Kemewahan Tenun Tanimbar di Koleksi Premium Didiet Maulana

Daniel Ngantung - wolipop Jumat, 27 Nov 2020 14:15 WIB
Tenun Tanimbar Didiet Maulana Koleksi Romansa Tanimbar rancangan Didiet Maulana. (Foto: Dok. Didiet Maulana)
Jakarta -

Sulit untuk membantah keindahan Timur Indonesia. Tak cuma alam, tapi juga warisan budayanya. Dari sebuah pulau kecil nun jauh di antara Timor Leste dan Papua, terpancar pesona tenun ikat Tanimbar. Kecantikan wastra Nusantara ini diangkat oleh desainer Didiet Maulana di koleksi teranyar untuk label premiumnya, Svarna by IKAT Indonesia.

Romansa Tanimbar, demikian Didiet Maulana memberi tajuk koleksi tersebut. "Ini bentuk sebuah cinta dari keromantisan Indonesia. Di setiap keberagaman, ada cinta. Kita harus belajar bertoleransi dan mengerti satu sama lain," ungkap Didiet saat jumpa pers virtual, Kamis (26/11/2020).

Cinta itu yang Didiet rasakan saat berinteraksi dengan para 'mama' perajin tenun di Kepulauan Tanimbar, Maluku Tenggara Barat. Kehangatan serta semangat mereka untuk menenun dan melestarikan tenun sebagai warisan leluhur yang menurut Didiet menjadi daya tarik tersendiri, selain dari motif-motif tenun Tanimbar yang sarat makna.

Tenun Tanimbar Didiet MaulanaTenun Tanimbar Didiet Maulana Foto: Dok. Didiet Maulana

Ini adalah kali pertama Didiet menggarap tenun karya perajin di Tanimbar. Oleh Bank Indonesia, desainer yang fokus mengangkat keragaman kain tradisional ini diminta untuk membina para penenun di Tanimbar.

"Kami melakukan beberapa kali kunjungan ke Tanimbar setelah riset pertama kami Agustus tahun lalu. Terakhir ke sana itu pas Valentine, Februari 2020, sebelum terjadi pandemi. Jadi pas banget, saya merayakan hari kasih sayang bersama para mama di sana," kata Didiet tersenyum.

Sejatinya, koleksi Romansa Tanimbar dijadwalkan hadir pada Maret lalu tapi terpaksa diundur karena pandemi COVID-19. Rencananya pula, koleksi ini juga bersinergi dengan tur konser Glenn Fredly di sejumlah kota di Indonesia bagian timur. Namun, Glenn terlebih dulu berpulang pada awal April.

Tenun Tanimbar Didiet MaulanaTenun Tanimbar Didiet Maulana Foto: Dok. Didiet Maulana

"Lewat konser ini, kami punya misi untuk memotivasi para ibu-ibu di Timur. Kami para seniman memakai tenun dari sana. Tapi Tuhan berkehendak lain," kata Mutia Ayu, istri mendiang Glenn Fredly, di kesempatan yang sama. Didiet pun mendedikasikan koleksi ini bagi sahabatnya, Glenn.

Meski di luar rencana, Didiet tetap bersyukur karena koleksi ini tetap membawa rasa sukacita tersendiri bagi para perajin. Begitu pula yang dirasakan oleh Mama Liur, salah satu perajin yang terlibat dalam pembuatan koleksi Romansa. "Kami lagi senang dan bangga karena melihat hasil karya kami menjadi gaun-gaun yang cantik. Kami jadi semakin semangat untuk terus menenun," ungkap Mama Liur yang juga hadir di pertemuan virtual ini.

Tenun Tanimbar Rasa Bespoke

Berbeda dari tenun lain yang lebih dulu populer, produksi tenun Tanimbar masih berskala kecil. Kain yang dihasilkan pun terbatas.

Itu mengapa Didiet mengolah tenun tersebut untuk label premiumnya yang hanya menawarkan busana bespoke atau made to order alias dibuat khusus untuk sang pemakai. Berbeda dari koleksi busana siap pakai (ready to wear) yang membutuhkan setidaknya ratusan meter kain untuk satu motif saja.

Berlanjut di halaman berikutnya...

"Kami tidak mau memaksa mama-mama perajin menenun ratusan meter kain. Biarkan mereka membuat satu, lalu kami olah," kata Didiet.

Tenun Tanimbar kian terasa eksklusif setelah diolah menjadi 12 pilihan busana berpotongan elegan di tangan Didiet. Muncul atasan bersiluet A-line dalam nuansa kemerahan, blus biru dengan lengan bervolume, serta blazer panjang yang dikombinasikan dengan material lain seperti lurik.

Tenun Tanimbar Didiet MaulanaTenun Tanimbar Didiet Maulana Foto: Dok. Didiet Maulana

"Saya banyak menghadirkan siluet yang loose karena terinspirasi dari para wanita Tanimbar yang tetap bebas bergerak meski berbalut tenun," kata lulusan Universitas Parahyangan jurusan Arsitektur ini.

Melengkapi koleksi tersebut, terdapat pula pilihan masker premium yang dibanderol seharga Rp 750 ribu. Salah satunya masker Latuihamallo yang namanya diambil dari nama keluarga Glenn Fredly.

Vander Christian, selaku pegiat komunitas traveling asal Maluku yang bernama Baronda, berharap koleksi Romansa dapat menumbuhkan rasa bangga bagi para pemuda-pemudi Tanimbar. Peran mereka sangat dibutuhkan pula untuk memastikan kelangsungan wastra ini.

"Kalau beta melihat, tenun Tanimbar tidak menghilang, masih diingat anak-anak mudanya. Tapi tidak menutup kemungkinan akan menghilang jika dilihat hampir semua penenunnya sudah berusia tua. Tidak ada regenerasi," katanya.

Tenun Tanimbar Didiet MaulanaTenun Tanimbar Didiet Maulana Foto: Dok. Didiet Maulana

Menurut Vander, setidaknya harus ada sinergi antara para perajin dan anak muda demi menjaga kelestarian warisan budaya tersebut. "Mama-mama yang membuat kain, anak-anak muda yang mempromosikannya lewat media sosial," kata pria yang akrab disapa Bung Vander itu.

Tenun Tanimbar sebelumnya sudah pernah eksis di mancanegara. Pada 2017, desainer Wignyo Rahadi dan Chossy Latu pernah memamerkan koleksi dari tenun Tanimbar di Kedutaan Besar Republik Indonesia di Tokyo.

(dtg/dtg)