Zara Terancam Diboikot Akibat Komentar Desainer Soal Anti-Palestina

Hestianingsih - wolipop Jumat, 18 Jun 2021 13:15 WIB
Toko Zara Toko Zara. Foto: Getty Images/tupungato
Jakarta -

Zara mendapat kritikan keras akibat komentar salah satu desainernya terkait Palestina. Kini banyak netizen menyerukan boikot terhadap brand asal Spanyol itu.

Vanessa Perilman, desainer dari divisi pakaian wanita Zara, mengirimkan pesan lewat direct message (DM) ke Instagram Qaher Harhash, model berdarah Palestina. DM itu merupakan respons Vanessa terhadap konten pro-Palestina yang sebelumnya diunggah Qaher.

"Mungkin jika orang-orangmu berpendidikan mereka tidak akan meledakkan rumah sakit dan sekolah yang Israel bantu bayar pembiayaannya di Gaza. Orang Israel tidak mengajarkan anak-anak untuk membenci atau melempar batu ke tentara seperti yang kalian lakukan," tulis Vanessa dalam tangkapan layar Instagram Story Qaher Harhash pekan lalu, seperti diberitakan CNN.

Komentar Vanessa membuat netizen geram. Sebab belum ada sebulan yang lalu, terjadi konflik berdarah selama 11 hari antara tentara Israel dan militan Palestina, Hamas, yang memakan ratusan korban dari pihak Palestina.

[Gambas:Instagram]



Vanessa juga menulis kalau dia tidak akan pernah berhenti untuk membela Israel. Sang desainer juga menuding Qaher telah mengunggah 'sirkus omong kosong yang dibuat media'.

Pesan teks itu pun jadi viral dan membuat Vanessa banjir hujatan oleh netizen. Dia bahkan menerima ancaman yang ditujukan ke anak-anaknya sehingga memaksanya untuk minta maaf.

"Saya minta maaf jika perseteruan ini telah memulai sesuatu yang lebih dari seharusnya tapi sekarang sudah kelewat batas. Saya menerima ancaman pembunuhan terhadap anak-anak saya," tulisnya.

Vanessa kemudian mengaku kalau pesan-pesan yang dikirimkannya ke Qaher sangat buruk dan mengerikan. Ia pun meminta maaf.

"Ini bukan diri saya yang sebenarnya. Saya sungguh minta maaf. Saya harap kamu bisa memaafkan saya," tulis Vanessa lagi yang akun Instagram-nya kini sudah dihapus.

Pihak Zara telah menanggapi kontroversi seputar karyawannya dan telah mengambil tindakan. Namun mereka tidak menyebutkan secara jelas konsekuensi seperti apa yang akan diterima Vanessa terkait ujaran kebenciannya terhadap Palestina.

"Zara tidak menerima penghinaan terhadap setiap budaya, agama, negara, ras dan kepercayaan. Zara merupakan perusahaan yang menjunjung tinggi keberagaman dan kami tidak akan menoleransi diskriminasi dalam bentuk apapun," demikian pernyataan dari juru bicara Zara yang diterima CNN, Rabu (16/6/2021).

Zara juga menegaskan sikap Vanessa bukanlah refleksi dari prinsip perusahaannya. Mereka pun menyesali ujaran kebencian itu datang dari salah satu staf di tempatnya.

"Sebagai perusahaan multikultural, kami berkomitmen memastikan lingkungan kerja yang adil dan beragam sebagai bagian dari nilai yang dianut perusahaan," tutup Zara.

(hst/hst)