pangkalpinang, Bangka Belitung, pada November 2025Tim CTI bersama peserta program pelatihan perajin tenun cual Bangka. (Foto: Dok. CTI)

Bentuk dukungan untuk UMKM salah satunya direalisasikan bank berplat merah ini melalui penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR). Hingga akhir September 2025, BRI telah mencatat penyaluran KUR sebesar Rp130,2 triliun kepada 2,84 juta debitur, atau setara 74,40 persen dari total alokasi KUR BRI tahun 2025 sebesar Rp 175 triliun.

"Kami percaya bahwa KUR bukan sekadar instrumen pembiayaan, tetapi katalis yang mampu menggerakan ekonomi rakyat. Dengan penyaluran KUR, BRI berupaya mendorong UMKM naik kelas sehingga kontribusinya terhadap perekonomian nasional semakin besar. Langkah ini merupakan peran BRI dalam memperkuat pertumbuhan ekonomi inklusif, dengan UMKM menjadi penopang utamanya," ungkap Direktur Utama BRI Hery Gunardi Hery Gunardi dalam keterangan tertulisnya.

Selain itu, BRI juga memiliki BRIncubator, yakni program pelatihan dan pendampingan yang ditujukan bagi UMKM binaan Rumah BUMN yang telah melalui proses kurasi. Direktur Mikro BRI Akhmad Purwakajaya menegaskan, BRIncubator merupakan wujud nyata komitmen BRI dalam membantu UMKM untuk berkembang dan naik kelas.

Adapun, tujuan berfokus pada peningkatan kapasitas dan kapabilitas pelaku usaha agar siap menembus pasar ekspor. "Melalui peningkatan literasi, digitalisasi, dan kemudahan akses, UMKM didorong untuk memperkuat daya saing dan menghasilkan nilai tambah di pasar," tuturnya.

(dtg/dtg)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Artikel Fokus Selanjutnya
Artikel Terkait
Detiknetwork
Hide Ads