Di Balik Pesona Ulos: Tantangan Perajin dan Upaya Revitalisasi

Daniel Ngantung - wolipop Jumat, 15 Okt 2021 21:35 WIB
Salah satu kerajinan khas Toba yang paling dikenal masyarakat adalah kain tradisionalnya yang bernama Ulos dan Sarung Batak. Intip proses pembuatannya yuks. Kain ulos dari Sumatera Utara. (Foto: Pradita Utama)
Jakarta -

Jika Jawa terkenal dengan batiknya yang sarat filosofi, dan Palembang mempunyai songket emasnya yang menawan, suku Batak di Sumatera Utara identik dengan kain ulosnya yang tak kalah memesona. Namun, ulos bisa terancam punah jika tidak segera dilakukan upaya revitalisasi serius yang melibatkan banyak pihak.

Seperti halnya batik atau songket, ulos termasuk salah satu wastra Nusantara yang sarat dengan nilai-nilai budaya. Tak heran bila pada 17 Oktober 2014, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) akhirnya menetapkan kain yang dibuat dengan teknik menenun ini sebagai warisan budaya tak benda Indonesia. Setahun kemudian, tanggal tersebut diresmikan sebagai Hari Ulos Nasional.

Terlepas dari pengakuan pemerintah, industri kerajinan ulos masih dibayangi sejumlah masalah yang menghambat usaha pelestariannya.

Dalam diskusi budaya yang digelar secara virtual untuk merayakan Hari Ulos Nasional, Jumat (15/10/2021), Bupati Dairi Eddy Keleng Ate Berutu menyebut menurunnya minat partonun atau perajin ulos untuk menenun menjadi salah satu tantangan.

"Di Kabupaten Dairi, masalah yang sudah bertahun-tahun adalah para perajin kami hidupnya datar dari tahun ke tahun. Mereka hidup pra-sejahtera sehingga kami khawatir perajin akan meninggalkan profesi tersebut dan beralih ke sektor pertanian," ungkap Eddy.

Salah satu kerajinan khas Toba yang paling dikenal masyarakat adalah kain tradisionalnya yang bernama Ulos dan Sarung Batak. Intip proses pembuatannya yuks.Perajin kain ulos (Foto: Pradita Utama)

Kesulitan perajin untuk mendapat sumber pendanaan juga disoroti Eddy. Menurutnya, banyak perajin berhenti berproduksi karena tak memiliki dukungan pembiayaan. "Bunga pinjaman yang tinggi sangat memberatkan perajin," katanya.

Tantangan lain adalah keterbatasan bahan baku. Di Dairi, para perajin mulai dibiasakan untuk menggunakan pewarnaan alami seperti mengkudu agar lebih ramah lingkungan. Hanya saja, perajin kerap kehabisan mengkudu karena proses tumbuhnya yang memakan waktu yang cukup lama.

Pelestarian ulos juga terkendala pemasaran. Selama ini, perajin masih bergantung pada tengkulak yang membuat mereka tak memiliki daya untuk menunjukkan produk berkualitas baik harus diimbangi dengan harga yang baik.

Program yang sudah dilanjakan sebagai solusi, salah satunya diversifikasi produk. Ulos yang tadinya hanya untuk seremoni adat dan ritual dikembangkan dengan desain yang baru tanpa meninggalkan unsur kearifan lokal. "Kami mengundang desainer untuk live-in dan memberikan pelatihan kepada perajin lokal," terang Eddy.

Salah satu kerajinan khas Toba yang paling dikenal masyarakat adalah kain tradisionalnya yang bernama Ulos dan Sarung Batak. Intip proses pembuatannya yuks.
Foto: Pradita Utama


Pemerintah Kabupaten Diari turut dibantu oleh Tobatenun, perusahaan berbasis komunitas yang memiliki misi utama revitalisasi ragam tekstil nusantara yang hampir punah, khususnya ulos.

Sadar akan potensi ulos untuk dapat bersaing di pasar nasional maupun mancanegara, Tobatenun dengan kampanye budaya "Bangga Bertenun Bangga Berbudaya" mengadakan berbagai kegiatan seperti program pendampingan perajin tenun, memanfaatkan sumber daya alam untuk produksi tenun serta membuat sebuah platform distribusi tenun Sumatera Utara yang terkurasi melalui situs resminya.

"Kami berharap, melalui program kerja yang telah dan akan dilakukan dapat memperkuat ekosistem kain ulos dan para pelakunya. Serta melalui berbagai rangkaian program kerja Tobatenun terus berupaya untuk mendukung industri berbasis tradisi, budaya, dan komunitas," ujar Pendiri sekaligus CEO PT Toba Tenun Sejahtra Kerri Na Basaria.


Mengajak mitra strategis untuk bersama melestarikan ulos, Tobatenun sebelumnya juga telah melakukan kerja sama dengan Kementerian Ketenagakerjaan Republik Indonesia (Kemnaker).

Salah satu kerajinan khas Toba yang paling dikenal masyarakat adalah kain tradisionalnya yang bernama Ulos dan Sarung Batak. Intip proses pembuatannya yuks. Foto: Pradita Utama

Kemnaker melalui Direktorat Jenderal Pembinaan Penempatan Tenaga Kerja dan Perluasan Kesempatan Kerja (Ditjen Binapenta, Ditjen Binalavotas, dan PKK) dan Tobatenun berkomitmen memberdayakan para perajin ulos di Toba.

"Kerjasama antara Kemnaker dengan Tobatenun ini adalah perwujudan dari program perluasan kesempatan kerja yang dimiliki Kemnaker untuk melatih, membina dan manajemen pemasaran para perajin ulos di sekitar danau Toba. Kemenaker bersama Tobatenun merancang roadmap usaha yang dapat menguntungkan dan memberikan dampak kesejahteraan kepada UMKM Ulos" ujar Dita Indah Sari, Staf Khusus Kementerian Ketenagakerjaan RI.



Simak Video "Jerit Perajin Dibalik Keindahan Kain Ulos Khas Batak"
[Gambas:Video 20detik]
(dtg/dtg)