Makna Batik Go Tik Swan yang Jadi Google Doodle Hari Ini

Daniel Ngantung - wolipop Selasa, 11 Mei 2021 13:00 WIB
fashion show Iwan Tirta di fairmount Hotel Jakarta Ilustrasi membatik (Foto: Agung Pambudhy)
Jakarta -

Sulit rasanya bila membahas perkembangan batik Indonesia tanpa mengungkit sosok K.R.T. Hardjonagoro alias Go Tik Swan. Dikenal sebagai maestro batik, sosoknya tak cuma berpengaruh di bidang fashion, tapi juga menjalar ke spektrum seni lain, seperti tari dan patung.

Hari ini, Selasa (11/5/2021), bertepatan dengan hari jadi Go Tik Swan. Pria berdarah Tionghoa ini lahir di Solo, Jawa Tengah, pada 11 Mei 1931 dan wafat pada 5 November 2008. Jika masih hidup, beliau genap berusia 90 tahun.

Sebagai bentuk penghormatan, Google Indonesia pun menjadikan Go Tik Swan sebagai Google Doodle hari ini.

Ia menjelma dalam bentuk karakter sepuh yang berpakaian beskap lengkap bak pria keraton seperti sedang mengibarkan lembaran kain batik bernuansa cokelat.

Google Doodle K.R.T. Hardjonagoro atau Go Tik SwanGoogle Doodle K.R.T. Hardjonagoro atau Go Tik Swan (Foto: Google Indonesia)

Kain tersebut dihiasi motif klasik batik Jawa yang di antaranya membentuk kata 'Google'. Tidak ketinggalan motif batik berbentuk dua burung yang sedang bertengger di dahan.

Burung tersebut diyakini merepresentasikan Sawunggaling, motif yang dipopulerkan oleh Go Tik Swan.

Nama Sawunggaling berasal dari kata 'sawung' yakni, ayam jantan, dan 'galing' yang berarti merak jantan. Menurut catatan situs Info Batik, motif ini dibuat oleh seorang penata wayang bernama Ngabehi Atmo Supomo. Ia lalu memberikan motif tersebut kepada Go Tik Swan yang pada 1950-an pernah diminta Presiden Soekarno membuat batik nasional 'Batik Indonesia'.

Di tangan dinginnya, motif tersebut mendapat tampilan baru seperti burung phoenix yang dalam budaya China kuno dipercaya memiliki kemampuan menduplikasikan diri. Adapun motif ini dimaknai sebagai simbol keindahan, kekuatan, dan ketegaran.

Motif Sawunggaling versi Go Tik Swan pun semakin dikenal luas dan menginspirasi banyak orang, khusus para penerusnya dalam seni membatik seperti Iwan Tirta.

Dulu, Iwan Tirta pernah berguru pada Go Tik Swan selama hampir 10 tahun dari era 1960-an. Berkat arahan artistik Go Tik Swan, Iwan yang merupakan seorang Sarjana Hukum dan memiliki darah Minang juga menjadi seorang maestro batik.

Banyak motif batik buatan Iwan Tirta yang terinspirasi oleh sang guru, salah satunya sawunggaling. Direktur Kreatif Iwan Tirta Private Collection, Era Soekamto, pernah mengangkat motif tersebut dalam koleksi bertajuk 'Mata Guru' pada akhir 2019.

fashion show Iwan Tirta di fairmount Hotel JakartaKoleksi 'Mata Guru' dari Iwan Tirta Private Collection. (Foto: Mohammad Abduh/Wolipop)

Sawunggaling Go Tik Swan memang tak kehilangan pesonanya bahkan sampai saat ini. Desainer senior Edward Hutabarat pun mendapat ilham darinya.

Hampir dua dekade lebih Edo bergelut dengan berbagai jenis batik yang umumnya berasal dari Jawa. Salah satu momen yang paling berkesan terjadi saat ia bertamu ke rumah maestro batik Go Tik Swan di Solo, Jawa Tengah, beberapa tahun lalu.

Pria berdarah batak ini terkagum dengan dua lembar kain batik motif Sawunggaling bernuansa biru dan ungu yang tengah digantung.

Karya Go Tik Swan tersebut dimaknainya sebagai pengingat agar tak sembarang dalam membuat motif batik. "Maka dari itu, desainer muda harus hati-hati mengolah batik. Batik itu diciptakan untuk leluhur dengan doa dan seremoni suci," katanya.



Simak Video "Cara Siswa SMP Ciamis Sambut Hari Batik Nasional"
[Gambas:Video 20detik]
(dtg/dtg)