Kategori Berita
Daerah
Layanan
Detik Network

Nuansa Indonesia Tanpa Wastra di Koleksi Baru Toton, Terinspirasi Wanita Aceh

Daniel Ngantung - wolipop
Jumat, 07 Nov 2025 19:30 WIB

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Toton the Label yang didirikan Toton Januar mempersembahkan koleksi Regang yang terinspirasi wanita Aceh di panggung Dewi Fashion Knights (DFK) 2025 dalam gelaran Jakarta Fashion Week (JFW) 2026.
Toton the Label yang didirikan Toton Januar mempersembahkan koleksi Regang yang terinspirasi wanita Aceh di panggung Dewi Fashion Knights (DFK) 2025 dalam gelaran Jakarta Fashion Week (JFW) 2026. Foto: Dok. JFW
Jakarta -

"Tell me you are Indonesian, without telling me you are Indonesian." Impresi tersebut yang muncul di benak saat menyaksikan peragaan koleksi busana Toton the Label di Jakarta Fashion Week 2026 baru-baru ini.

Toton Januar, sang desainer, menyuguhkan karya teranyarnya di panggung Dewi Fashion Knights (DFK) 2025, Sabtu (1/11/2025), bersama Auguste Soesastro dan Tangan Prive. Digelar di setiap penghujung JFW, DFK selalu menjadi klimaks di salah satu perhelatan penting dalam kalender mode Indonesia itu dengan keterlibatan para nama besar yang telah melalui kurasi sehingga pantas mendapat label 'kesatria mode'.

Bagi Toton, tahun ini menjadi DFK kelimanya. Ia pun membuktikan kepantasannya untuk kembali menyandang pengakuan tersebut dengan kepiawaiannya dalam mendesain busana kontemporer yang berpijak pada budaya Indonesia.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Toton the Label yang didirikan Toton Januar mempersembahkan koleksi Regang yang terinspirasi wanita Aceh di panggung Dewi Fashion Knights (DFK) 2025 dalam gelaran Jakarta Fashion Week (JFW) 2026.Koleksi 'Regang' persembahan Toton the Label di panggung Dewi Fashion Knights 2025 dalam gelaran Jakarta Fashion Week 2026. (Foto: Dok. JFW)

ADVERTISEMENT

Toton the Label didirikan pada 2012 sebagai jawaban Toton untuk mengakomodasi kebutuhan dan selera gaya perempuan Indonesia yang kian sophisticated atau individual.

Lulusan Parsons New School of Design, New York City, ini memberikan alternatif berbusana yang modern tanpa meninggalkan identitas dan kulturnya.

"Saya mencoba mengabstrasikan budaya Indonesia ke dalam busana, bagaimana aspek dan unsur budaya bisa melebur dengan keseharian sehingga bisa dipakai oleh perempuan modern," ungkap Toton jelang peragaan.

Beberapa tahun terakhir ini, Toton intens merealisasikan konsep tersebut dengan kain tradisional. Namun di DFK 2025 yang mengusung tema 'Nusantara', pria kelahiran Makassar, Sulawesi Selatan, itu mencoba pendekatan yang berbeda.

Toton the Label yang didirikan Toton Januar mempersembahkan koleksi Regang yang terinspirasi wanita Aceh di panggung Dewi Fashion Knights (DFK) 2025 dalam gelaran Jakarta Fashion Week (JFW) 2026.(Foto: Dok. JFW)

Alih-alih bermain 'aman' dengan mengaplikasikan wastra, ia justru menghindarinya. Pilihan tersebut sekaligus menawarkan perspektif lain dari bagaimana budaya Indonesia, dalam konteks ini kain tradisional, diinterpretasikan ke dalam pakaian yang relevan dengan kebutuhan pasar dan perubahan zaman.

Seperti yang dikatakan Toton bahwa busana yang mencerminkan budaya Indonesia semestinya tak terbatas pada pemakaian kain tradisional.

Masih banyak yang bisa digali untuk referensi dan inspirasi, mulai dari siluet, potongan, dekorasi yang menghiasinya, bahkan karakter pemakainya sendiri.

Wawasan tersebut hanya bisa diperoleh bila seorang desainer memiliki kerendahan hati untuk terus membuka wawasannya. "Kadang semakin banyak belajar, malah kita semakin banyak nggak tahunya," ujar Toton.

Toton the Label yang didirikan Toton Januar mempersembahkan koleksi Regang yang terinspirasi wanita Aceh di panggung Dewi Fashion Knights (DFK) 2025 dalam gelaran Jakarta Fashion Week (JFW) 2026.(Foto: Dok. JFW)

Kali ini, ia terilhami oleh watak tangguh para perempuan Aceh. Bukan tanpa alasan karena memang banyak wanita pahlawan kita saat masa penjajahan berasal dari Tanah Rencong. Sebut saja Laksamana Malahayati, Cut Nyak Dien, Cut Nyak Meutia, dan masih banyak lagi.

Dengan tajuk 'Regang', Toton kemudian mengemasnya dengan nuansa emas yang sumber inspirasinya datang dari sejarah Sumatera sebagai Swarnadwipa yang dalam bahasa Sanskerta berarti Pulau Emas karena kemakmurannya.

Koleksi ini menampilkan kebaya panjang, baju kurung berpeplum, serta tailoring bernuansa militer yang dikombinasikan dengan material daur ulang dan pewarnaan tangan, menciptakan tafsir baru tentang kekuatan. Beberapa di antaranya hadir dengan bawahan rok berdraperi seperti sarung yang menjuntai.

Toton juga kembali bereksplorasi dengan material keramik yang merupakan kelanjutan dari koleksi sebelumnya. Potongan keramik disatukan menjadi semacam mosaik yang dipakai sebagai korset, ataupun hiasan kepala.

Toton the Label yang didirikan Toton Januar mempersembahkan koleksi Regang yang terinspirasi wanita Aceh di panggung Dewi Fashion Knights (DFK) 2025 dalam gelaran Jakarta Fashion Week (JFW) 2026.(Foto: Dok. JFW)

Dekonstruksi dari pakaian adat wanita Aceh, yang umum dikenal dengan nama Daro Baro, ini kian menarik dengan penataan kerudung dan selendang yang asimetris.

Riasan wajah menjadi statement tersendiri. Pulasan berwarna emas dipadu headpiece senada yang mencakup bentukan baru dari suntiang atau pelindung kepala bergaya etnik semakin mempertegas bahwa koleksi ini pantas disebut sebagai wearable-art.

Toton the Label yang didirikan Toton Januar mempersembahkan koleksi Regang yang terinspirasi wanita Aceh di panggung Dewi Fashion Knights (DFK) 2025 dalam gelaran Jakarta Fashion Week (JFW) 2026.Desainer Toton Januar, pendiri Toton the Label usai mempresentasikan koleksi 'Regang'. (Foto: Dok. JFW)

(dtg/dtg)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Artikel Fokus Selanjutnya
Artikel Terkait
Detiknetwork
Hide Ads